Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 98 Yuki VS Kalila


__ADS_3

Aska menggelengkan kepalanya menghadapi sepupunya yang sejak dulu tidak berubah itu.


"Kenapa kau kembali dari Milan? seharusnya kau di sana saja, jadi aku tidak perlu di pusingkan dengan ocehan mu" Aska duduk di sofa ruang tamu. Ia sudah berada di rumahnya,


Raya yang juga baru bertemu dengan Kalila ikut heran. Ia pernah mendengar cerita tentang Kalila dari Aska. tapi masalahnya ia tidak menyangka jika ada wanita secantik ini bisa jatuh hati dengan kanebo kering seperti Tan.


"Kak Raya ayolah bantu aku membujuk kak Aska" Kalila merengek sembari memasang wajah memelas.


"Haha bagaimana ya Kalila, Kaka bingung masalahnya Kaka tidak tahu cerita hubungan kalian dari awal"


Aska mendelik ke arah Raya, ia tahu istrinya juga sedang menyelidiki hubungan Kalila dengan Tan. Ia pasti sedang mencemaskan ikatan dintara Yuki dengan Tan.


"Sudahlah, dulu kau meninggalkannya untuk karier mu bukan?" suara Aska membuat Kalila semakin lemas.


"Dulu aku belum siap kak, aku pikir ia akan menunggu ku kembali"


"Menunggu mu? kau mimpi? mana ada pria mau menunggu gadis seperti mu"


"Ah Kaka kenapa bicara begitu, ayolah kak Aska adalah harapan ku satu-satunya untuk membujuk Tan"


"Tidak mau, apa kau pikir Tan tidak memiliki gadis lain?"


"Hah jadi dia sudah punya gadis lain? pacar?!"

__ADS_1


"Tidak tahu!" Aska pusing meladeni rengekan Kalila, ia beranjak menuju kamarnya. Sementara Raya masih duduk mendengarkan keluh kesah Kalila dan alasan kenapa ia dulu menolak Tan.


Kalau di pikir-pikir aneh juga tuan Tan bisa jadi rebutan para gadis begini. Aku kira wanita akan malas mendekatinya.


"Kak Raya ayolah ..bantu aku ya, kalau sekarang aku sudah siap menikah dengan Tan. apa lagi dia semakin tampan" Kalila gemas membayangkan wajah Tan tadi siang saat bertemu di Admaja Group.


Belum selesai sesi curhat tiba-tiba Deniz menghampiri ibunya dan meminta gendong. Deniz dan Dizya sudah waktunya tidur.


"Ah Deniz, Dizya bisakah kalian beri aunty waktu untuk bicara dengan ibu kalian?" Kalila sudah seperti orang gila, ia bahkan merengek pada kedua bocah itu.


"Besok kita lanjutkan lagi ya.." kata Raya sembari tertawa tidak enak karena wajah Kalila sungguh memelas.


***


"Kak apa aku sudah terlihat cantik?" Kalila mematut diri di cermin ruang tengah rumah Aska.


"Kak apa Tan akan datang kemari?"


"Tentu saja"


Kalila tersenyum dan tersipu sendiri, Aska menatap sepupunya dengan heran.


Untung Raya tidak bertingkah seperti mu!

__ADS_1


"Kenapa? jangan bilang kau akan ikut ke kantor?"


"Benar kak, boleh ya aku ikut? aku bisa bantu-bantu pekerjaan kantor kog"


"Bantu-bantu? yang ada kau malah membuat semua jadi kacau"


"Jangan meremehkan ku ka, begini-begini aku juga tahu bisnis" Kalila masih kekeh. ia mengeluarkan seribu alasan agar bisa bersama Tan pagi ini.


Aska mengibaskan tangannya, ia jengah.


"Sayang...." Aska memanggil Raya untuk memasangkan dasi.


Aska meraih kursi kecil yang biasa di pakai raya sebagai pijakan jika memasang dasi untuk Aska. Karena tinggi mereka yang jauh berbeda jadi Raya memerlukan alat bantu kursi kecil itu.


Kalila tersenyum senang memandang Raya dan Aska yang begitu serasi. Ia bahkan sedang berkhayal memasang dasi untuk Tan. Tanpa ia sadari Kalila menaiki kursi kecil milik Raya dan tangannya seolah sedang memasang dasi untuk Tan.


"Bensr-benar gila....Kalila apa yang kau lakukan?!" suara bariton Aska membuyarkan lamunan indah Kalila.


"Ah kalian terlalu romantis aku jadi terbawa suasana..."


Raya menahan tawa Hinga perutnya sakit. Ia tidak habis pikir gadis cantik di hadapannya ini adalah sepupu Aska. keduanya sangat berbeda.


"Selamat pagi tuan muda..." seperti biasa Tan tiba tepat waktu. Ia sudah terlihat rapi dengan stelan jas hitamnya.

__ADS_1


"Tan...." Kalila langsung mendekati Tan. Ia menarik lengan Tan menjauh dari Aska dan Raya.


"Sudah sayang abaikan mereka" Aska merangkul bahu Raya sembari berjalan ke kamar anak-anak untuk berpamitan sebelum berangkat ke kantor.


__ADS_2