
Tan terlihat sudah siap dengan stelan kerjanya. Ia merapikan rambutnya yang memang selalu tertata dan tidak pernah berantakan.
Yuki memandang suaminya dengan gemas. Ia memeluk Tan dari belakang dan dengaan sengaja menggigit bahu Tan yang sudah tertutup stelan jas.
Tan tergelak melihat tingkah Yuki yang menggemaskan.
"Kau ingin aku mengambil cuti?"
"Hmmm!" Yuki mengangguk penuh semangat disertai senyum lebar penuh harapan.
Tan berbalik dan memandang wajah istrinya. Dengan gerakan cepat ia mencubit hidung Yuki.
"Sayang sekali itu tidak mungkin"
Yuki cemberut dan melepas pelukan Tan. Ia berjalan meraih tas kerja Tan dan mengantarkan suaminya sampai ke mobil.
"Apa hari ini kau juga akan pulang terlambat sayang?"
"Tergantung tuan muda jika sudah tidak memerlukan ku disana tentu aku segera pulang"
Yuki terdiam sembari menatap Tan dengan mata bulatnya. Tan tersenyum lalu mengecup bibir Yuki.
"Hati-hati di rumah, jika kau rindu padaku telepon saja"
"Baiklah aku akan menelpon sesering mungkin"
"Apa itu ancaman?"
"Tentu saja"
Tan mengusap rambut Yuki lalu ia membuka pintu mobil dan meluncur menuju rumah tuan muda. Seperti biasa tugas Tan tetap menjemput tuan muda menuju kantor Admaja Group.
Meski ia sekarang juga CEO tapi ia tetap merangkap sebagai asisten pribadi tuan Aska.
__ADS_1
Sementara di rumah utama keluarga Admaja Aska di buat jengah oleh Raya dan Kalila. kedua wanita itu bersekongkol untuk meminta saran Aska.
"Kakak sudah lama sekali bersahabat dengan kak Rama, masa kakak tidak tahu ia suka apa?"
"Mana aku tahu Rama suka apa, aku juga tidak peduli dia suka apa!"
"Ayolah kak bantu aku"
"Bantu untuk apa Kalila?!"
"Supaya dekat dengan Kak Rama"
"Iya sayang ayolah..." Raya ikut membujuk Aska.
"Tidak! aku tidak tahu apa-apa soal Rama dan tidak peduli!" Aska menghela napas kasar sembari memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya.
Kalila berjalan mendekat ke arah Aska. Ia membisikkan sesuatu yang membuat Raya penasaran.
"Kak cepat bantu aku untuk mendekati kak Rama atau...memangnya kakak tidak cemas?"
"Dulu kak Rama pernak naksir kakak ipar bukan?" Kalila menampar pelan bahu Aska. Memberi efek dramatis pada ingatan Aska.
Sial! benar juga kata Kalila. Kalau Rama memiliki kekasih aku baru percaya dia sudah melupakan Raya.
**l.py**kenapa aku jadi terjebak di permainan Kalila dan Raya?!
"Dia suka kemping, main bola makan makanan enak, suka tidur dan suka berolah raga"
"Ahhhh ...terus apa lagi kak?"
"Sebaiknya besok kau bersiap menemuinya joging di seputaran taman dekat rumahnya"
Kalila tersenyum lebar dan mengangguk penuh riang gembira. Seolah ia menemukan kunci untuk membuka gembok di hati Rama.
__ADS_1
"Dengar aku tidak tahu Rama bisa menyukai gadis seperti mu atau tidak, yang jelas dia lebih pantas menjadi paman mu"
Aska berjalan mendekati Raya dan mengecup bibir Raya.
"Aku berangkat, jangan biarkan dia terlalu lama di rumah kita. aku cemas kau bisa terpengaruh oleh kegilaannya"
"Hahaha baiklah, apa hari ini aku boleh jalan-jalan dengan Kalila?"
"Tidak, aku ingin kau di rumah bersama anak-anak"
Raya mengangguk paham, jika Aska memintanya tidak kemana-mana dan fokus menjaga anak-anak ia akan menurut tanpa membantah perkataan Aska.
Tan tiba di depan rumah Aska. Ia sengaja menunggu di dekat mobil karena di lihatnya Aska berjalan ke arahnya.
Tan dengaan sigap membuka pintu mobil untuk Aska. Sebelum masuk kedalam mobil Aska berbalik dan berjalan kembali mendekati Raya.
"Kau tentu boleh keluar dengaan Kalila tapi jangan melakukan hal bodoh" Aska mengecup rambut Raya penuh sayang.
"Baik sayang ..aku janji tidak macam-macam"
Aska masuk kedalam mobil dan Tan mengemudikan mobilnya menuju gedung pusat Admaja Group.
"Apa jadwalku hari ini Tan?"
"Anda akan meeting dengan pengacara Liu untuk membahas kerja sama dengan perusahaan group K"
"Bukankah saham group K sedang turun? kenapa mengambil resiko untuk bekerja sama dengaan mereka"
"Tuan besar menandatangi langsung kontrak kerja sama itu tuan"
"Ayah ku? sejak kapan ayah ku di kantor? kenapa aku tidak tahu?"
"Tuan Liu mendatangi tuan besar di kediamannya bukan di kantor"
__ADS_1
"Sial semakin banyak saja pengusaha yang licik" gumam Aska kesal. ia mengeluarkan ponselnya dan menelpon ayahnya....
bersambung..