
Raya berada di rumah sakit. Ia sedang melakukan pemeriksaan USG dan hasilnya benar. Raya mengandung, dokter tersenyum memandang Raya.
"Selamat nyonya Admaja. Ini sungguh ajaib" kata dokter. Raya masih tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Wajahnya kebingungan. Ketika kau amat menginginkan sesuatu yang mustahil dan itu terkabul, kau hanya bisa tercengang dan bingung. Begitu juga Raya yang sebelumnya dokter bilang kecil kemungkinan ia mengandung dan sekarang ia benar-benar mengandung buah hatinya bersama Aska. Pria yang ia cintai segenap hati di dalam hidupnya. Air mata Raya meleleh, ia mengucap syukur tak terhingga.
Aska memeluknya dengan haru. Keduanya menumpahkan segala perasaan bahagia mereka. Tan yang berdiri di dekat pintu ikut haru. Ia adalah saksi perjuangan cinta Aska dan Raya hingga sampai hari ini.
"Berhati-hatilah nyonya kandungan mu berusia dua minggu masih sangat rawan. Jadi beristirahatlah jangan kelelahan" kata dokter menyela keharuan di antara Aska dan Raya.
"Sayang dengarkan kata dokter kau jangan bandel. Untuk sementara biar Kai diasuh oleh pengasuh kita" kata Aska sembari membelai rambut Raya.
Aska mulai berlebihan dalam menjaga Raya. Ia sangat berhati-hati. Bahkan terkadang Raya sampai geli di buatnya.
"Tan bawa mobil pelan-pelan saja"
"Baik tuan muda"
"Tan kalau kau mengantar istriku kemanapun kau harus datang lebih awal agar kau tidak ngebut saat mengemudi"
"Baik tuan muda"
"Oh ya Tan pastikan di rumah semua aman. Pindahkan kamar pribadi kami ke lantai utama agar istriku tidak naik turun tangga"
"Baik tuan"
"Oh ya aku minta pelayan untuk mengurus rumah, memasak dan membersihkan halaman. Satu lagi cari koki seperti bibi Jang"
"Baik tuan, maaf tuan apa saya harus mencari koki tua seperti bibi Jang?"
"Bukan bodoh! tapi keahlian memasaknya"
"Oh baik tuan"
"Aktifkan ponselmu dua puluh empat jam jika aku menghubungi mu kau harus datang"
"Baik tuan"
__ADS_1
Raya tertawa melihat percakapan Aska dengan Tan.
"Raya sayang kau juga harus jaga diri dan selalu berhati-hati"
"Baik tuan" Raya menirukan jawaban Tan. Aska menyentil dahi Raya dengan telunjuknya. Ia lalu memeluk Raya dengan bahagia bercampur cemas.
Nyonya Ariani yang mendengar kabar kehamilan menantunya segera bersiap menuju rumah Aska dengan membawa vitamin dan makanan kesukaan Raya. Nyonya Ariani datang bersama bibi Jang.
***
Tan menghela napas lega. Akhirnya ia bisa melihat kebahagiaan utuh terpancar di mata Aska dan Raya. Melihat perjuangan cinta mereka pasti semua akan sangat gembira dengan kabar kehamilan itu.
Tan tidak langsung pulang ke apartemennya. Ia mampir ke restoran langganannya. Niatnya bukan hanya untuk makan tapi ia ingin melihat Yuki.
"Dimana gadis itu?" tanya Tan pada manajer restoran.
"Gadis yang mana tuan?"
"Yang mengantar makanan padaku"
"Oh Yuki? dia sudah satu minggu tidak bekerja lagi disini"
Tan meraih ponselnya dan menelpon seseorang. Tidak berapa lama informasi tentang gadis itu tiba di telinga Tan.
Yuki keluar dari pekerjaannya karena ada seorang pelanggan yang mencoba melecehlannya. Tapi pihak restoran tidak memberinya pembelaan malah memecat Yuki.
Tan geram, ia masuk kedalam mobilnya. Sebuah alamat ia terima dari anak buahnya. Ia pergi mengunjungi sebuah flat kecil di pinggir kota. Tan memandang sekeliling lalu mengetuk pintu flat.
Seorang wanita muda membuka pintu dengan wajah terkejut.
"Tuan? kau disini?"
Tan diam ia hanya memandang Yuki yang terlihat berantakan. Yuki segera merapikan rambutnya.
"Kenapa kau tidak mengantar pesananku lagi?"
__ADS_1
"Maaf tuan saya sudah tidak bekerja di restoran itu lagi"
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa"
"Gadis bodoh, apa kau butuh pekerjaan sekarang?"
Wajah Yuki terlihat cerah. Ia serasa baru saja mendapat kupon berhadiah.
"Kalau begitu ikut aku"
Tan menarik lengan Yuki dan membawanya ke dalam mobil. Tan membawa Yuki ke apartemen mewahnya. Ia mendorong tubuh gadis itu ke pantry.
"Apa yang anda lakukan tuan?! saya memang butuh pekerjaan tapi ....tapi saya masih punya harga diri!" Yuki menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Dasar bodoh, apa yang dia pikirkan...
"Buka sekarang"
"Apa?! aku tidak akan melakukannya tuan!"
"Buka lemari es itu dan keluarkan bahan masakan. Masaklah sesuatu yang enak lalu aku akan memberimu pekerjaan" Tan melangkah pergi meninggalakn Yuki yang terkejut. Rupanya ia terlalu percaya diri jika Tan akan berbuat nekat padanya.
Oh Yuki apa yang kau pikirkan, mana mau ia dengan mu?!
Yuki mulai memasak makanan enak. Tan mencicipinya dengan wajah puas.
"Baiklah, besok kau mulai bekerja di keluarga muda Admaja. Kerjamu sebagai koki pribadi di rumah itu"
"Keluarga muda Admaja? apa itu berarti saya bekerja untuk tuan muda Aska?"
"Dari mana kau tahu tentang tuan muda?"
"Dari televisi dan surat kabar. Tuan muda sungguh populer"
__ADS_1
"Baiklah terserah kau saja. Datang pagi-pagi kemari. aku akan membawamu kesana"
"Baik tuan" Yuki mengangguk mantab.