Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 82 Ketahuan


__ADS_3

Tan pulang larut malam ke rumah barunya, ia melihat Yuki belum tertidur dan masih menunggu di sofa ruang tamu. Tan berjalan sembari melepas jasnya dan mengendorkan dasi yang seharian menggantung di lehernya. Ia nampak tampan dengan kemeja putih yang di kenakannya.


"Kau tidak tidur?" tanya Tan sembari bersandar di sofa. Yuki hanya menggeleng. Gadis itu menatap wajah tampan Tan yang kelelahan.


"Apa anda ingin saya menghangatkan makan malam?"


"Boleh juga"


Yuki beranjak ke dapur dengan wajah sumringah. Ia mengeluarkan hasil masakannya tadi dan menghangatkan kembali untuk Tan. Sementara itu Tan menuju kamarnya dan pergi mandi. tidak berapa lama ia turun ke lantai bawah dengan stelan baju santai. Kaos polos berwarna hitam dan celana panjang berwarna putih. Tan duduk sambil menikmati makan malamnya.


"Kau tidak makan?"


"Saya sudah makan tuan"


Tan menghabiskan makanannya dan meminum air putih di gelas yang sudah di sediakan oleh Yuki.


"Emmm tuan apa masakan ku rasanya enak?"


"Lumayan,..kau tidak meracuniku bukan?"


"Ah tuan kenapa anda bicara begitu?" Yuki terlihat sedih mengingat kejadian Raya yang keracunan jamur yang ia masak.


"Malam ini kau bisa tinggal disini, besok kau boleh pulang ke apartemen mu"


"Kenapa tuan? apa anda tidak nyaman?"

__ADS_1


"Bodoh, apa kau mau orang menggunjingkan kita? aku pria lajang dewasa dan kau gadis...bodoh, orang bisa salah paham dengan mu, kau bisa tidak laku nanti"


"Oh benar juga" Yuki tersenyum nyengir. Tan berdiri dari duduknya dan kembali berjalan menuju kamarnya.


Dasar gadis bodoh, ia sepolos itu. Keberadaannya membuat rumah ini terasa berwarna. Setidaknya aku tidak merasa sepi.


Pagi sekali Tan sudah terlihat Rapi dengan stelan jas hitamnya lengkap dengan dasi.


"Aku tidak sempat sarapan" Tan menyambar kunci mobil dan bergegas menuju mobilnya yang terparkir di halaman.


"Tuan tunggu!" Yuki berlari kecil sembari menenteng kotak bekal berisi Sarapan.


"Ini..."


"Apa ini?"


Tan menerima kotak bekal itu dan ia melajukan mobilnya menuju kediaman Aska.


Sesampainya di rumah Aska, ia segera turun dari mobil. Aska sedang berpamitan pada Raya seperti biasanya. Tan menatap kedua orang itu. Terkadang ia membayangkan hidupnya seperti Aska jika berangkat bekerja dan pulang bekerja ada yang mengantar dan menyambutnya.


"Kau melamun?!" suara Aska membuat Tan terkejut. Dengan cepat ia membuka pintu mobil untuk Aska.


Tan mengemudikan mobilnya menuju perusahaan Aska. Tuannya yang duduk di kursi belakang sedang terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Tan...kau berbohong padaku?" tanya Aska masih tetap fokus pada layar ponselnya. Tan terkejut mendengar pertanyaan itu.

__ADS_1


"Saya tidak mengerti tuan"


"Jangan berpura-pura Tan! kau tidak pandai berbohong"


Tan terdiam menerka arah pembicaraan Aska.


"Kau bilang sudah memecat gadis itu"


"Saya memang sudah memecat Yuki tuan"


"Tapi kau memperkerjakan dia di rumah mu?"


Tan terdiam, wajah ya terlihat kaku karena ketahuan berbohong pada Aska.


"Dasar bodoh, usahakan jika kau berbohong kau tidak meninggalkan jejak apapun yang bisa membuat kebohongan mu di ketahui orang lain. Lihat kotak bekal itu, mana mungkin jomblo angkuh seperti mu sempat membuat kotak bekal macam itu?" Aska menyeringai sembari menendang kursi kemudi yang di duduki Tan.


"Maafkan saya tuan muda"


"Tan kenapa kau melakukan itu? kau membela gadis itu?"


Tan hanya terdiam, ia tidak mungkin jujur pada tuan mudanya tentang rasa kasihannya pada Yuki.


"Tan apa kau menyukai gadis bodoh itu?!"


Hening ......

__ADS_1


"Jawab atau aku akan menendang mu dari sini"


"Benar tuan"


__ADS_2