
Pesawat yang di tumpangi Aska dan Raya mendarat di bandara internasional A. Tan sudah siap menjemput mereka, ia mengajak serta anak-anak. Yuki bertugas mengawasi anak-anak saat di dalam mobil.
Tan melepas kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Ia bergegas menghampiri tuan mudanya yang terlihat menggandeng istrinya dari kejauhan.
"Apa semua aman?" tanya Aska begitu bertemu dengan Tan. Ia cemas dengan ketiga anaknya terutama Deniz.
"Semua baik tuan, anak-anak menunggu di mobil bersama Yuki"
"Oh bagus" Aska tersenyum sembari merangkul Raya yang terlihat sumringah meski kelelahan. Ia sudah tidak sabar bertemu ketiga anak mereka.
"Ayo sayang" Raya menarik lengan Aska dan berjalan cepat menuju mobil Tan.
Sementara Tan mengurus barang bawaan Aska dan menempatkannya di bagasi mobil.
"Mama....papa!" Deniz sudah berteriak kesenangan karena melihat ayah dan ibunya telah kembali. Dizya dan Kai terlihat lebih kalem meski mereka juga antusias melihat kedua orang tuanya. Yuki kewalahan memegangi Deniz dan Dizya yang memberontak minta keluar mobil. Raya dengan sigap segera memeluk anak-anaknya.
"Terimakasih sudah menjaga anak-anak ini Yuki" kata Raya sembari menciumi Deniz dan Dizya. Tak lupa ia juga mencium pipi Kai yang terlihat tenang.
"Tidak masalah nona, saya senang bisa membantu menjaga anak-anak manis ini"
"Oh tentu saja..." Raya mengedipkan sebelah mata. Ia tahu pasti Yuki juga senang berada di samping Tan meski harus sambil menjaga anak-anak.
__ADS_1
Yuki turun dari mobil Tan. Ia memutuskan naik taxi dan langsung pulang ke apartemennya. Mobil juga dalam kondisi penuh, Yuki merasa tidak enak dengan tuan Aska. Ia pasti tidak nyaman.
Aska duduk di kursi belakang bersama Raya dan si kembar, sementara Kai duduk di samping Tan yang mengemudi.
"Pa, apa besok kita akan ke rumah kakek?" celetuk Kai. Ia sudah paham siapa kakek dan neneknya. Yaitu tuan Bram dan Nyonya Ariani.
Aska memicingkan alisnya, meminta penjelasan Tan, kenapa Kai bisa minta berkunjung ke rumah kakeknya.
"Tuan besar menelpon saat anda tidak di rumah kemarin tuan" sahut Tan.
"Ayahku bicara apa? apa ia bicara dengan Kai?"
"Benar, tuan besar sempat bicara dengan Kai dan juga Deniz"
"Sayang mungkin lebih baik jika lusa kita ke rumah ayah" Kata Raya pelan membujuk suaminya.
"Akan aku pikirkan"
Denis yang berada di pangkuan Aska tertidur dengan botol susu menempel di mulut kecilnya. Sementara Dizya menguap tanda ia juga mengantuk seperti kembarannya.
"Oh anak mama ngantuk ya..." Raya menidurkan Dizya di pangkuannya dan dalam hitungan detik para batita itu tertidur pulas.
__ADS_1
Tak berapa lama mobil tiba di kediaman Aska dan Raya. Tan menurunkan barang-barang dari bagasi mobil di bantu pelayan. Aska sembari menggendong Deniz berjalan menuju kamar Deniz. Raya yang terlihat menggendong Dizya juga ikut menidurkan Dizya di kamar bersebelahan dengan Deniz.
"Raya aku lelah, kau pasti juga lelah" Aska mengecup ujung hidung Raya. Istrinya tertawa geli dan mencubit pinggang Aska.
"Ehmm! maafkan saya, air hangat sudah siap jika tuan dan nona ingin membersihkan diri" kata Tan yang merasa tidak enak karena memergoki kemesraan dua sejoli itu.
"Ah kau mengganggu saja Tan!" Kata Aska ketus, Raya kembali mencubit pinggang Aska, kali ini sungguhan. Aska meringis dan tersenyum.
"Tuan Tan bisakah nanti kita bicara sebentar"
"Tentang apa nona?"
"Tentang apa lagi, Yuki ..."
Tan terdiam salah tingkah, ia malas membahas urusan percintaannya dengan wanita. Karena itu akan jauh lebih merepotkan dan terlalu drama. Ia sedikit lebih senang jika tuan mudanya saja yang bertanya, jangan nona mudanya, karena pasti akan di bumbui seperti drama korea kesukaan Raya.
Aska mendekati Tan yang berdiri mematung, ia berbisik pada asisten pribadinya itu.
"Sudahlah kau turuti saja, kau tahu sepanjang perjalanan ia mengoceh tentang kisah cintamu dengan gadis itu!"
"Sayang kau bicara apa dengan tuan Tan? kenapa berbisik?"
__ADS_1
"Oh tidak sayang, aku hanya meminta Tan untuk bersikap baik pada pacarnya hahaha!" Aska tertawa kaku dan beranjak pergi.
Lihatlah tuan muda, bagaimana anda takut dengan nona, itu semua karena anda di butakan cinta. Mungkin sebentar lagi aku juga sama saja dengan anda...