
Dulu sewaktu remaja Raya memimpikan menikah dengan pria yang ia cintai. Ia akan menikah dengan gaun sederhana dan polesan riasan yang natural. Ia ingin memegang buket bunga kering yang di awetkan. Dan sekarang semua terwujud dengan indah di depan matanya. Ia berdiri di depan cermin besar menatap bayangan dirinya yang sedang mengenakan gaun putih panjang dengan riasan tipis. Rambut panjang nya di ikat kebelakang dengan rapi.
Aska menunggunya dengan stelan jas pernikahan yang nampak istimewa. Aska selaku tampan dalam situasi apapun.
Raya tersenyum riang begitu Aska menyambut tangannya. Ibu Raya yang nampak terharu menyeka air matanya. Akhirnya putrinya menikah dengan pria yang ia cintai. David duduk di samping ibu Raya.
Sementara Ervan duduk di barisan tamu undangan dengan wajah ikut bahagia. Meski ia tidak mendapatkan Raya tapi setidaknya gadis itu bahagia sekarang.
Dari pihak Aska hanya Tan yang hadir di acara pernikahan itu. Tuan Bram dan nyonya Ariani tidak hadir. Tuan Bram belum bisa menerima putranya yang pembangkang itu. Sedang nyonya Ariani ia menitipkan hantaran mewah untuk Raya melalui Tan.
"Nona ada titipan dari nyonya besar untuk anda" Tan menggerakan tangannya dan anak buah Tan langsung masuk ke dalam ruang ganti pengantin wanita dan meletakkan hantaran dari ibu mertuanya.
Raya memandangi bingkisan itu dan air matanya mengalir. Ada sepucuk surat di antara hantaran itu. Raya membacanya dan beberapa kali menyeka air matanya. Suatu hari nanti ia akan berkunjung ke rumah keluarga Aska. Sekarang impian Raya adalah mengembalikan keutuhan keluarga Admaja.
__ADS_1
_______
Acara sakral di mulai, Aska memasangkan cincin berlian safir berwarna biru di jemari Raya. Semua bertepuk tangan saat Aska mencium Raya.
Kebahagiaan terpancar dari keduanya. Tamu undangan silih berganti memberi selamat pada kedua mempelai. Selesai acara Aska akan membawa Raya ke rumah mereka. Aska telah menyiapkan sebuah rumah impian untuknya dan Raya. Rumah dengan aksen kayu dan cat berwarna krem terletak di pinggiran danau. Rumah itu tidak terlalu luas tapi sangat nyaman.
"Kau senang?" tanya Aska ketika keduanya tiba di rumah baru mereka.
"Aku sangat senang"
"Kau harus membayar semuanya, kau akan mencintaiku lebih besar dari sebelumnya" kata Raya sembari tersenyum. Aska meraih wajah istrinya dan mengecup bibir Raya.
Tentu saja di pernikahan mereka ada malam pertama. Aska Menggoda Raya hingga gadis itu tersipu malu.
__ADS_1
"Apa kau menginginkannya sekarang?" goda Aska sembari mengusap lembut wajah Raya.
"Aku...tidak tahu" wajah Raya merah seperti kepiting rebus. Ia bingung harus bagaimana memulai malam pertamanya dengan Aska.
"Baiklah kalau begitu, aku yang menginginkannya sekarang, jadi kau harus mau menurutiku dan melayaniku dengan baik!" Aska tersenyum jahil. Raya menyikut perut datar Aska hingga keduanya tertawa.
Aska dan Raya berbaring di sofa besar yang terletak di kamar mereka. Malam semakin larut Aska membawa Raya larut kedalam cintanya. Aska mencium bibir Raya dan **********. Tangannya membuka tali dress yang di kenakan Raya hingga dress itu teronggok di lantai sekarang.
Aska melepas kemejanya dan pandangannya tidak beralih sedikitpun dari wajah Raya yang memerah membuat Aska semakin gemas pada istrinya.
Aska memandang Raya dengan penuh cinta,
"Katakan sesuatu Raya sayang...." Aska tersenyum tepat di depan wajah Raya. Wajah keduanya hanya di pisahkan oleh hidung sebagai jarak mereka.
__ADS_1
"Aku mencintaimu tuan muda" bisik Raya sengaja menggoda Aska. Malam panjang pun akan mereka lalui bersama hingga esok pagi menjelang.