Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Bab 188


__ADS_3

Satu-satunya yang membuatku tidak menghancurkan Deniz adalah karena mama dan papa. Mereka memperlakukanku seperti anak kandungnya. Aku tidak kekurangan sama sekali sejak kecil.


Aku menyayangi Deniz dan Dizya melebihi diriku. tapi jika Deniz menusukku dari belakang aku harus membela diri.


"Hmmm!" Nara bersuara untuk membuyarkan lamunan Kai.


"Anda melamun? tehnya sudah hampir dingin"


Kai meraih cangkir teh di hadapannya dan menyesap teh yang hampir dingin itu. Kai bahkan tidak sadar sejak kapan Nara berada di dekatnya.


"Sejak kapan kau disini?" tanya Kai salah tingkah.


"Sejak tiga puluh menit yang lalu dan anda hanya diam melamun"


"Apa Hendra sudah datang?"


"Sudah sekretaris Hendra ada di lantai bawah"


Kai beranjak dari duduknya dan berjalan menuruni anak tangga. Hendra terlihat berdiri dari duduknya begitu melihat Kai datang mendekat.


"Tuan ..."


"Hen aku rasa semua sudah mengetahui berita Group K termasuk Deniz. Aku peringatkan berhati-hatilah. Admaja Group pasti akan mencari kelemahan kita"


"Baik tuan, oh ya tuan nyonya Raya meminta anda datang ke rumah"


Kai terdiam, ia tidak bisa menolak permintaan ibunya tapi jika datang ke rumah dan bertemu Deniz itu akan membuatnya sedikit muak.


"Apa kita akan pergi ke rumah mama?" tanya Nara.


Kai hanya diam dan beranjak pergi di ikuti Hendra.


"Lagi-lagi pertanyaanku di abaikan" gumam Nara.


Sedikit banyak Nara bisa memahami jika Kai sedang banyak pikiran. Ia sibuk dengan perusahaan barunya, sibuk dengan lawan bisnisnya dan sibuk dengan Deniz adiknya yang menyebalkan itu.


Ponsel Nara berbunyi, nomor tidak di kenal tertera di layar ponsel.


"Halo..."


"Hai Nara...."


"Deniz?"

__ADS_1


"Benar, aku tahu kau sedang tidak bersama Kai jadi aku menelpon mu. Bisakah kau temui aku?"


"Ada urusan apa?"


"Temui aku, kau akan tahu urusan apa yang aku bicarakan dengan mu nanti"


"Tapi..."


telepon di matikan, Deniz mengirimkan alamat sebuah restoran pada Nara.


Nara ragu ia akan bertemu Deniz atau tidak tapi ia juga penasaran apa yang akan Deniz bicarakan dengannya.


Siang itu Nara menemui Deniz di sebuah restoran. Nara tidak meminta izin dulu pada Kai karena pasti Kai akan marah.


"Ada apa Deniz?"


"Nara terimakasih kau mau datang, bisakah kau membantuku?"


"Membantu apa?"


"Tolong bujuk kakak ku untuk tidak membahayakan Admaja Group. tolong jangan mengambil kolega dari Admaja Group"


"Deniz ini urusan kalian para laki-laki, aku tidak bisa ikut campur. maaf aku tidak bisa membujuk kakak mu. Ia berhak berbuat apapun seperti kalian memperlakukannya"


"Baiklah jika tidak bisa secara halus maka aku akan menggunakan cara kasar untuk menumbangkan Group K beserta pemiliknya!"


Aku tahu kelemahan Kai selain mama kelemahannya sekarang adalah Nara. apa bedanya jika aku melenyapkan Nara? aku juga tidak bisa memilikinya. Kai juga tidak boleh memilikinya!


***


Kai mengajak Nara untuk bermain golf. Ia tahu Nara kurang pandai bermain golf tapi dengan sabar Kai mengajarinya.


Kai berdiri memeluk Nara dari belakang sembari mengayunkan stik golf.


"Apa impian mu Nara?" tanya Kai berbisik di telinga Nara sembari mengajari istrinya itu untuk mengayun stik golf yang benar.


"Impian?" Nara berpikir sejenak.


"Aku ingin tinggal di tempat yang sejuk, aku ingin menghabiskan hari tua dengan bertani sayur, bunga dan beternak ikan"


Kai tersenyum, ia sudah bisa menebak jika impian Nara lebih sulit di wujudkan di bandingkan wanita kebanyakan yang ingin hidup mewah, belanja barang branded, serba berkecukupan dan jadi sosialita papan atas.


"Baiklah mungkin aku akan menggadaikan Group K agar bisa memenuhi impian mu"

__ADS_1


"Anda bergurau bukan?" Nara terkejut dan menoleh ke belakang memandang wajah Kai yang tertutup sebagian oleh topi warna putih yang di kenakan nya.


"Bisa jadi aku bergurau tapi bisa juga ini kenyataan"


"Aku mohon jangan melakukan hal gila. Impianku tidak sesulit itu. aku hanya ingin bersama mu" kata Nara lirih.


Kai menggenggam tangan Nara dan mengajaknya berjalan ke pinggir lapangan.


"Ayo kita pulang, aku ingin menikmati hari bersama mu"


Nara tersenyum, ia merasa bahagia bisa mendampingi Kai.


Keduanya berjalan menuju mobil, Kali ini tidak ada Hendra yang menemani. Saat akan memasuki mobil tiba-tiba datang seorang pria misterius membawa senjata tajam dan menusuk beberapa kali perut Kai.


Kai terdiam memegangi perutnya, darah segar mengalir dan Kai terhuyung jatuh ke tanah.


Nara bergegas keluar dari mobil dan mendekati Kai yang sudah berlumuran darah.


"Kai...? Kai....! tolong!" Nara menangis sejadinya melihat Kai yang tak berdaya karena kesakitan.


Nara menangis menjerit tapi sekeliling sepi dan ada beberapa orang lewat tapi tidak berani menolongnya.


Ia meraih ponsel di saku celana Kai dan menelpon Hendra meminta bantuan.


Tidak berapa lama mobil ambulan datang dan membantu membawa Kai ke rumah sakit terdekat.


"Kai bertahanlah aku mohon...kau baru saja bertanya tentang impian ku bukan? jangan tinggalkan aku!"


Setibanya di rumah sakit Kai segera di tangani dokter.


Nara terduduk lemas di ruang tunggu dengan baju penuh darah Kai.


Hendra tiba menenangkan Nara yang menangis sejak tadi.


"Tenanglah nona semua akan baik-baik saja"


Pengumuman


Menuju Episode akhir readers...selamat membaca. Thor ucapkan terimakasih bagi para pembaca setia novel ini sejak awal dari pembaca hanya puluhan sampai sekarang bisa 1juta, Thor ucapkan terimakasih banyak atas dukungannya untuk karya Thor ini.


Akan Thor terbitkan satu bab lagi sebagai penutup, bisa kasih pendapat dan saran sebaiknya Kai selamat atau tidak...biar ceritanya lebih seru hehehe...


thank you readers🙏

__ADS_1


__ADS_2