
"Ada yang mengikuti kita?" Shanon meletakan gelas minumannya. Aska menemuinya di rumah keluarga Wang. Keduanya sedang berbicara di balkon kamar Shanon.
"Menurutmu siapa yang melakukannya?"
"Aku sedang meminta Tan mencari tahu masalah ini"
"Apa Raya marah?"
"Ku rasa tidak..."
Tapi sebagai sesama wanita Shanon bisa mengerti jika Raya marah. Raya memang istimewa ia bahkan bisa mengendalikan emosinya saat mengetahui kekasihnya makan malam dengan wanita lain. Meski hanya berteman tapi foro itu bisa membuat semua jadi salah paham terutama Raya.
"Apa ini ada kaitannya dengan orang tua kita?"
"Aku rasa tidak, ayahku belum tahu hubunganku dengan Raya"
"Kau yakin tuan Bram tidak tahu? kau jangan meremehkan ayahmu tentang hal ini. Ia sudah pasti akan menyuruh tuan Hyuk mengawasimu"
Aska terdiam, Shanon benar ayahnya memiliki asisten pribadi orang yang sangat hebat dan bisa selalu diandalkan yaitu tuan Hyuk. Kalau hanya mencari tahu tentang apa yang Aska lakukan itu sesuatu yang kecil bagi tuan Hyuk.
"Kalau melihat dari foto ini sepertinya foto grafernya bukanlah orang sembarangan. Ia bisa mencari posisi yang tepat untuk membidikan kameranya. Aku rasa ini bukan kerjaan orang iseng apa lagi foto ini langsung sampai ke tangan Raya"
__ADS_1
"Apa mungkin Rama?" tanya Shanon lagi.
"Aku rasa tidak, aku berteman dengannya sejak kecil. Ia bukan pengecut yang akan mengerjaiku seperti ini"
"Baiklah kalau begitu tunggu hasil dari Tan"
"Sebaiknya kau pergi dengan pengawalan, aku cemas akan ada yang menyakitimu" kata Aska dengan wajah serius.
"Kau mencemaskanku? sungguh? apa kau mulai menyukai ku juga?"
"Dasar bodoh aku serius kau jangan bercanda, Shanon ini menyangkut keselamatanmu juga. Jadi sebaiknya kau turuti perkataanku. Ayahmu memberimu banyak pengawal kenapa kau jarang memakai jasa mereka?"
"Karena aku risih saja....."
"Aska..." Aska menghentikan langngkahnya ketika Shanon memanggil namanya. Gadis itu lagi-lagi mengecup pipi Aska seenaknya.
"Bodoh! sudah ku bilang jabgan sembarangan nanti Raya bisa salah paham"
"Hahaha sekali saja, terimakasih sudah mencemaskanku"
Aska bergegas pergi dengan mobilnya. Ia menuju rumah Raya.
__ADS_1
Aska tiba di rumah Raya, ia turun dari monilnya begitu melihat Raya berjalan menghampirinya. Wajah manis Raya selalu bisa membuat Aska merasa tenang saat memandangnya.
"Kau dari rumah?" tana Raya.
"Aku dari rumah Shanon"
"Oh..." ada sedikit kecewa di hati Raya mengetahui Aska menemui gadis itu.
"Aku bertemu dengannya untuk memperlihatkan foto di dalam amplop yang kau berikan padaku"
Raya mengangguk, ia memainkan jemari tangannya. Aska meraih tangan Raya dan menggenggamnya.
"Berjanjilah kau akan selaku disisiku...." Aska menunduk memandang wajah gadis di hadapannya. Raya tersenyum dan mengangguk. Aska menariknya ke dalam pelukannya.
"Raya, tubuh mu kurus sekali apa kau terkena gizi buruk?"
Raya tersenyum sembari mempererat pelukannya dan mengusap punggung Aska. Ia tahu Aska pasti sedang kebingungan menghadapi situasi jika ayahnya sampai tahu hubungan mereka berdua. Dan Raya tidak bisa membantu Aska yang ia bisa lakukan hanya mendukung dan tetap berada di sisi Aska.
***
Seseorang terlihat mengamati Aska dan Raya dari kejauhan. Ia lalu pergi dengan mobilnya. Sementara Tan yang juga sedang mengikuti Aska dari kejuhan ia berhasil mendapat plat mobil pria misterius yang jadi penguntit itu.
__ADS_1
Tan menyadari melihat dari plat mobil sepertinya pria misterius itu menggunakan mobil keluaran Eropa terbaru. Dan kemungkinan yang bisa membeli dengan harga setinggi itu adalah tuan Bram pemilik Admaja Group. Tapi tidak mungkin tuan Bram melakukan hal ini seorang diri. Ia tidak mungkin memata-matai anaknya, tuan Bram orang yang sibuk, ia tidak akan sempat melakukan hal rendahan mancam menngintai kemana putranya pergi.
Tan masuk kedalam mobilnya dan bergegas pergi......