Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Bab 153 Jangan Beri Uang Lagi


__ADS_3

Kusmanto mendatangi Nara di rumah Kai. Ia datang bersama istrinya Dewi.


"Untuk apa bapak dan ibu Dewi kemari?" tanya Nara kesal.


"Untuk apa? ya untuk mengunjungi anak bapak lah"


"Pak tuan Kai sudah memberi bapak banyak uang jadi jangan meminta uang lagi, Nara malu"


"Nara kau lihat dirimu hidup di istana seperti ini bergelimang harta dan kemewahan. lalu kenapa bapak dan ibu mu tidak boleh merasakan sedikit dari kebahagiaan itu?"


"Iya Nara, lihatlah penampilan mu kau sudah seperti tuan putri. Seharusnya kau berterimakasih pada bapak dan ibu karena menikahkan mu dengan pria kaya raya itu"


"Tapi Nara hanya mencintai ..." Nara tidak melanjutkan ucapannya.


"Mencintai siapa? Bastian?! dia sudah tidak ada jadi kau jangan macam-macam Nara!"


"Sudahlah orang tua datang bukannya di sambut malah diajak bertengkar"


Sementara di gedung Admaja Group Kai sedang memimpin meeting. Ia membahas bisnis baru Admaja Group di area pertambangan.


"Ada apa Hen?" Kai memandang Hendra yang sibuk melihat ponselnya.


Hendra sedang mengawasi Cctv di rumah Kai melalui ponselnya.


"Kusmanto dan istrinya datang ke rumah anda tuan"


"Untuk apa mereka datang?"


"Saya kurang tahu tuan"


"Apa Nara menemui mereka?"

__ADS_1


"Benar tuan, sepertinya mereka sedang berdebat sesuatu, Kusmanto terlihat marah"


"Selesai meeting kita pulang"


"Tapi tuan bagaimana dengan jamuan makan malam klien kita"


"Tunda saja besok malam jamuan itu"


"Baik tuan"


Diam-diam Kai cemas untuk apa Kusmanto datang ke rumah menemui Nara. ia tahu gadis itu keras kepala paling dia sedang mendebat ayahnya. Yang Kai cemaskan adalah jika Kusmanto kalap dan berbuat sesuatu pada Nara.


Mobil Kai tiba di halaman rumahnya. Pelayan membuka pintu dan Nara berdiri menyambutnya. Kusmanto dan Dewi ikut menyambut kedatangan Kai.


Seperti biasa mereka mencari muka pada Kai agar ia memberikan lebih.


"Ada apa?" tanya Kai sembari melirik Nara.


"Silahkan, Hen panggil koki pribadi ku kemari. siapkan masakan spesial untuk bapak dan ibu mertua ku tercinta" Kai tersenyum ke arah Nara dan membuat Nara bergidik.


Jangan-jangan dia mau meracun bapak dan ibu Dewi.


Benar saja jamuan makan malam yang seharusnya dengan klien kini sengaja Kai berikan pada mertuanya.


"Nak Kai kami berterimakasih sudah di sediakan makan malam seenak ini ya Bu"


"Iya seperti di hotel berbintang saja" tambah Bu Dewi.


"Baiklah katakan apa yang kalian inginkan?"


Kai tahu maksud mertuanya datang bukan hanya mengunjungi anak gadis mereka tapi juga ada maksud tertentu.

__ADS_1


Nara memelas memandang ke arah Kai. Ia sedikit menggelengkan kepalanya.


"Maaf tuan ada telepon" Hendra menyela pembicaraan keluarga baru itu.


"Baiklah kalian berunding dulu aku akan ke ruang kerja ku" Kai berjalan ke ruang kerjanya di iringi Hendra.


Tanpa di duga Nara mengikuti Kai, ia mengejar langkah Kai dan menunggu sampai pria itu selesai mengangkat telepon.


"Ada apa?" tanya Kai sembari tersenyum mengejek pada Nara.


Lihat senyumnya benar-benar merendahkan ku.


"Jangan beri apapun lagi pada bapak dan ibu"


"Kenapa?"


"Saya mohon anda tidak perlu memberi apapun lagi, sudah cukup"


"Aku tidak bisa menolak jika mertuaku meminta sesuatu pada ku"


"Saya mohon" Nara mendekati Kai dan refleks memegang telapak tangan Kai sembari memohon. Ia menggenggam telapak tangan itu. Kulit mereka bersentuhan untuk pertama kali. rasanya hangat dan ada sesuatu yang berdesir di hati Kai.


Kai melirik telapak tangannya yang berada di genggaman kedua tangan Nara. Gadis itu terkejut dan segera melepaskannya.


"Maaf tuan..."


Hendra ikut terkejut melihat pemandangan di hadapannya.


"Baiklah jika itu mau mu, aku tidak akan memberikan apapun lagi kepada mereka"


Nara mengangguk lega dan tersenyum manis.

__ADS_1


__ADS_2