
Kai sendiri tidak tahu kapan tepatnya ia di lahirkan. Hari, tanggal, bulan ia tidak tahu persis. Ibu panti yang memberinya tanggal ulang tahun sesuai dengan hari dan tanggal ia di terima di panti itu.
Orang yang pertama kali akan mengucapkan selamat ulang tahun dengan begitu haru adalah Raya ibu angkatnya yang begitu menyayanginya layaknya anak kandung sendiri.
Siang itu ponsel Kai sudah ramai dengan pesan singkat dari ibunya.
[Cepat datang ke rumah, mama sudah siapkan cake dan juga masakan yang banyak untuk menyambut ulang tahun anak sulung mama dan papa]
Begitu bunyi salah satu pesan dari sang ibu.
Hendra tak kalah sibuk, ia menyiapkan hadiah untuk di bagikan kepada karyawan Admaja Group karena pimpinan mereka sedang berulang tahun.
Siang itu Hendra di bantu Nara mengatur pembagian makanan dan bingkisan untuk para karyawan.
"Apa setiap tahun selalu seperti ini?" Tanya Nara sembari membawa beberapa kantong bingkisan menuju loby.
"Nona anda tidak perlu membantu saya mengangkatnya, cukup men-data saja"
"Tidak masalah sekretaris, aku senang dengan perayaan semacam ini, aku tidak menyangka jika tuan Kai begitu baik pada para karyawannya"
"Benar nona, tuan memang sangat baik meski ia kaku dan jutek" Hendra terkejut ia berani mengatai tuannya kaku dan jutek. Nara tertawa melihat penyesalan di wajah Hendra.
"Tenang sekretaris aku tidak akan mengadu pada tuan Kai"
"Terimakasih nona"
Setelah ini saya akan mengantar anda ke rumah nyonya Raya disana juga pasti sedang bersiap untuk merayakan pesta ulang tahun tuan Kai.
"Baiklah"
__ADS_1
Malam itu semua keluarga berkumpul di kediaman tuan Aska dan nyonya Raya. Ruang utama sengaja di percantik dengan bunga dan balon untuk menyambut Aska. Cake buatan nyonya Raya sudah di letakkan di tengah.
Nara malam itu nampak cantik dengan gaun pendek mengembang di bagian bawah. Gaun itu pemberian ibu mertuanya yaitu Raya.
"Kau sangat manis Nara, aku yakin Kai sangat mencintai mu" kata Raya sambil menata rambut panjang Nara.
Putera mu tidak mencintaiku nyonya, entah kenapa ia menikahi ku. Aku pun juga tidak mencintainya....
"Nyonya tuan Kai sudah tiba" kata Hendra.
"Ayo Nara kita turun" keduanya menuruni anak tangga. Terlihat di lantai utama Kai sedang bergurau dengan ayah dan adiknya.
Kai memandang ke arah tangga, ia terkesima melihat penampilan Nara.
"Selamat ulang tahun sayang" nyonya Raya memeluk putera sulungnya dengan haru.
"Selamat ulang tahun tuan...maksud ku sa ..sayang" kata Nara terbata karena nervous.
"Terimakasih, sayang..." Kai mengecup bibir Nara di hadapan seluruh keluarganya yang membuat jantung Nara hampir lepas dari porosnya.
Kalau bukan karena tertutup oleh makeup mungkin sekarang sudah terlihat wajah Nara pucat pasi.
Kenapa dia malah mencium ku? Di depan orang banyak! Apa-apaan ini?!
"Ayo kita potong kue nya" nyonya Raya mengajak semua untuk berkumpul mengelilingi kue besar buatannya.
Tuan Aska mengecup kening nyonya Raya. Mereka terharu bisa merayakan ulang tahun anak sulung mereka di tambah kehadiran seorang menantu.
"Tenang pa sebentar lagi akan ada seorang cucu" kata Raya tersenyum memandang Aska.
__ADS_1
"Hmmm pasti seru ya ma"
Pesta ulang tahun Kai di tutup dengan makan bersama seluruh anggota keluarga. Mata Deniz tak henti memperhatikan kakak iparnya yaitu Nara.
Kai yang menyadari hal itu segera mengajak Nara untuk menyingkir sebentar.
"Kenapa kau berdanan seperti ini?" Tanya Kai ketus. Ia tidak ingin Deniz semakin terpukau dengaan penampilan Nara malam itu.
"Mama yang memberiku gaun dan merias wajah ku"
Oh sial! Dia begitu cantik ....
"Lalu kenapa anda mencium ku di depan umum?"
Kai terlihat salah tingkah dan mencoba memalingkan wajahnya yang memerah.
"Itu bagian dari sandiwara, apa kau ketagihan?" Kai berjalan mendekati Nara yang membentur dinding. Jarak mereka hanya sejengkal tangan.
"Ada yang berdebar kencang disini, benar bukan?" Kai menunjuk dada Nara.
Wajah Nara sontak memerah, ia memejamkan matanya dan refleks mendorong tubuh Kai ke belakang.
"Kalian disini? ayolah kita lanjutkan main kartu bersama" Deniz tiba-tiba muncul.
"Kami harus pulang, lain kali saja main kartu nya. Bukan begitu Nara?" Kai melirik Nara tajam. Nara mengangguk membenarkan perkataan Kai.
Deniz jelas akan mengambil kesempatan untuk berlama-lama memandangi Nara.
Kai sadar adiknya juga jatuh hati pada gadis polos penjual bunga itu.
__ADS_1