Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 54 Gembel Papan Atas (1)


__ADS_3

"Kau berkelahi dengan Aska?" Raya memandang wajah Rama yang juga lebam disana sini. Siang itu Rama sengaja menunggu Raya keluar dari rumah Aska untuk pergi berbelanja bersama seorang pelayan di rumah mewah itu.


Rama menarik tangan Raya dan mengajaknya bicara tapi Raya sekarang marah padanya karena ketahuan ia dan Aska bertengkar kemarin malam.


"Aku harap kau tidak ikut campur. Situasi sedang sama-sama sulit untukku dan Aska. Jika kau juga terlibat maka akan lebih berbahaya lagi. Keluargamu bisa terseret dalam masalah ini"


Rama terdiam, benar juga yang di katakan Raya Usaha ayahnya bisa saja di lipat hancur oleh tuan Bram. Sekarang Rama sadar betapa sulit posisi Aska. Ini bak buah simalakama, ia membela Raya semua akan hancur tapi jika ia tidak membela Raya sebagai pria Aska seperti tidak punya harga diri.


"Baiklah Raya aku mengerti" Rama membiarkan Raya pergi.


Percakapan kembali ke Aska dan tuan besar. Aska kembali disidang di ruang kerja tuan besar. Disana nyonya Ariani berdiri mematung menitikan air matanya. Ia tidak ingin berpisah dengan Aska. Tapi ia juga tidak mungkin melawan kehendak suaminya.


"Baik pa, Aska minta maaf karena sudah berbuat tidak baik. Selama ini papa dan mama sudah mendidik Aska dengan sangat baik. Aska sangat berterimakasih. Aska memilih pergi dari keluarga Admaja jika itu bisa meluluhkan hati papa"


Nyonya Ariani terisak memeluk bibi Jang. Sementara tuan Bram berbalik membelakangi Aska. Hatinya sedih dan kesal mendengar Aska lebih memilih gadis jelata itu.

__ADS_1


"Pergilah...." kata tuan Bram.


Aska berbalik dan menghampiri ibunya. Ia memekuk erat ibunya sambil meminta maaf atas keputusan besarnya.


Sebagai seorang ibu hati nyonya Ariani jelas hancur tapi ia bangga kepada putranya yang memiliki pendirian dan tidak juga berat dan silau akan harta ayahnya.


Aska meninggalkan rumah tanpa membawa mobil dan fasilitas mewah yang selama ini ia miliki. Aska berjalan keluar gerbang rumah, para pengawal dan penjaga rumah terlihat diam seribu bahasa dan hanya menundukan kepala ketika Aska melalui mereka.


Seperti kesepakatan awal, tuan Bram akhirnya membebaskan Raya dari pekerjaannya sebagai pelayan di rumah keluarga Admaja. Ia juga tidak lagi mengganggu Raya dan ibunya. Raya tahu kenapa tuan besar bisa berubah haluan, ia mendapat cerita dari bibi Jang atas keputusan Aska.


"Sedang apa kau di pinggir jalan?" Raya segera menoleh ke sumber suara. Ternyata Aska keluar dari halaman di samping rumah Raya. Aska rupanya menyewa sebuah rumah kosong yang letaknya persis bersebelahan dengan rumah Raya.


"Aska?" Raya berhambur memeluk Aska ketika Aska berjalan mendekatinya.


"Hei kau genit sekali bagaiman kalau ada yang melihat kita?"

__ADS_1


"Aku tidak perduli" Raya menenggelamkan wajahnya di dada Aska.


Penampilan Aska kini terlihat berbeda. Tuan muda yang selalu rapi dengan stelan jas mahal dan mobil sportnya kini hanya mengenakan kaos dan celana jeans. Jam tangan mahal yang biasa menghiasi pergelangan tangannya pun raib. Tangannya terlihat polos tanpa aksesoris apapun.


"Maafkan aku" Bisik Raya yang masih memeluk Aska.


"Aku akan menghukummu untuk semua ini"


Raya melepas pelukannya dan memandang Aska dengan berurai air mata.


"Kau harus membayar pengorbannaku ini dengan hidup bersamaku sampai kita tua nanti"


Raya tersenyum manis memandang Aska dan ia mengangguk menyetujui permintaan Aska barusan.


[Aska mengecup kening Raya. Hanya kening bukan bibir]

__ADS_1


__ADS_2