Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 93 Menjaga Bocil


__ADS_3


(Kalau Tan saja se -keren ini apalagi tuan muda Aska ya....)


...***...


Aska ada urusan mendadak ke Luar Negeri dalam waktu dua hari. Ia membawa serta Raya dan menitipkan ketiga anak mereka pada Tan.


"Kenapa kita tidak bawa anak-anak juga sayang?" Raya berat hati karena harus berpisah dari anak-anaknya meski hanya dua hari.


"Tidak bisa Raya, kita ada meeting panjang siapa yang akan menjaga anak-anak, lagi pula kalau kita bawa mereka bersamaan juga akan memakan waktu lebih lama. Kau lupa kalau si kembar belum di buatkan paspor"


"Oh benar juga, kenapa si kembar tidak di buatkan paspor sayang?"


"Kau melarangku kata mu tunggu sampai mereka tiga tahun"


Benar juga waktu itu Raya melarang anak-anak di bawa bepergian jauh saat masih bayi. Jadi ia pikir jika sudah berusia tiga tahun itu akan lebih asyik. Anak-anak mulai paham dengan sekeliling mereka dan mereka juga bisa merespon, merekam dan mengingat perjalanan mereka ke berbagai tempat. Jika masih bayi apa serunya cuma berada di gendongan saja.


"Sudahlah lagi pula Tan akan menjaga anak-anak"


"Kalau begitu aku akan meminta bantuan Yuki juga"


Aska tidak menanggapi, ia tahu istrinya hanya modus saja untuk meminta bantuan Yuki agar Tan dan Yuki bisa semakin dekat.


"Kalau kau minta bantuan Yuki juga, nanti yang ada mereka malah pacaran bukan menjaga anak-anak"


"Aku yakin tidak begitu sayang, tuan Tan pria yang sangat bertanggung jawab. Ia pasti menjaga anak-anak dengan baik. boleh ya....."

__ADS_1


"Terserah kau saja, yang penting anak-anak aman"


"Yes!" Raya meraih ponselnya dan menelpon Yuki. Kebetulan Yuki memang sedang libur. Ia bersedia untuk datang ke rumah dan menjaga ketiga batita energik itu.


Aska dan Raya berangkat ke bandara di antarkan sopir pribadi. Sementara para batita itu masih tertidur di kamar mereka di temani suster.


Tan sudah tiba di rumah Aska sejak tadi. Ia menyiapkan segala dokumen yang akan Aska perlukan untuk meeting nanti.


Kai terbangun dan mendekati Tan yang sedang menikmati secangkir kopi di pantry.


"Paman Tan, papa dan mama kemana?" tanya Kai sembari memegang mainannya.


"Kai... ,papa dan maama sedang ada pekerjaan jadi Kai dan si kembar di rumah dengan paman, suster, pak sopir dan pelayan ya"


"Iya paman" Kai yang memang lebih kalem di banding Deniz, ia segera berlalu dan kembali ke kamarnya. Tan melirik jam tangannya dan menunggu Deniz dan Dizya terbangun.


Benar saja tak berapa lama suster menuruni anak tangga sembari menggendong Deniz dan Dizya.


"Deniz, mama sama papa sedang ada pekerjaan jadi Deniz sama paman Tan dulu ya.."


"nggak mauuuu!" Deniz terlihat menggemaskan ketika mengucapkan kata itu.


"Suster berikan dia pada ku" Tan mengambil alih Deniz yang masih mengamuk. Dizya ikut menangis melihat Deniz.


Tan mulai pening, ia tidak pernah mengasuh anak kecil sebelumnya. Apa lagi yang model Deniz ini suka mengamuk dan seenaknya.


"Mau sama mama! nggak mau paman Tan!" kata Deniz dengan suara cadel yang lucu.

__ADS_1


Tan melepas jasnya dan mengendurkan Dasinya. Ia merayu Deniz dan Dizya untuk main kuda-kudaan.


"Paman akan jadi kuda, Deniz dan Dizya penumpangnya ya"


"Paman aku mau ikut juga" Kai tiba-tiba sudah ada di belakang Tan.


"Baiklah kalian bertiga penumpangnya, paman kudanya"


"Nggak mauuu! Paman kudanya Deniz penumpang, Kai nggak boleh naik!"


Tan sudah hampir tak berdaya menghadapi ketiga bocah itu. Ia melepas dasinya. Rambutnya yang selalu tertata rapi kini awut-awutan karena jambakan Deniz.


Bel pintu berbunyi, Yuki tiba dengan membawa oleh-oleh.


"Hai anak-anak...aunty Yuki bawa apa ini...." Yuki memperlihatkan kantung belanjaan berisi kue dan mainan.


Deniz, Dizya dan Kai segera berhambur menghampiri Yuki yang masih berdiri dengan senyum sumringah.


"Thomas!" Deniz berteriak kegirangan begitu mendapat mainan kesukaannya. Dizya mendapat boneka beruang yang cantik sementara Kai mendapatkan mobil-mobilan.


Ketiganya langsung asyik bermain di temani suster.


"Nona yang meminta ku kemari, ia menelpon ku tadi pagi" Yuki menahan tawanya memandang penampilan Tan yang terlihat lain dari biasanya.


Tan yang menyadari penampilannya acak-acakan segera merapikan kemejanya, Ia menyisir rambutnya dengan jemari tangan.


Dia tampan sekali, melihatnya merapikan rambut saja aku sudah terpesona ....

__ADS_1


"Kau berkhayal lagi?" Tan memandang pipi Yuki yang memerah.


Pasti gadis tak tau malu ini sedang berkhayal yang bukan-bukan. Dan bisa-bisanya aku berdebar ketika dia memandangiku ...


__ADS_2