Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 70 Pingsan


__ADS_3

Siang itu Tan mengantar Raya ke pusat perbelanjaan. Raya berbelanja bahan masakkan dan beberapa perabot dapur. Raya merasa kepalanya berkunang-kunang. Ia berhenti sebentar dan wajahnya terlihat pucat.


"Nona anda kenapa?" Tan dengan sigap menjaga agar Raya tidak terjatuh. Ia memegangi lengan Raya.


"Tuan Tan kepalaku pusing sekali"


"Kita ke rumah sakit saja nona"


"Tidak....aku..." dan Raya pingsan. Tan bergegas membawa ya ke rumah sakit terdekat. Saat Raya di periksa Tan pergi ke kantor menjemput Aska. Karena ponsel Aska dibawa oleh Tan. Biasanya Tan lah yang menerima panggilan telepon dan membalas pesan dari ponsel Aska. Ponsel itu akan Tan serahkan kembali ketika Aska sudah berada di rumah.


Tan menaiki tangga darurat kantor karena lift sedang penuh. Ia bergegas menyusul Aska ke ruang meeting. Tan membuka pintu ruang meeting dengan napas sedikit tersengal. Ia berjalan perlahan mendekati kursi Presdir. Aska terdiam menunggu kabar apa yang di bawah oleh asistennya karena wajah Tan terlihat cemas.


"Tuan muda nona pingsan, saya membawanya ke rumah sakit" bisik Tan di telinga Aska.


Aska berdiri dari duduknya dan berjalan cepat keluar dari ruang meeting. Tan menutup meeting terlebih dahulu dan mempersilahkan yang berada di ruangan itu untuk kembali bekerja.


Tan berlari menyusul Aska yang sudah tiba di parkiran.


"Apa yang terjadi Tan?!"


"Maafkan saya tuan, saya lengah menjaga nona"


Aska melirik Tan dengan pandangan ingin menelannya bulat-bulat.

__ADS_1


"Aku memintamu menjaganya! kenapa bisa Raya sampai jatuh pingsan?!"


Tan menunduk tidak berani memandang Aska. Semua ini memang salahnya.


Aska masuk kedalam mobil, Tan mengemudikan mobil menuju rumah sakit dengan kecepatan di atas rata-rata. Wajah Aska terlihat panik tapi ia diam tidak banyak bertanya pada Tan.


Sesampainya di rumah sakit, keduanya langsung menuju kamar VVIP tempat Raya di rawat.


"Anda suami pasien?" tanya sang dokter.


"Benar, bagaimana kondisi istri ku?"


"Mari ikut saya...."


"Tuan, istri anda kelelahan dan anemia, ia juga dehidrasi. Aku sudah memberinya obat mungkin besok ia bisa pulang ke rumah"


"Baiklah.."


Aska lega sekali untung tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan pada Raya.


"Tan kembalilah ke kantor, aku akan menjaga Raya disini"


"Baik tuan"

__ADS_1


Raya siuman dan memandang Aska yang duduk di dekatnya.


"Sayang kau tidak bekerja?" tanya Raya sembari memegangi keningnya. Ia masih merasa pusing.


"Kau tadi pingsan, Tan mengabariku dan aku mendapatimu berada di sini. Kau membuatku takut" Aska memeluk Raya. Ia naik ke ranjang rawat dan memeluk istrinya itu. Aska benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada Raya. Ia tidak sanggup membayangkannya.


Raya tersenyum, dengan tangan yang di pasangi infus ia mengusap kepala Aska yang bersandar di dadanya.


"Aku tidak apa-apa, jangan cemas" kata Raya setengah berbisik.


Melihat Aska begitu mencemaskan dirinya Raya berjanji ia kan menjaga diri dengan baik. Ia tidak mau berpisah lagi dengan Aska. Mereka sudah melalui lika-liku untuk bisa bersama.


"Ehmmm!" Nyonya Ariani dan bibi Jang terlihat datang menjenguk Raya di rumah sakit.


"Mama? kenapa mama bisa kemari? apa Tan yang mengabari mama?" Aska bangun dan turun dari ranjang tempat Raya. Bibi Jang menggelengkan kepalanya. "Dasar anak muda!"


Aska memeluk mamanya lalu ia memeluk bibi Jang.


"Bibi syukurlah kau masih ada"


"Tuan muda apa maksudmu?"


"Maksudku kau masih ada untuk ku" Aska memang suka jahil pada bibi Jang.

__ADS_1


"Bibi aku merindukanmu" Aska memeluk bibi Jang dengan erat sementara nyonya Ariani terlihat berbicara dengan Raya.


__ADS_2