
"Jangan marah dengan Yuki, ini salahku sayang" kata Raya yang melihat Aska berdiri di samping ranjang perawatannya.
"Terlambat Raya, aku meminta Tan untuk memecat gadis itu"
"Sayang......" Raya hampir menangis. Ia merasa nyaman dengan Yuki gadis periang yang pandai memasak dan juga baik hati.
Sementara di tempat lain Tan sedang terdiam menunduk. Yuki berdiri mematung di hadapannya. Ia sudah pasrah jika memang akan di pecat.
"Tuan Aska memintaku memecat mu Yuki" kata Tan datar. Yuki menahan tangisnya, ia teringat tagihan listrik dan uang sewa apartemen yang belum ia bayarkan. Baru saja mendapat pekerjaan ia sudah kehilangan lagi karena kecerobohannya.
"Tuan maafkan saya, bisakah anda jangan memecat saya? saya berjanji akan lebih berhati-hati lagi" wajah Yuki terlihat memelas.
"Aku tidak ada pilihan Yuki, pergilah" Tan berdiri dari duduknya dan berjalan menuju mobilnya. Yuki mengemasi baju-bajunya dan memasukannya kedalam tas. sebelum pergi Yuki sempat membuatkan kue kering untuk Raya dan ia meninggalkan sepucuk surat.
Terimakasih atas kesempatannya nona, semoga kau sehat selalu dan kehamilanmu baik-baik saja. dan aku do'akan lancar saat melahirkan. Jangan lupa mengabariku jika nona sudah melahirkan. Sampai jumpa.....Yuki
Yuki berjalan meninggalkan rumah Aska dan Raya. Ia sibuk memikirkan pekerjaan selanjutnya. Banyak tunggakan yang harus ia selesaikan bulan ini juga. Ibunya membutuhkan uang untuk modal berdagang sedangkan adik lelakinya akan masuk perguruan tinggi.
Tan dengan mobilnya sengaja mengikuti Yuki dari belakang. Ia tidak tega dengan gadis di depannya itu. Tan tahu semua permasalahan Yuki saat ini karena sebelum mempekerjakannya di rumah Aska ia sudah mencari informasi tentang gadis itu.
__ADS_1
Suara klakson menghentikan langkah Yuki. Ia menoleh ke belakang. Ada mobil Tan disana.
"Kemari dan masuklah" kata Tan.
Yuki menurut saja, ia masuk kedalam mobil Tan.
"Apa anda tidak jadi memecat saya tuan?"
"Aku tidak bisa menarik keputusanku, tapi aku bisa memberimu pekerjaan lain"
"Apa itu?" mata Yuki berbinar. Tan memandangnya jengah.
"Aku baru saja membeli sebuah rumah, kau bisa ikut denganku. Tugasmu sama seperti di rumah tuan muda. Kau memasak dan membersihkan rumah. Jika kau sudah dapat pekerjaan lain kau boleh pergi"
Yuki ikut Tan menuju sebuah rumah bergaya Eropa. Ruang itu terlihat sepi dan beberapa perabot masih terbungkus rapi.
"Kau bisa disini dan bereskan semua. Aku akan kembali ke rumah sakit untuk menjemput nona"
"Baik tuan"
__ADS_1
Tan pergi ke rumah sakit menjemput Aska dan Raya. Saat di dalam mobil Raya terlihat diam. Aska sibuk dengan ponselnya karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.
"Tuan Tan" panggil Raya sembari memandang keluar melalui kaca mobil.
"Iya nona"
"Apa tadi Yuki terlihat bersedih saat kau memecatnya?"
"Saya rasa begitu"
"Jika kau bertemu dengannya sampaikan maaf ku padanya"
"Baik nona"
Aska memandang istrinya yang terlihat kecewa. Aska tahu Raya sedang marah padanya.
"Kenapa kau cemas? sudahlah dia bisa mencari pekerjaan di tempat lain" kata Aska sembari memainkan ponselnya. Tan melirik tuan mudanya dari spion.
Sesampainya di rumah Raya bergegas menuju kamarnya untuk istirahat. Aska melepas dasi dan jasnya lalu mengendorkan kancing kemejanya. Ia ikut berbaring memeluk Raya.
__ADS_1
"Kenapa ku membuatku takut?" kata Aska sembari membelai rambut Raya.
Raya tidak bicara ia memeluk Aska erat dan menyandarkan kelapanya di dada bidang Aska.