
Raya membulatkan tekadnya dan memberanikan diri menemui tuan besar di kantor. Tuan Hyuk yang menyambut kedatangannya.
"Hai Raya, ada apa? kenapa kau mau bertemu tuan Bram?"
Raya menarik napas dan membuat dirinya setenang mungkin. Tuan Hyuk yang melihatnya tersenyum. Ia cukup salut dengan gadis di hadapannya yang sungguh tangguh dan pemberani.
"Begini tuan, saya ingin menyampaikan sesuatu penting pada tuan besar"
"Baiklah, tapi jangan membuat kegaduhan ya. mood tuan Bram sedang tidak baik akhir-akhir ini"
Raya mengangguk paham. Ia mengikuti langkah tuan Hyuk menuju ruang kerja VVIP di perusahaan itu.
Raya menginjakan kakinya di ruangan kerja tuan besar. bukan ia tidak pernah bekerja di perusahaan, Raya bahkan sempat bekerja di salah satu perusahaan Admaja Group tapi baru kali ini ia melihat ruangan yang menakjubkan. AC terasa begitu dingin dan membuat Raya semakin gelisah. Tuan Bram yang terlihat tenang sembari sibuk dengan laptopnya tak juga menghiraukan kedatangan Raya.
Lama Raya berdiri disana tanpa bicara dan tanpa di tanya. Tuan Hyuk terdiam di sudut ruangan memperhatikan kedua orang itu.
"Maaf tuan, Raya datang ingin bicara pada anda" kata tuan Hyuk. Ia mungkin iba dengan Raya yang di perlakukan dingin oleh tuan Bram.
"Ada apa kau menemui ku? bukankah kau sudah mendapatkan putraku?"
"Maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud untuk memisahkan Tuan besar dengan putra tuan. Saya kemari untuk mengembalikannya pada tuan"
Tuan Bram menatap Raya dengan serius. Ia memandangi gadis polos di hadapannya yang sungguh berani itu.
"Bagaimana caranya?"
"Saya akan menjauh darinya, saya akan membuat tuan muda kesal dan marah pada saya sehingga ia tidak akan mau lagi menyebut nama saya"
Tuan Bram tersenyum dan melirik Hyuk.
"Apa ucapan mu bisa di pegang?"
"Tentu saja tuan, saya akan melakukannya"
"Baiklah Raya..."
"Saya permisi tuan"
"Tunggu! Raya katakan padaku apa yang membuatmu ingin menjauh dari Aska? bukankah kau sangat mencintainya?"
"Karena saya mencintainya saya tidak boleh egois. Tuan muda dan saya berbeda segalanya. Ia tidak akan bisa hidup dengan cara saya yaitu rakyat jelata. Saya tidak sanggup melihatnya kesulitan dan menderita. Meski tuan muda tidak mengatakannya pada saya, tapi saya bisa melihatnya"
Tuan Bram terdiam, Raya membuka handel pintu dan berjalan pergi.
__ADS_1
"Hyuk gadis itu sungguh manis sekali bukan? bodohnya mereka bermain-main denganku" tuan Bram tertawa geli.
***
"Raya?! kau membuatku kaget saja!" Aska baru saja tiba di rumah sewaannya. Ia melihat Raya berdiri dengan rambut panjang terurai di tempat gelap.
"Aku mau bicara" kata Raya dengan wajah tenang.
"Katakanlah, kau terlihat lelah? ayo kita masuk dulu"
"Tidak perlu, aku ingin kita menyudahi hubungan ini" kata Raya sembari memalingkan wajahnya.
Aska terkejut dan terpaku menatap Raya. Ia berharap telinganya salah mendengar ucapan Raya barusan.
"Apa maksudmu?" Aska mulai terpancing suasana. Ia menahan emosinya.
"Aku tidak mencintaimu tuan muda" kata Raya dingin.
"Hei kau kenapa?! apa kau kerasukan setan? apa yang kau katakan?"
"Tinggalkan aku, aku akan menikah dengan pria lain pilihan ku yang selama ini aku cintai"
"Raya! sial...... kau kenapa?!"
"Lihat dirimu tuan muda, kau sangat menyedihkan. Apa lagi yang bisa ku harapkan dari pria miskin seperti mu?"
"Kau bilang apa?! apa ayahku mengancam mu?!"
"Sama sekali tidak, aku mengatakan semua ini karena aku sudah muak dengan mu. Aku tidak lagi punya peluang untuk mendapat hartamu yang berlimpah. Jadi sebaiknya kuputuskan meninggalkanmu dan menikahi pria lain"
"Baiklah....baiklah jika itu mau mu! kau ...murahan!"
Raya tersenyum mendengar umpatan Aska. Hatinya hancur tapi ia tetap harus mengembalikan Aska pada keluarganya. Raya sudah berjanji pada tuan Bram.
"Aku puas melihatmu meninggalkan harta dan keluargamu demi aku. Aku sangat bahagia hahaha" Raya tertawa dramatis. Ia mengejek Aska yang sudah sangat marah.
"Selamat tinggal ...pecundang..." Raya melangkah pergi.
Aska berteriak dan melampiaskan marahnya. Ia masih tidak percaya yang bicara barusan adalah Raya. gadis lembut yang ia perjuangkan. Gadis yang ia sukai sejak di bangku sekolah menengah. Gadis yang tidak mungkin silau dengan harta. Aska merasa tersinggung dan sakit hati. Semua yang sudah ia lakukan untuk hubungannya dengan Raya kini percuma saja.
Malam itu Aska pulang ke rumahnya dalam keadaan mabuk. Tuan Hyuk memapahnya menuju kamar.
"Biarkan dia Hyuk" kata tuan Bram sembari mengajak Hyuk pergi dari kamar Aska.
__ADS_1
Ke-esokan paginya Aska terbangun dan mendapati dirinya berada di kamarnya sendiri di rumah keluarga Admaja. Bibi Jang masuk ke dalam kamar dan menyerahkan baju ganti untuk Aska. Bibi Jang sangat prihatin tapi tidak bisa berkata apa-apa.
Aska terdiam, ia tidak bicara pada siapapun sejak ia pulang ke rumahnya. Selesai mandi dan berganti pakaian Aska menemui ayahnya di ruang kerja.
"Selamat datang Aska...papa senang kau akhirnya sadar dan pulang ke rumah" Aska terdiam dengan wajah dinginnya.
"Pa, aku ingin bertunangan segera dengan...Shanon"
"Benarkah? tapi bagaimana dengan hubungan mu dan..."
"Sudahlah pa, Aska sudah mengambil keputusan. Jadi percepat saja tunangan itu sebelum Aska berubah pikiran"
"Oh tentu Aska, papa akan bicara pada keluarga Wang"
Aska pergi meninggalkan ruang kerja ayahnya. Ia berjalan kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya.
Seharian Aska tidak keluar dari kamarnya.
Shanon datang menemui Aska.
"Kenapa kalian bertengkar? kau meninggalkannya?" Shanon menatap lekat wajah Aska.
"Aku ingin bertunangan dengan mu, jika kau keberatan aku akan cari gadis lain"
"Aska apa maksudmu? pertunangan bukan sesuatu yang bisa di permainkan. Karena setelah itu akan ada ikatan pernikahan. Kau tidak bisa melakukannya dengan sembarangan gadis"
"Karena itu aku ingin melakukannya dengan mu"
"Kalau begitu buktikan jika kau memang menyukai ku dan sudah melupakan Raya!"
Aska terdiam dan memandang wajah Shanon. Sejujurnya ia menyimpan luka karena Raya. Gadis itu menolaknya setelah ia mati-matian memperjuangkannya.
"Kau tidak bisa membuktikannya bukan? karena kau masih mencintai Raya"
Aska meraih pinggang ramping Shanon dan ia mengecup bibir gadis itu hingga membuat Shanon terkejut. Aska semakin dalam menciumnya hingga Shanon menahan napasnya dan debar jantungnya mendadak jadi tidak beraturan.
"Apa ini cukup? atau aku harus nekat padamu baru kau percaya?"
Shanon berlari pergi meninggalkan kamar Aska. Ia berpapasan dengan tuan besar di depan pintu kamar Aska. Kemungkinan tuan Bram melihat kejadian tadi.
Konferensi pers diadakan di gedung utama Admaja Group. puluhan wartawan hadir dengan kameranya siap menunggu kedatangan Aska.
"Konferensi pers akan segera di mulai. Hanya ada pernyataan dari tuan muda Admaja dan tidak boleh ada pertanyaan" begitu kata Tan pada wartawan yang sudah berkumpul.
__ADS_1
bersambung......