
Malam itu sepulang bekerja Rama menemui Raya di depan loby kantor. Ia berniat mengajak Raya makan malam. Tadinya Raya menolak tapi akhirnya ia setuju karena merasa tidak enak pada Rama.
Di depan loby Raya dan Rama berpapasan dengan Aska dan asistennya. Raya terlihat canggung dan salah tingkah. Ia takut Aska salah paham padanya dan Rama.
"Kau baru akan pulang juga?" sapa Rama begitu Aska melintas di dekat mereka.
"Rajin sekali kau kemari?" sindir Aska. Suasana mulai tidak enak. Aska dan Rama Saling padang.
"Apa ini berarti kau melarangku kemari menemui Raya?"
"Aku tidak peduli dengan urusan kalian, aku hanya muak melihatmu sering kemari.
"Tan ayo jalan"
"Baik tuan" Tan membukakan pintu mobil untuk Aska. ia lalu menuju kursi kemudi dan melaju dengan mobil sport itu.
Rama terlihat jengkel, ia lumayan terprovokasi dengan tingkah Aska tadi.
"Sudahlah jangan terpancing olehnya" kata Raya mencoba menenangkan Rama.
Rama mengajak Raya makan di restoran langganannya. Ia memesan menu yang enak dan mahal. Lagi-lagi Raya merasa canggung pada Rama yang selalu baik padanya. Raya tidak bisa membalas kebaikan Rama. Karena ia tidak bisa memberikan hatinya pada Rama untuk saat ini. Aska masih menduduki posisi penting dalam hati Raya.
"Kemarin aku bertemu Aska" kata Rama di sela makan malam.
"Bukankah tadi juga bertemu dengannya?"
"Iya, tapi kemarin malam kami sempat sedikit bicara"
Raya terdiam dan meletakkan sendok ya. Ia menunggu kelanjutan ucapan Rama.
"Aska sepertinya tidak suka aku mendekatimu" kata Rama seraya tersenyum kesal.
"Kenapa di harus tidak suka?"
"Kurasa Aska masih menyimpan rasa padamu. Apa kau juga masih mencintainya?"
Raya terdiam, lagi-lagi ia merasa perasaannya di permainkan oleh Aska. Ia masih mencintai Aska. tapi Aska tidak merespon apapun padanya. bahkan pria itu nampak melupakannya. Tapi kenapa Rama bilang Aska masih menyukai Raya.
__ADS_1
"Apa sebenarnya yang kalian bicarakan?"
"Aku bertanya pada Aska, aku ingin mendekatimu"
"Lalu..." Raya merasa penasaran.
"Aska bilang tidak! itu artinya ia masih menyukaimu"
Ada kelegaan di hati Raya, ia merasa senang mendengar ucapan Rama barusan.
"Tapi ia juga tidak mendekatimu bukan? Aska melarangku mendekatimu tapi ia sendiri tidak berbuat apa-apa untuk hubungan kalian. Raya apa ini yang sungguh kau inginkan?"
Degh...!
Raya tertegun mendengar ucapan Rama. Ada benarnya juga yang Rama katakan. Dan tentu saja Raya ingin Aska juga memperjuangkan hubungan mereka.
Rama mengantar Raya pulang ke rumah. Ibu sudah tertidur karena kelelahan membuat pesanan kue. Raya bergegas mandi dengan air hangat dan duduk santai di kamarnya sambil membuka laptop. Ia memeriksa email dari Belalang. Senyum Raya mengembang begitu ada email masuk dari Belalang.
Belalang
Raya
"Tidak, hanya tadi sempat makan malam dengan teman"
Belalang
"Apa teman pria?"
Raya
"Benar, dia temanku sejak sekolah menengah. Namanya Rama"
Belalang
"Apa ia juga mengenal Aska? kalian pasti satu sekolah bukan?"
Raya
__ADS_1
"Dia karib Aska..."
Belalang
"Jadi dia sahabat Aska dan kalian berteman dekat? aku yakin pasti Rama menyukaimu? apa tebakanku benar?"
Raya
"Benar...tapi..."
Belalang
"Tapi kau tidak menyukainya karena masih ada Aska di hatimu?"
Raya
"Iya, kau bisa tahu?"
Belalang
"Hahaha menarik sekali Raya. Cinta segitiga yang sungguh membingungkan. Apa Rama juga pangeran kaya seperti tuan muda Aska?"
Raya
"Iya meski Rama tidak sekaya Aska. Perusahaan keluarga Rama cukup besar dan berada di bawah kendali perusahaan keluarga Aska"
Belalang
"Apa kau tegas menolak Rama?"
Raya
"Sudah kulakukan dan kita sekarang masih berteman"
Belalang
"Sudah lupakan cinta segitigamu itu, sekarang beristirahatlah. Simpan energimu untuk bertemu tuan mudamu besok di kantor. Mungkin besok ia akan melimpahkan kekesalannya semalam padamu karena kau bertemu Rama di depan matanya"
__ADS_1