
Belalang
"Hai Raya, kemarin aku sibuk sekali karena ada pekerjaan yang harus ku selesaikan. Hari ini libur, kau akan pergi kemana?"
Senyum Raya mengembang, akhirnya Belalang menyapanya melalui email.
Raya
"Aku kira kau akan menghilang karena seharian tidak mengabariku sama sekali! hari ini aku di rumah menghabiskan waktu membaca novel sambil jaga toko kue ibu"
Belalang
"Ahhhaa kau mulai rindu padaku? aku ada meeting panjang dan acara keluarga jadi tidak sempat mengabariku, maaf Raya"
Raya
"Acara keluarga? apa pertemuan dengan wanita calon istrimu?"
Raya teringat kemarin siang kata Lisa Aska juga ada acara keluarga. Lisa bilang Aska akan di jodohkan dengan perempuan yang setara dengannya.
Belalang
"Tidak, hanya makan siang bersama orangtua dan sahabat orangtuaku yang baru tiba dari jauh. Kenapa ku bisa memiliki pemikiran jika aku akan di jodohkan?" ( emoticon tertawa).
Raya
"Karena kau seperti si tuan muda"
Belalang
"Tuan Aska maksudmu? ada apa dengannya? apa kau sedih lagi karenanya?"
Raya
__ADS_1
"Ia juga sama sepertimu, kata teman sekantorku Aska pulang lebih awal karena ada pertemuan keluarga. Gosip yang beredar di kantor ia akan di jodohkan dengan perempuan yang setara dengannya"
Belalang
"Oh jadi begitu, kau sedih karena ia akan di jodohkan?"
Raya
"Tidak..!"
Belalang
"Apa ini jawaban jujur? "
Raya
".......tidak juga"
Belalang
Raya terdiam sesaat, ia mencerna email dari Belalang. Benar juga jika Raya memberikan nomor ponselnya pada Belalang mereka bisa saling menelpon dan leluasa bercerita kapanpun.
Tapi kenapa Raya berdebar membayangkan ia akan mendengarkan suara Belalang itu di telepon.
Belalang
"Jika kau keberatan tidak masalah, tidak perlu dipikirkan. Kita bisa tetap komunikasi melalui email saja seperti sekarang"
Raya
"Ini no ponselku ***********"
Belalang
__ADS_1
"Baiklah nanti aku akan menelponmu, sekarang aku harus pergi dulu ada sedikit urusan"
***
Aska menutup laptopnya dan berjalan keluar kamar. Tuan Bram Admaja sudah menunggu Aska di ruang kerjanya di lantai dua rumahnya.
"Papa memanggilku?"
"Duduklah, papa mau bicara padamu Aska"
Aska duduk di kursi depan meja kerja papanya. Ia nampak kurang leluasa jika berbicara dengan papanya. Banyak perbedaan sikap diantara mereka yang menjadi dinding pembatas antara ayah dan anak.
"Kau sudah dewasa Aska, kau juga baik dalam memimpin perusahaan. Papa akui anak lelaki papa ini memang cerdas dalam bekerja"
Aska terdiam, pasti bukan Masalah pekerjaan yang akan di bahas papanya. Aska menunggu inti pembicaraannya dengan papanya.
"Kau ingat Sara?"
"Sara anaknya tuan Lucas?"
"Benar Aska, kau masih mengingatnya. Sara akan kembali dari Amerika lusa, kau bisa bertemu dengannya?"
"Untuk apa pa?"
"Kalian bisa berteman seperti dulu waktu kalian masih kecil"
"Pa...temanku banyak untuk apa aku berteman dengannya?"
"Aska, papa mau dengar ketika Sara pulang kau mengajaknya makan siang bersama. Pesawatnya akaan mendarat sebelum jam makan siang"
Aska berdiri dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan ruang kerja tuan Bram.
Bukan komunikasi seperti ini yang Aska inginkan. Ia ingin membahas hobi atau hal menyenangkan lainnya dengan sang papa. Bukan selalu berakhir pemaksaan.
__ADS_1
Aska berjalan menuruni tangga menuju meja makan. Disana sudah terhidang menu kesukaannya. Mamanya sedang menikmati teh di halaman. Aska menatap mamanya dari kejauhan. Ia tidak tahu kenapa mamanya bisa sekuat itu menjadi wanita.