Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 39 Lamaran Mendadak


__ADS_3

Rama menjemput Raya seperti biasa, ia mengajak Raya makan malam di sebuah restoran mewah. Tapi kali ini Rama memiliki niat dan tujuan yang jelas. Ia ingin menyatakan cinta sekali lagi dan melamar Raya.


"Kau selalu mengajakku makan di tempat mewah, aku merasa tidak enak" kata Raya begitu keduanya duduk di salah satu meja yang sudah di pesan oleh Rama.


"Ini belum seberapa" Rama menjentikan jemarinya dan seorang pelayan pria datang membawa buket bunga cantik.


"Ini untuk mu" Rama mengulurkan buket bunga itu dengan wajah sumringah.


"Rama..." dengan canggung Raya menerimanya.


"Sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu yang sangat penting padamu Raya"


Raya terdiam dan memandang Rama. Ia merasa wajah Rama terlihat serius tidak seperti biasanya. Raya jadi berdebar,


"Aku menebak kau sudah melupakan Aska. Jadi aku ingin menyatakan perasaanku padamu sekali lagi Raya...."


Hening Raya hanya terdiam, ia sudah bisa menerka jika Rama akan bicara begitu.


"Maukah kau bersama ku? kali ini aku ingin langsung bertunangan denganmu. Jika kau setuju ambil cincin ini" Rama mengulurkan kotak kecil berisi cincin berlian.


Raya tidak mengambilnya, ia ragu karena baginya Rama hanya sahabatnya tidak lebih.


"Tapi Ram aku..."


"Ayolah Raya, kali ini aku tidak akan memberimu celah. Dalam waktu tiga hari kau harus bisa menjawab lamaran ini, jika tidak aku akan mundur selamanya dan tidak akan bertemu lagi denganmu. Ku harap kau tidak salah mengambil keputusan Raya"


Raya terdiam kembali. Pikirannya terasa penuh berkecamuk. Ia bingung, di satu sisi ia ingin tetap bersahabat baik dengan Rama yang Selama ini sudah banyak membantunya dan keluarganya. Jika Ryan menerima lamaran tersebut, ia tidak mencintai Rama.

__ADS_1


Raya bingung, sepanjang makanan malam ia tidak selera untuk makan. Rama sebaliknya ia malah makan dengan lahap. Pria itu tahu jika Raya sedang dilema.


***


"Aku sudah menemuinya" Shanon berkunjung ke rumah Aska. Ia berada di ruang kerja Aska sambil membaca buku di atas sofa.


"Siapa?" Aska mengalihkan perhatian dari laptop ke Shanon yang tersenyum jahil padanya.


"Raya..."


"Kau jangan macam-macam!"


"Siapa yang macam-macam? aku hanya bertemu dengannya karena sangat penasaran. Gadis seperti apa yang berhasil membuat tuan muda sepertimu bertekuk lutut"


"Siapa bilang aku bertekuk lutut padanya?!"


"Dia bicara apa padamu?" Aska terlihat penasaran tapi tetap gengsi.


"Dia bicara banyak, aku tidak mau memberi tahu!"


"Gadis ini! pulang sana, kau sangat menyebalkan!"


"Hahahaha! aku tidak mau, aku mau melihat sejauh mana kau penasaran tentang obrolan kami"


Aska menghela napas dan terdiam. Ia tidak peduli lagi pada Shanon yang menggodanya. Ia kembali fokus pada laptopnya. Tapi pikiran Aska melayang memikirkan Raya.


Gadis itu sedang tidak memiliki pekerjaan, sejak keluar dari Admaja Group Raya tidak bekerja di manapun kecuali toko kue ibunya.

__ADS_1


"Dia itu sangat keras kepala" gumam Aska.


"Kau benar, dia gadis kuat yang keras kepala"


"Apa kau bisa membantunya?"


"Membantunya? kau gila? dia rivalku bagaimana aku akan membantunya?"


"Sudah jangan bercanda terus, katakan padaku kau akan membantunya" Aska berjalan menghampiri Shanon di sofa. Ia ikut duduk di samping gadis itu. Aska meraih buku di tangan Sanon dan meletakkannya di atas meja. Ia memandang lekat gadis itu sembari memohon.


"Ah kau membuat ku mati kutu dengan ketampanan mu dalam jarak dekat seperti ini!"


Aska tersenyum, satu-satunya cara menolong Raya saat ini adalah melalui Shanon.


"Baiklah, kau mau aku bagaimana?"


"Beri dia pekerjaan di perusahaan ayahmu"


"Hanya itu?"


"Iya benar hanya itu...."


"Baiklah itu mudah sekali, kirimkan CV nya padaku akan ku pelajari nanti"


"Baiklah, ....Shanon..."


"Apa?"

__ADS_1


"Terimakasih" Aska mencium pipi Shanon. Gadis itu terkejut tapi ia merasa sangat senang. Meski saat ini Aska hanya menganggapnya sebagai teman tapi ia senang bisa dekat dengan Aska. Apa lagi tadi baru saja Aska mengecup pipinya.


__ADS_2