
Nara sibuk menyiapkan bingkisan untuk di bawa ke rumah mertuanya. Ia bergegas merias diri setelah semua selesai. Nara mengeluarkan dress pendeknya dan menata rambut panjangnya.
Ia memulas wajahnya dengan makeup natural.
Tadi pagi sekretaris Hendra memberitahunya jika sore nanti Kai akan mengajaknya ke rumah Papa Aska dan mama Raya.
Nara menunggu di ruang tamu sembari membaca novel. Di lihatnya jam di dinding sudah hampir malam tapi Kai belum pulang juga.
Nara melirik ponselnya yang tergeletak di meja. benda itu diam dan tenang tidak ada tanda-tanda pesan singkat masuk atau telepon dari Kai.
Nara tidak tahan lagi menunggu lama, ia menelpon ke ponsel Hendra. Tidak ada jawaban.
Sekali lagi Nara melihat jam dinding dan ia memutuskan untuk ke kamar berganti pakaian santai.
Dari jendela kamar nampak mobil Kai memasuki halaman rumah. Nara bergegas menuruni anak tangga.
"Hati-hati tuan" Hendra memapah Kai masuk kedalam rumah.
"Sekretaris ada apa? apa yang terjadi?" Nara memandangi Kai yang terlihat pucat.
"Tuan Kai sakit nona"
"Sakit?" Wajah Nara menunjukan ketidak percayaan.
Hendra bergegas membawa Kai ke kamarnya di ikuti Nara dari belakang.
"Tuan Kai sakit apa?" tanya Nara sembari melepas sepatu yang di kenakan oleh Kai.
"Demam nona, saya akan panggil dokter pribadi"
"Dokter pribadi?" Nara meletakkan telapak tangannya di kening dan wajah Kai.
"Sepertinya ini demam biasa kenapa pakai panggil dokter segala? manja sekali. Minum obat penurun demam juga sembuh" gumam Nara.
"Hei kau pikir aku diri mu?! kau orang miskin kalau sakit tidak perlu ke dokter cukup di rumah saja!" Kai marah mendengar perkataan Nara tadi. Ia merasa gadis itu mengejek dirinya.
__ADS_1
Sombong sekali, pakai mengatai ku miskin. Kau sendiri manja mentang-mentang kaya!
Nara berdiri dari duduknya dan hampir melangkah pergi tapi Kai meraih pergelangan tangan Nara.
"Mau kemana?"
"Ke kamar"
"Aku ingin kau disini!"
"Baik"
Tidak berapa lama dokter tiba dan memeriksa kondisi Kai. Dokter memberikan resep obat penurun demam dan anti nyeri.
Nara menyuapi Kai obat dan ia juga mengompres kening Kai.
"Nona sebaiknya anda gantikan baju tuan Kai" kata Hendra sembari sibuk dengan ponselnya. Karena Kai sakit ia harus menghandel beberapa pekerjaan yang belum selesai.
"Apa? menggantikan baju tuan Kai?" Wajah Nara memerah dan canggung.
Tidak ada pilihan, Nara mulai membuka dasi yang di kenakan Kai. Ia juga membuka kancing kemeja satu persatu.
Nampak kulit putih Kai yang di hiasi bulu halus di bagian dada. Jantung Nara berdebar kencang memandangnya.
"Apa yang kau lakukan?" Kai meraih tangan Nara. Gadis itu menghentikan gerakan tangannya yang sedang membuka kancing kemeja.
"Membantu anda berganti pakaian"
"Baiklah, lagi pula tidak ada gunanya aku malu pada mu, kau juga sudah melihat semua anggota tubuh ku"
Wajah Nara kembali merah seperti kepiting rebus. Kai tersenyum samar melihat Nara salah tingkah. Ia menurut saja saat Nara memakaikannya kaos putih polos.
"Bagaimana dengan bagian bawah, kau tidak mau menggantikannya?"
Nara menggeleng mencoba meraih kewarasannya kembali. Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa melakukan hal se memalukan itu.
__ADS_1
Menggantikan baju seorang pria tidak pernah terlintas di benak Nara selama ini. Selama berpacaran dengan Bastian ia tidak pernah melakukan hal atau perbuatan di luar batas.
Bastian menjaganya dengan sangat baik.
"Kau sedang apa?! cepat aku mau tidur"
"Ba...baik" Nara melepas ikat pinggang yang di kenakan Kai. Tangannya gemetar saat akan membuka kancing dan resleting celana Kai.
"Hentikan, pergilah ke kamar mu. Akan kulakukan sendiri"
"Baik ..." Nara bergegas pergi sebelum Kai berubah pikiran.
Kai sendiri tidak nyaman dan malu jika Nara harus menggantikan seluruh pakaiannya.
Keesokan paginya demam Kai sudah turun. suhunya sudah kembali normal. Ia bergegas turun dari tempat tidur dan ke kamar mandi.
Nara masuk ke kamar Kai mengantar bubur dan susu hangat. Ia menunggu Kai keluar dari kamar mandi.
Alangkah terkejutnya Nara melihat Kai hanya mengenakan handuk sebatas pinggang ke lutut.
Tubuh terawat Kai terlihat jelas di mata Nara. dada yang bidang dan otot yang tidak berlebihan. Perut datar yang lagi-lagi di tumbuhi bulu halus.
"Saya mengantar sarapan" kata Nara gugup.
"Siapkan baju ku"
"Anda ingin bekerja?"
"Hmmm"
Nara membuka lemari pakaian dan meraih kemeja warna maroon dan dasi berwarna hitam garis-garis. Ia meraih jas berwarna hitam yang sudah rapi dan tersimpan di wardrop.
"Apa kau mau melihat ku berganti pakaian?"
"Oh tidak ..." Nara segera keluar kamar dan berjalan menuju lantai utama.
__ADS_1
Ia menelpon ke rumah. karena beberapa kali bapaknya menelpon ke ponsel Nara.