
Keesokan paginya Nara terbangun dengan wajah sembab. Ia terbaring di samping Kai yang masih tertidur pulas.
Nara bergegas ke kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi. Ia menyalakan air dari shower untuk mengguyur seluruh tubuhnya.
Maafkan aku Bastian, maaf kan aku.
Aku telah menghianati kesucian cinta kita.
Nara masih tidak habis pikir apa yang terjadi antara dirinya dengan Kai semalam. rasanya seperti mimpi.
Kai terbangun dan mengerjapkan matanya. Seulas senyum terlihat di bibirnya. Ia jelas ingat apa yang terjadi antara dirinya dan Nara tadi malam.
Kai berjalan menuju ke kemar mandi. Ia ada meeting pagi dan harus segera berangkat ke kantor.
Hendra sudah menunggu di bawah mempersiapkan dan memanasi mobil.
"Dimana gadis itu?"
Kai berjalan keluar kamar setelah rapi dengan stelan jasnya. Ia berpapasan dengan Nara di dekat tangga. ada kecanggungan diantara keduanya. Nara tidak mau memandang Kai sementara Kai sendiri juga malu. Ia bergegas menuruni anak tangga dengan cepat dan melupakan sarapannya.
"Kita berangkat Hen"
"Anda tidak sarapan dulu?"
"Tidak perlu cepat berangkat"
"Baik tuan"
Hendra menjalankan mobilnya dengaan kecepatan di atas rata-rata. Sesampainya di gedung Admaja Group Kai terburu-buru menuju ruang meeting.
__ADS_1
Rupanya ada kakeknya di ruangan itu. Ayahnya tuan Aska juga berada di sana.
Kai terdiam sejenak lalu duduk dan memimpin meeting seperti biasanya.
"Kai setelah ini papa dan kakek ingin bicara dengan mu"
"Baik pa"
Ada apa ini? apa secepat ini kakek akan melimpahkan kedudukan ku untuk Deniz? apa orang tua ini tidak sadar jika aku sudah setengah mati membantu memajukan perusahaan ini?!.
Kai memang kehabisan kesabaran menghadapi kakeknya yang tidak pernah menganggap dirinya ada.
Ia hanya menyayangi Deniz dan Dizya tapi dengan Kai, kakek selalu cuek dan terlihat tidak senang.
"Permisi tuan"
"Ada apa Hen?" Kai sedang berada di ruang kerjanya bersama kakek dan ayahnya.
Kai terkejut, ia berdiri dari duduknya dan berjalan keluar ruang kerjanya.
Untuk apa dia kemari?
"Ada apa?" Kai memandang wajah Nara yang sedikit tertunduk.
"Saya mengantarkan kotak bekal anda tertinggal di atas meja makan" Nara mengulurkan bekal untuk Kai.
"Ada lagi?" Kai tahu gadis itu tidak akan mungkin mencarinya ke kantor hanya untuk mengantar bekal. pasti ada alasan lain.
"Aku ingin pergi ke luar kota dengan Selin hanya satu hari saja apa anda mengizinkan?"
__ADS_1
"Tidak"
"Tapi saya ke luar kota untuk mencari suplier bunga, besok saya mulai membuka toko bunga saya"
"Itu toko bunga ku apa kau lupa?" Kai memang sudah membeli toko itu dari Kusmanto ayah mertuanya.
"Tapi .." Nara belum selesai bicara Kai langsung pergi meninggalkannya dan kembali ke ruang kerjanya menemui kakek dan ayahnya yang menunggu.
"Apa Nara mengantarkan bekal untuk mu?" tuan Aska melihat bekal yang Kai letakkan di atas meja kerjanya.
"Benar pa, Nara memang suka begitu"
Kai duduk tenang dan menunggu kakeknya bicara.
"Bawa istrimu ke rumah kakek, kenapa kau tidak mengajaknya berkunjung?"
"Ah baik kek nanti saya akan ajak Nara ke rumah"
"Kakek kemari hanya ingin melihat kemajuan perusahaan. Dan di tangan mu kau benar-benar membuat Admaja Group lebih berkembang lagi. Tapi Kai kau tahu bukan jika kau juga memiliki adik laki-laaki yang juga berhak menjadi pemimpin?"
Kai tersenyum kecil, ia sudah tahu jika kakeknya akan membicarakan masalah ini.
"Benar dan saya tidak keberatan jika posisi saya sekarang akan kakek serahkan pada Deniz"
Hendra yang sedari tadi menyimak dari kejauhan terlihat heran. Ia sama sekali tidak menyangka Kai akan semudah itu melepas posisinya.
"Kalau begitu kau sudah paham, jadi kakek permisi" Tuan Aska menepuk bahu Kai menguatkan putra sulungnya itu.
"Hen cancel semua meeting besok dan booking kan aku tiket ke kota B"
__ADS_1
"Kota B tuan?"
"Aku dan Nara akan berlibur kesana"