
Tan sudah keluar dari rumah sakit. Ia berada di rumahnya. ponselnya sepi tidak ada lagi yang sering menelponnya mengingatkan untuk makan, mandi, mengucapkan selamat malam dan hal sepele lainnya.
Ternyata seperti ini rasanya patah hati?
Tan meminum segelas air putih tapi itu juga tidak membuat perasaannya jauh lebih baik. Ia berjalan menuju kamarnya merebahkan diri di atas ranjangnya.
Semakin mencoba melupakan semakin wajah Yuki tercetak kuat di pikiran dan juga hatinya.
Ponsel Tan berdering, dengan cepat ia membuka nakas di samping tempat tidurnya dan meraih benda kecil itu. Senyum terkembang nya memudar saat nama Raya yang tertera di layar ponselnya.
Ternyata bukan Yuki....batin Tan kecewa.
"Ya nona"
"Kau bisa kemari? aku memasak spesial untuk mu" seperti biasa suara Raya terdengar ceria dan hangat. Dulu yang membuat Tan tertarik pada Yuki juga karena gadis itu memiliki kesamaan dengan Raya sama-sama ceria dan baik hati.
"Baik nona saya akan kesana"
"Baiklah aku tunggu, sopir ku akaan menjemput mu"
"Baik"
Tan meletakkan kembali ponselnya dan bergegas berganti pakaian. Ia mengenakan celana jeans berwana biru tua, kaos berwarna putih polos dan jacket hitam. Tak lupa jam tangan bermerk hadiah dari Aska ia kenakan di pergelangan tangan kanannya.
Setelah sopir tiba di rumah Tan, ia bergegas memasuki mobil.
"Apa tuan muda pergi bekerja hari ini?" tanya Tan pada si sopir.
"Tidak tuan, tapi saya mengantar tuan muda ke kediaman tuan besar tadi siang"
"Tuan besar?"
__ADS_1
"Benar"
"Untuk apa tuan muda ke sana?"
"Saya kurang tahu tuan, yang jelas saya dengar ada keributan antara tuan muda dan sepupunya di rumah itu"
Tan tidak bertanya lagi, ia tahu mungkin Aska marah dan mencoba mencari tahu siapa biang keladi di balik rem mobilnya yang blong.
Tidak berapa lama mobil tiba di halaman rumah Aska.
"Paman Tan!" Deniz si anak super aktif segera berlari dan memeluk sebelah kaki Tan.
"Tuan kecil kau belum tidur?" Tan meraih Deniz ke dalam gendongannya.
Bocah itu tertawa karena Tan menggelitiknya.
lalu Dizya dan Kai ikut berhambur memeluk paman Tan mereka.
"Paman baik-baik saja, ayo coba naik semua" Kai semangat naik ke punggung Tan sementara Dizya juga di gendong di depan bersama Deniz.
"Kau sudah datang" Aska berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ruang makan. Di meja makan panjang itu berderet banyak masakan. Beberapa jelas makanan kesukaan Tan.
"Anak-anak ayo turun jangan ganggu paman Tan" kata Raya sembari menyiapkan minuman untuk mereka bertiga.
Anak-anak turun dari gendongan paman Tan dan berlari menuju tempat main di dekat ruang bersantai.
"Suster tolong temani anak-anak" kata Raya.
"Nah duduk dan nikmatilah makan malam bersama kami tun Tan" Raya mempersilahkan Tan mencicipi semua hidangan yang tersedia.
Aska seperti biasanya ia tidak banyak bicara. Raya mengisi piring Aska dengan makanan kesukaan suaminya itu.
__ADS_1
Raya silih berganti memandang Aska dan Tan. Keduanya lebih banyak terdiam. Hanya Raya yang cerewet sedari tadi. Ia mulai bingung harus bagaimana menghadapi dua pria canggung itu.
"Aku ke ruang kerja ku sebentar, Tan kau nanti ke ruang kerja ku setelah selesai makan"
"Baik tuan"
Raya berpindah tempat duduk agar lebih dekat dengan Tan. Ia penasaran dan ingin bertanya banyak soal hubungan pria itu dengan Yuki.
"Sedikit banyak aku mendengar jika kau dan Yuki sedang bertengkar" Raya memulai dengan hati-hati.
Tan meletakkan sendok nya. Seolah ia sudah tidak napsu makan lagi karena Raya pasti mengungkit masalah percintaannya.
"Apa kalian tidak bisa membicarakan ini baik-baik?"
"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi nona"
"Lalu bagaiman dengan rencana pernikahan kalian? ini sungguh disayangkan jika kalian terbawa emosi dan merusak rencana pernikahan kalian berdua"
"Aku tidak merusak apapun nona"
"Ayolah tuan Tan kau jangan egois begitu"
Egois? kau bilang aku egois nona?! apa wanita akan selalu bersikap seperti ini? menyalahkan pihak pria jika suatu hubungan berakhir?!
"Apa aku boleh ikut campur?"
Tan menggaruk pipinya dengan gusar. Ia gemas sekali dengan Raya tapi ia tidak berani melampiaskan kekesalannya itu. Jelas saja wanita di hadapannya adalah istri tuan muda yang sangat ia hormati.
Tan menggelengkan kepala lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju ruang kerja Aska.
Raya memanyunkan bibirnya karena ia tidak berhasil mengulik apa lagi membujuk Tan untuk memperbaiki hubungannya dengan Yuki.
__ADS_1
"Kalau begitu biar aku yang menemui Yuki!" gumam Raya.