Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 202 Jawaban Naila


__ADS_3

Arsen tiba di perusahaan siang itu karena ada meeting urgent yang tidak bisa di wakili oleh Pitt. di tengah meeting panjangnya Arsen keluar ruangan untuk melakukan video call dengan mama Sara.


Pitt yang berdiri di belakang Arsen mengerutkan keningnya tidak biasanya Arsen melakukan video call di tengah jam meeting.


"Hai mam, bagaimana apa mama bosan menemani Naila?"


"Bosan apa? mama malah senang bisa menjaga Naila. lihat istrimu dia sedang tertidur tadi baru saja minum obat" mama Sara mengarahkan kamera ponselnya ke arah Naila yang sedang tertidur.


"Coba lebih dekat mam aku mau lihat wajah jeleknya itu"


Pitt yang mendengar menahan tawanya,


Anda masih saja gengsi tuan, bilang saja mau melihat nyonya...


Arsen tersenyum samar saat melihat wajah Naila yang tenang.


"Baiklah mam Arsen harus meeting dulu nanti setelah selesai Arsen langsung ke rumah sakit"


"Iya, oh ya tadi ada Hendra kemari"


Senyum lenyap dari bibir Arsen wajahnya menegang. ia berdiri dari duduknya.


"Mau apa dia?!"


"Hendra kan bekerja di rumah sakit ini, lagipula Hendra juga dokter keluarga kita kan?"

__ADS_1


Arsen mematikan ponselnya. ia geram sekali mendengar ada Hendra di rumah sakit yang sama dengan Naila.


"Pitt kenapa kau bawa Naila ke rumah sakit tempat Hendra bekerja?!" Arsen menarik kerah jas yang di kenakan Pitt.


"Saya juga tidak terpikir tuan karena panik saya mencari rumah sakit terdekat"


"Bodoh! apa meeting sialan ini tidak bisa di tunda?! kapan meeting ini akan selesai?!"


"Sabar tuan tiga jam lagi akan selesai dan anda bisa menandatangani berkas kerja sama dengan kolega kita"


"Tiga jam kau bilang?!"


Dalam waktu tiga jam Hendra bisa saja mendatangi ruang perawatan Naila, lalu dia mendekati gadis naif itu menawarkan kebaikan sampai Naila terkesima dengannya...sial!


Malamnya mama Sara pulang untuk beristirahat karena sebentar lagi Arsen akan datang menemani Naila.


Hendra menyempatkan diri untuk menjenguk Naila sebelum ia pulang ke rumahnya karena jam prakteknya sudah selesai.


"Kau baik-baik saja?" tanya Hendra yang duduk di sebelah ranjang Naila.


"Hmm aku tidak apa-apa hanya saja Arsen bersikeras untuk merawat ku disini"


"Arsen sangat mencemaskan mu" kata Hendra sembari tersenyum.


"Cemas apanya? seharian ia mengomel padaku"

__ADS_1


"Hahaha! Arsen memang begitu tapi aku tahu dan hafal sikapnya. ia tidak akan mau serepot ini jika ia tidak benar-benar mencemaskan mu"


"Benarkah?"


"Hmm... oh ya Nai boleh aku bertanya sesuatu?"


"Apa?"


"Apa kau mencintai Arsen?" tatapan Hendra lurus menatap mata Naila.


Naila menyembunyikan kegugupannya, ia tidak menyangka Hendra akan menanyakan hal itu.


"Maaf jika aku bertanya sesuatu yang tidak seharusnya tapi jika kau tidak mencintainya apakah ada peluang kalian akan berpisah?"


Naila terdiam mendengar orang lain mengatakan perpisahannya dengan Arsen ada rasa perih di hati Naila meski terkadang ia menginginkan hal itu tapi ada rasa takut jika itu akan terjadi.


Naila menggelengkan kepala, ia menghindari tatapan Hendra.


"Sejujurnya saat ini aku tidak berpikir akan berpisah darinya" jawab Naila.


Di balik pintu ruang perawatan yang sedikit terbuka Arsen berdiri mematung mendengarkan percakapan Naila dengan Hendra.


Senyum terlihat di bibir Arsen, ia berjalan pergi menuju taman rumah sakit. Arsen duduk seorang diri di bangku taman. pikirannya merekam kembali percakapan Hendra dengan Naila. pertanyaan tidak terduga dari Hendra dan jawaban yang juga tidak terbayangkan dari Naila membuat Arsen berpikir ulang tentang pernikahannya.


Pernikahan yang selama satu tahun terasa beku, Arsen ingin mencairkannya. hatinya cukup puas mendengar Naila tidak terpikir untuk pergi darinya.

__ADS_1


__ADS_2