
Kai dan Hendra ikut sarapan pagi di rumah Kusmanto. Nara sibuk menyiapkan makan pagi untuk Kai yang sedari tadi hanya duduk diam.
"Nak Kai lain kali mungkin bisa mengunjungi usaha bapak" kata Kusmanto yang berniat ingin meminta sesuatu pada menantunya lagi.
"Baiklah" jawab Kai pendek.
"Oh ya uang yang nak Kai berikan terakhir itu kami belikan rumah ini" kata Dewi sembari meletakkan semangkuk besar sayur yang masih panas di atas meja makan.
"Ini sarapan Anda" Nara meletakkan sepiring salad dengan telur rebus di depan Kai.
Pagi itu Nara mengenakan cincin berlian pemberian Kai.
Rupanya Hendra sudah memberikan cincin itu pada Nara.
Cincin itu adalah berlian safir berwarna kebiruan sangat indah dan pas di jemari Nara.
Bu Dewi yang sepertinya panas melihat perhiasan milik Nara dan tanpa sengaja menumpahkan sayur yang masih panas hingga mengenai tangan Nara yang sedang berdiri di sampingnya.
"Ohhhh..." pekik Nara.
"Nara maaf ibu tidak sengaja!"
Kai berdiri dari duduknya dan menarik lengan Nara menuju kamar mandi. Kai menyalakan air kran dan membasuh tangan Nara yang terkena sayur panas tadi.
"Aku tidak apa-apa terimakasih" kata Nara sembari merasa tidak enak. Kai tidak melepaskan tangan Nara yang di pegangnya.
__ADS_1
"Sebaiknya kau oleskan salep agar tidak melepuh"
"Iya baik"
"Hen kita ke rumah sakit sekarang"
"Hah rumah sakit?"
Laki-laki ini sulit di tebak terkadang baik, tapi terkadang jutek. sekarang ia perhatian dan mengajak ku ke rumah sakit.
"Tidak perlu ini hanya butuh di olesi salep saja"
"Hen siapkan mobil"
"Baik tuan"
"Siapa yang menyuruh mu duduk di depan?" Nara dan Hendra saling lihat. Lalu Hendra membukakan pintu mobil untuk Nara.
"Terimakasih" kata Nara yang sekarang duduk bersebelahan dengan Kai di kursi belakang.
Pagi itu tiba-tiba hujan, entah kenapa padahal tadi cuaca cerah. Karena udara dingin di tambah AC mobil yang membuat semakin dingin akhirnya Nara tertidur lelap di samping Kai.
Semalaman Nara tidak bisa tidur karena Kai tertidur di pangkuannya.
Tanpa sengaja Nara menyandarkan kepalanya di bahu Kai.
__ADS_1
"Apa kita jadi ke rumah sakit tuan?" Hendra melirik dari spion. Ia memandang Nara yang tertidur lelap.
"Langsung pulang saja, nanti Carikan obat untuk luka bakar Nara"
"Baik tuan, saya rasa di rumah ada persediaan obat nanti akan saya cari"
"Hmmm"
Sepanjang perjalanan pulang Nara tertidur lelap dan bersandar pada Kai.
Hendra menghentikan mobilnya di halaman rumah. Ia meraih payung dan membuka pintu mobil untuk Kai.
Kai melarang Hendra membangunkan Nara. Ia mengangkat tubuh Nara menuju rumah sembari di payungi oleh Hendra.
Tuan muda kemarin anda begitu benci padanya, sekarang anda menggendongnya. ada apa ini apa sudah mulai tumbuh benih cinta di hati gersang anda? -Hendra-
Kai meletakan tubuh Nara perlahan di atas ranjang. Hendra memberikan obat luka bakar yang di minta Kai.
"Saya rasa lukanya harus di bersihkan dulu tuan baru di olesi obat ini"
"Kemarikan aku saja yang melakukannya!" Hendra mengulurkan kotak obat yang di pegangnya.
Kai membersihkan tangan Nara yang terlihat memerah karena peradangan akibat tersiram kuah sayur panas tadi. Ia telaten mengolesi luka itu dengan salep.
"Hen kau boleh pulang jika nanti aku perlu, aku akan menelpon mu"
__ADS_1
"Baik tuan saya pulang dulu, selamat hari libur tuan" Hendra bergegas pergi meninggalkan Kai dan Nara di kamar mereka.
Sementara Kai melepas bajunya dan mengganti dengan pakaian santai ia lalu berbaring di samping Nara.