Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Bab 151 Kepulangan Deniz (2)


__ADS_3

"Cepat bersiap aku menunggu di mobil" kata Kai sembari berjalan cepat menuruni anak tangga menuju ruang utama.


"Kenapa mendadak sekali" gimana Nara. ia sedang sibuk membuat buket bunga sebagai bingkisan untuk ibu mertuanya yang gemar bunga.


Nara juga mempersiapkan kue yang sudah ia buat sendiri tadi siang sebagai bingkisan.


"Cepat!" suara Kai kembali terdengar.


Nara bergegas berganti pakaian dengan gaun pendek berwarna pastel, ia menyisir rambut panjangnya.


"Lama sekali" gumam Kai kesal. Nara tidak mempedulikannya dan meletakkan barang bawaannya di kursi belakang.


Kali ini Kai mengemudikan mobilnya sendiri ia tidak membawa serta Hendra bersamanya. Hendra sedang ia beri tugas menjemput Deniz dan Dizya.


Kai melirik penampilan Nara yang duduk disampingnya. Gadis itu terlihat cantik dengan gaun pendeknya. harum wangi tercium dari aroma rambut panjang Nara.


"Dengar jangan lupa sandiwara mu nanti"


"Baik"


Mobil Kai tiba di pelataran rumah orang tuanya. Ia mengajak Nara memasuki ruang utama. Pintu rumah terbuka lebar dengan cahaya lampu kristal yang terang menambah kesan mewah didalam ruangan itu.


Saat memasuki ruang tengah aroma cengkeh tercium segar. Nyonya Raya memang pandai merawat rumahnya. Cengkeh itu ia gunakan sebagai pewangi sekaligus bisa meminimalisir debu di ruangan.


"Hai Kai putera sulung mama" Nyonya Raya memeluk anak sulungnya ia bergantian juga memeluk Nara.


"Apa ini?" mata nyonya Raya berbinar menatap rangkaian bunga yang cantik.


"Ini buket bunga untuk mama"

__ADS_1


"Oh iya kau juga memiliki toko bunga ya, nanti mama akan mampir ke toko mu"


"Iya ma..."


Di ruang keluarga terlihat tuan Aska dan dua orang anaknya sedang mengobrol. Kai menyapa dan memeluk mereka satu persatu. terlihat hangat, akrab dan penyayang. berbeda sekali saat di rumah ia terlihat ketus, kaku dan pendiam.


"Hai Nara kemarilah ayo bergabung" kata tuan Aska.


"Kak Nara maaf ya aku tidak bisa hadir di perikanan kau dan kakak ku" benar saja gadis itu adalah Dizya. Ia cantik dan terlihat sangat modis. Wajahnya perpaduan antara tuan Aska dan nyonya Raya.


"Hai kak ." Denis menjabat tangan Nara.


Denis terlihat tampan seperti ayahnya. Nara sedikit bingung karena Kai terlihat tidak mirip Aska atau Raya. ia memang tampan dan terlihat sempurna hanya saja ia tidak mewarisi wajah ayah atau ibunya.


"Deniz bisa kita bicara sebentar?" Kai merangkul bahu Deniz dan mengajaknya ke kamar atas.


"Kak apa benar Kaka menikahi gadis itu?"


"Tapi Kaka tidak mencintainya?!"


"Pernikahan tidak butuh cinta Deniz, lagi pula dengan begitu aku berhasil membuatnya mencabut laporan tentang kecelakaan yang menimpa calon suaminya dulu"


Deniz terdiam menyadari kesalahannya amat fatal dan besar. Ia tidak membayangkan jika harus mendekam di penjara dan orang tua nya harus menanggung malu.


"Maafkan Deniz kak"


"Sudahlah Deniz lagi pula aku juga di untungkan menikah dengan nya. Mama mendesak meminta menantu terus jadi kenapa tidak sekalian saja"


"Haha kakak benar tapi..."

__ADS_1


"Sudahlah ..ayo kita turun sebelum papa curiga"


Kai dan Deniz ikut bergabung di meja makan. Nara melirik Kai yang terlihat mengobrol dengan ayah dan adiknya.


"Nara bagaimana apa kau sudah ada tanda..."


"Tanda apa ma?" Semua langsung menoleh dan menyimak ke arah Raya dan Nara.


"Hamil.."


"Uhukk!" Kai tersedak makanannya. Nara tersenyum malu-malu sembari menggelengkan kepalanya.


Bagaimana mau hamil nyonya, anak mu tidak menyentuh ku. Ia mengabaikan ku bagai patung. Lagi pula ia menikahi ku hanya untuk pajangan di rumah mewahnya saja.


"Tidak masalah yang penting kalian harmonis" kata tuan Aska.


Harmonis darimana tuan? putra kesayangan mu ini tidak pernah mengajakku bicara jika di rumah.


"Oh ya Deniz bagaiman dengan sekolah mu?"


tanya Kai di sela obrolan tidak penting tentang rumah tangganya.


"Sudah selesai kak tapi masih ada yang harus aku urus jadi lusa aku akan kembali ke Amerika"


"Deniz jangan terlalu lama, bantu kakak mu di perusahaan ia sangat membutuhkan mu"


"Iya pa"


Kai tersenyum penuh makna, entah apa yang ia pikirkan soal Deniz, jabatan Presdir Admaja Group dan warisan kakeknya.

__ADS_1


Kai membuat Deniz berhutang Budi padanya karena sesuatu hal. dengan begitu Deniz akan enggan menduduki kursi Presdir yang sudah di tempati oleh Kai.


bersambung


__ADS_2