
Rama tertunduk lesu di hadapan Raya, gadis yang membuatnya jatuh hati dan bertekuk lutut selam ini. Raya tidak menerima cintanya. gadis itu menolak lamaran Rama dan mengembalikan cincin dari Rama.
"Apa kau menolak ku karena dia?" yang di maksud Rama pasti adalah Aska. Kali ini Raya tidak ingin berbohong, di dalam hatinya memang masih ada Aska. Ia belum bisa melupakan pria itu.
"Rama..maaf, memang dia masih berada di hatiku, Aku tidak bisa melupakan Aska"
"Hentikan Raya! ia bahkan sudah memilih gadis lain! apa kau tidak sadar jika kau hanya menyakiti dirimu sendiri?"
"Aku tahu, tapi jika kau bertanya apa aku masih menyukainya jawabannya adalah iya aku masih menyukai Aska, aku masih mencintainya"
Rama terdiam dengan mata berkaca-kaca. Hatinya sungguh hancur. Ia tidak mengira jika Raya sebesar itu mencintai Aska.
Sementara di kejauhan Aska berdiri mematung mendengarkan pembicaraan antara Raya dengan Rama. Hati Aska bergetar mendengar Raya mengakui cintanya pada Aska di hadapan Rama.
"Terimakasih Rama atas semua kebaikanmu, tapi maaf aku hanya bisa bersahabat denganmu"
"Raya! kau sadar dengan siapa kau jatuh cinta?! Aska adalah anak pembesar di negeri ini. Ayahnya tidak akan mungkin merestui cinta kalian!"
__ADS_1
"Aku tahu, bahkan kau tidak perlu mengingatkan ku akan hal itu. Aku sudah paham. Aku tidak berharap antara aku dan Aska memiliki sebuah ikatan. Aku hanya jujur ketika kau bertanya padaku tadi"
"Baiklah, aku rasa Aska yang menang. Ia mendapatkan cintamu meski ia hanya diam dan berada di sisi wanita cantik setiap harinya. Aku yang berusaha keras mendekatimu tapi aku yang kalah"
Hening, air mata Raya mengalir di pipinya. Ia tidak menduga akan menghadapi situasi seperti ini. Tapi entah kenapa hatinya terasa lega ketika ia mengakui semua perasaannya.
"Ku rasa Aska juga mencintaimu, ku harap kalian akan bersatu meski itu mustahil karena jalan kalian akan terjal. Aku tahu keluarga besar Aska seperti apa"
"Aku tahu, aku pergi dulu...jaga dirimu baik-baik" kata Raya sembari menepuk bahu Rama. Ia berjalan pergi meninggalkan taman. Raya dan Rama bertemu di taman tak jauh dari rumah Raya.
Aska memandang iba pada Raya yang berjalan menjauh. Ia menatap punggung gadis itu dari kejauhan tanpa bisa berbuat sesuatu.
Tapi pegangan tangan itu tak juga lepas dari bahu Raya. Gadis itu berbalik dan langkah terkejutnya ia mendapati Aska berdiri di belakangnya.
"Aska?"
Aska hanya terdiam, pandangannya lembut menatap Raya. Ia langsung memeluk Raya dengan erat.
__ADS_1
"Maafkan aku Raya, maafkan aku karena telah membiarkan mu seorang diri menahan semua perasaanmu padaku. Kau tahu aku juga memiliki rasa yang Sama dengan mu. Aku mencintaimu Raya........"
Raya hanya tertegun di pelukan Aska. Ia tidak menyangka jika Aska mendengarkan pembicaraannya dengan Rama tadi.
"Raya....apa kau mau menjadi kekasihku?" wajah Aska terlihat serius dan ia nampak mengiba pada Raya.
"Tapi.."
"Kau tahu padaku?"
"Tidak tapi hubungan kita adalah sesuatu yang tidak mungkin tuan muda, aku bukan lah siapa-siapa jika harus berjalan seiring bersama mu"
"Raya apa kau percaya padaku?" Aska menggenggam kedua telapak tangan Raya dengan penuh keyakinan. Ia mencoba meyakinkan Raya. Aska sudah tidak tahan lagi jika harus kucing-kucingan dengan perasaannya.
"Kau takut? apa yang kau takutkan Raya? ayahku? keluargaku? kita belum memulai perjuangan untuk cinta kita tapi kau sudah mau mundur sebelum berjuang?"
Raya bimbang tapi ia juga tidak bisa membohongi hatinya yang saat ini sangat bahagia mengetahui Aska menyatakan cinta padanya. Sesuatu yang sudah lama Raya tunggu. Sejak remaja sejak mereka di bangku sekolah menengah Raya sudah memendam rasa suka itu.
__ADS_1
Raya mengangguk pasti. Ia menerima cinta Aska. dan mulai saat itu bagi Raya semua jadi tidak mudah lagi. Ia tahu ayah Aska tidak akan tinggal diam jika mengetahui hubungan mereka.