
Nara baru saja dari rumah mertuanya. ibu mertuanya yaitu Nyonya Raya bilang besok adalah ulang tahun kakek.
"Kai jarang datang di ulang tahun kakek, Nara kau bisa membujuknya untuk datang?" kata-kata itu terngiang di pikiran Nara.
Bagaimana aku membujuknya? aku saja takut padanya. Aku selalu mendengarkannya tapi mana mungkin ia mau mendengar ku....
-Nara-
Nara tiba di rumah ia melihat mobil Kai sudah terparkir di halaman.
"Dia sudah pulang, aku terlambat!" Nara terlihat pasrah jika Kai akan marah padanya.
Nara memasuki rumah, sepi tidak ada orang di rumah utama. Nara menaiki anak tangga menyusul Kai ke ruang kerjanya. pintu ruang kerja Kai tidak tertutup rapat. Nara bisa mendengarkan pembicaraan Kai dengan sekretaris Hendra.
"Jadi Deniz memberikan pekerjaan pada Bastian di cabang Admaja Group?"
"Benar sekali tuan, saya lihat sendiri Bastian sudah mulai bekerja sebagai pimpinan di cabang Admaja Group"
"Beraninya Deniz menantang ku secara terang-terangan!" Suara Kai terdengar marah. Nara mengintip di balik pintu yang terbuka sedikit.
Kai memegang dan memainkan senpi di tangannya.
Keringat dingin Nara terlihat menghiasi keningnya.
"Bawa Bastian padaku besok aku akan menghabisinya sendiri jika ia berani mengganggu langkah ku!"
"Baik tuan"
__ADS_1
Kai melirik ke arah pintu, Nara bergegas menyingkir pelan-pelan dan menjauh dari ruang kerja Kai.
"Darimana kau, kenapa baru pulang?" tanya Kai dingin pada Nara. sisa kemarahannya pada Bastian dan Deniz masih terlihat jelas di sorot matanya.
"Saya dari tempat mama Raya"
"Pulanglah Hen, besok ada tugas besar menanti mu"
Hendra mengangguk dan berjalan pergi meninggalkan rumah Kai tanpa memandang Nara.
Nara hampir menggigil melihat tingkah kedua pria itu.
"Mama bicara apa?" Kai menarik tangan Nara untuk duduk di sofa.
"Hanya ngobrol biasa saja"
"Iya" Nara menyeka keringat dingin di dahinya.
Kai melepas dasinya dan membuka dua kancing kemeja putihnya.
Nara menggeser duduknya ke samping Kai yang terlihat bersandar di sofa dan memejamkan matanya.
"Mama bilang besok adalah ulang tahun kakek, apakah anda...."
"Aku tidak akan datang" Kai mendorong Nara hingga bersandar di sofa. Kai menindihnya dan menatap lekat bola mata Nara.
"Ma...maafkan saya" Nara meletakkan kedua telapak tangannya di dada bidang Kai mencoba mendorong laki-laki itu menjauh darinya.
__ADS_1
"Tapi apa boleh jika saya datang? saya tidak enak dengan mama Raya dan papa Aska"
"Terserah jika kau mau datang! sepertinya kau mulai berani membangkang ku!" Kai mendekatkan wajahnya ke wajah Nara. Ia suka sekali melihat mata Nara yang indah.
Sebelah tangan Kai menarik dress pendek Nara. Nara memejamkan matanya, tiba-tiba ponsel Kai berbunyi.
Sepertinya itu telepon penting karena Kai langsung mengabaikan Nara dan berjalan menjauh untuk menerima telepon.
Huft aku selamat......
Nara menghela napas dan bergegas pergi ke kamarnya sendiri. Ia mengunci pintu dan pergi mandi.
Selesai mandi dan berganti pakaian Nara kembali turun ke lantai utama untuk menyiapkan makan malam. Kai terlihat tertidur di sofa.
"Kenapa malah tidur disini?" gumam Nara. Ia mendekati wajah Kai dan tersenyum sembari menyentuh ujung hidung Kai dengan jemarinya.
"Hidung yang mancung" gumam Nara sambil tersenyum.
"Singkirkan tangan mu!"
Nara tersentak rupanya Kai hanya berpura-pura tidur. Nara segera menjauh tapi Kai menarik lengannya hingga terjatuh ke pangkuan Kai.
"Sepertinya kau masih penasaran dan ingin melanjutkan kejadian tadi?"
Nara menggelengkan kepalanya, aroma shampo menyeruak saat Nara mengibaskan rambut panjangnya.
Kai memejamkan matanya, menghirup wangi dari rambut Nara. Ia meletakkan wajahnya di ceruk leher Nara sembari berbisik.
__ADS_1
"Kau yang memancingku Nara sayang ..."