Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 137 Pembalasan


__ADS_3

Tan berdiri diam sembari menunduk. Di hadapannya Aska sedang duduk di kursi kerja diam tanpa memandang Tan.


Ruangan terasa dingin dan beku oleh AC di tambah keheningan di antara Aska dan Tan.


Jika hari ini anda marah pada saya akan saya terima tuan, saya bersedia menerima hukuman dari kelalaian ini.


Wajah tampan Aska terlihat lelah, ia memang tidak tidur semalaman karena menjaga Raya.


"Kau tahu apa kesalahan mu?" suara bariton Aska membuyarkan keheningan. Tan masih menunduk tidak berani menatap Aska.


"Jawab!" bentakan Aska membuat Tan akhirnya mendongak dan memberanikan diri memandang tuan nya.


"Maafkan saya tuan muda, saya telah lalai menjaga keluarga Admaja"


"Kau orang paling dekat dengan ku, dan kau paling tahu betapa berartinya Raya bagi ku. Aku tidak akan sanggup jika terjadi sesuatu padanya"


Aska menerawang, ia berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati jendela. Tatapannya penuh marah.


"Aku ingin kau cari siapa yang sudah berani melukai istriku, secepatnya aku ingin kau bereskan pelakunya!" suara Aska tenang tapi membuat bergidik.


Tan mengerti apa yang harus ia lakukan. Tuan mudanya sangat marah dan tentu saja ia harus menjalankan perintah untuk membereskan pelaku tabrak lari Raya.


"Pergilah"


"Baik tuan"


Tan melangkah pergi menuju mobilnya. Ia meraih ponselnya dan menelpon Yuki istrinya.


"Kak ada apa?" suara Yuki terdengar cemas di ujung sana. Tidak biasanya Tan menelponnya sepagi itu.

__ADS_1


"Aku mungkin akan pulang terlambat, kau makan malam sendiri dan langsung beristirahat saja. Jangan menunggu ku"


"Ada apa? apa ada sesuatu yang gawat? apa kondisi nona memburuk?"


"Tidak, nona sudah stabil dan besok bisa pulang"


"Oh syukurlah"


"Yuki...aku sangat mencintai mu"


Yuki tidak menjawab ia pasti sedang bingung kenapa tiba-tiba Tan menelponnya dan mengucapkan kalimat sakral itu.


Tan mematikan ponselnya, dia mulai menjalankan tugas dari tuan mudanya.


Sementara Tan pergi, Aska juga berangkat ke rumah sakit menemani Raya.


Raya membuka matanya dan tersenyum. Ia masih terbaring lemah.


"Apa perutku baik-baik saja? bagaimana dengan kandungan ku?" tanya Raya pada Aska.


Aska menunduk diam, ia tidak sampai hati bicara pada Raya.


"Beristirahatlah, jangan terlalu banyak berpikir. Yang penting kau cepat pulih"


Bulir kecil menetes dari pelupuk mata Raya. Ia tahu sesuatu telah terjadi. Raya memejamkan matanya dan tidak bertanya apapun. Air matanya semakin deras. Ia menangis tanpa suara. Aska yang memandang istrinya merasa hancur karena ia tidak bisa menjaga Raya.


"Maaf Raya" gumam Aska sembari menggenggam tangan Raya.


Aska menaiki ranjang Raya dan berbaring di sisi Raya. Ia membenamkan wajahnya di leher Raya. Keduanya sama-sama menangis tanpa suara.

__ADS_1


Kata maaf terus mengalir di bibir Aska. Raya tidak menyalahkan siapapun, ia sadar ini juga kesalahannya yang tidak menuruti perkataan Aska suaminya.


"Aku yang minta maaf sayang, aku tidak menuruti perkataan suamiku. Inilah akibatnya" Raya terisak.


Aska mengusap lembut rambut istrinya, ia mengecup kening Raya.


Tan tiba di suatu tempat. Ia mendapatkan semua data tentang pelaku yang menabrak Raya.


"Bawa kemari dia" perintah Tan pada anak buahnya. Seorang pria yang terikat kedua tangannya di dudukan di hadapan Tan. Pria itu memelas meminta ampun.


"Siapa yang menyuruh mu?!" bentak Tan tepat di depan wajah pria yang ia Tawan.


"Tidak ada! siapa kau? aku tidak mengerti kenapa kau berbuat seperti ini. Aku akan melaporkan mu pada pihak berwajib!"


Pria itu tak kalah garang ia mengancam Tan.


"Baiklah ini ponsel gunakanlah untuk menelpon pihak berwajib"


Pria itu gemetar hebat karena Tan memegang senpi dan memainkan senpi itu.


"Cepat telepon atau aku akan meletuskan senpi ini di kep*lamu?"


"Ampun tuan jangan sakiti saya, saya hanya di suruh oleh seseorang dari keluarga Admaja"


"Siapa kau bilang?! dari keluarga Admaja?"


"Benar tuan, seorang wanita cantik membayar saya cukup mahal"


"Bereskan dia!" perintah Tan pada anak buahnya. Ia berjalan pergi menuju mobilnya. Masih ada pekerjaan rumah untuk Tan yaitu mencari tahu siapa yang menyuruh pria itu untuk mencelakai Raya.

__ADS_1


__ADS_2