
Sore itu Raya pergi ke dokter spesialis kandungan di temani Aska. Dokter spesialis yang menangani Raya sejak hamil pertama sampai usia kandungan mendekati lahiran adalah seorang dokter senior yang sudah sangat berpengalaman. Aska meminta yang terbaik dalam setiap pemeriksaan yang istrinya jalani. Masalah uang itu soal kecil baginya.
Dokter terlihat fokus menatap layar monitor di depannya yang nampak janin Raya di sana.
"Bagaimana dokter?" tanya Aska cemas.
"Kondisi kandungan bagus calon bayi kalian sehat semua"
"Sehat semua?" Raya mengerutkan keningnya.
"Iya kau mengandung bayi kembar nyonya, aku sarankan mulai lebih berhati-hati. kemungkinan kaki dan tangan mu bisa saja membengkak karena ada jaringan saraf yang tertekan"
"Kembar dokter?" tanya Raya dan Aska bersamaan.
"Benar kembar"
"Raya terharu dan hampir meneteskan air mata.
"Lalu apa jenis kelaminnya sudah bisa terlihat?" tanya Aska semakin penasaran.
"Sebentar..." dokter terlihat serius dan semua di ruangan itu hening dan tegang. Setelah beberapa saat akhirnya dokter selesai memeriksa jenis kelamin calon bayi kembar Raya dan Aska.
"Jenis kelamin bayi kembar ini adalah laki-laki dan perempuan"
Aska tidak sabar ingin memeluk Raya dan mengucapkan terimakasih. Keduanya di selimuti keharuan yang membuncah.
"Nyonya jaga kesehatanmu dan banyaklah beristirahat"
"Baik dokter"
"Dua Minggu lagi kembalilah kesini untuk pemeriksaan lanjutan"
"Baiklah dokter"
__ADS_1
Sesampainya di rumah Aska begitu menjaga Raya, ia takut istrinya merasa tidak nyaman. Sebentar-sebentar ia bertanya tentang keadaan Raya.
Aska duduk di samping Raya yang sedang rebahan bersandar tumbukan bantal. Aska mendengarkan calon anak mereka yang masih di dalam kandungan. Terlihat sesekali perut Raya bergerak-gerak lucu. Aska takjub dan gemas melihatnya.
"Apa yang sedang kalian lakukan di dalam sana nak?"
"Raya apa aku harus cuti kerja saja agar aku bisa menjagamu?"
"Tidak perlu sayang, kenapa harus cuti, nanti bagaimana perusahaan?"
"Biar Tan yang mengurus semuanya"
"Tidak perlu sayang..."
"Baiklah kalau begitu aku akan meminta Tan mencari pengawal untuk mu"
"Pengawal?"
"Tidak perlu sayang, di rumah ini ada pelayan"
"Sudahlah jangan membantah ku Raya, aku sedang cemas setengah mati. Kau hamil anak kembar. Aku ingin memastikan kau baik-baik saja. Aku hampir gila Raya!"
"Hahaha baiklah sayang, terserah kau saja. Tapi bisakah aku meminta pengawalku itu adalah Yuki?"
"Yuki? gadis ceroboh itu?!"
"Sayang sudah ku bilang ia tidak bersalah, aku yang salah"
"Tidak Raya"
"Kalau begitu aku tidak mau!"
"Ya sudah aku akan memanggil gadis itu besok"
__ADS_1
Aska menyerah setelah berdebat dengan Raya malam itu. Paginya ia bicara pada Tan begitu asistennya itu tiba di rumah untuk menjemputnya.
Aska pura-pura meminta Tan mencari seseorang pengawal pribadi untuk Raya. Aska tahu Tan masih berhubungan dengan Yuki.
"Tan Carikan aku orang untuk menjaga Raya"
Tan terdiam, ia langsung teringat Yuki.
"Tuan muda bagaimana kalau ..Yuki?"
"Kau gila?! dia hampir mencelakai Raya dan kau ingin aku kembali memperkerjakan dia menjaga istriku?!"
"Maaf tuan muda ..tapi gadis itu bisa bela diri dan cekatan. Saya rasa ia bisa menjaga nona"
"Yasudah suruh dia kemari, aku ingin bicara langsung padanya"
"Baik tuan muda"
Tan kau sudah benar-benar gila pada gadis itu. Sampai kau berani padaku seperti ini, dan aku kasihan juga melihat mu.
Yuki menghadap Aska dengan gemetar. Ia masih ciut nyali jika berhadapan dengan pria angkuh dan menakutkan seperti Aska. Meski Tan sudah memberi tahunya jika tuan muda memberinya satu kesempatan dan bersedia memperkerjakan ya kembali. Yuki tetap saja merasa tidak pantas. Tapi ia butuh pekerjaan dan terlebih ia senang dengan Raya. Majikan perempuannya itu sangat baik dan ramah.
"Jangan sampai kejadian kemarin terulang" suara dingin Aska membuat Yuki menunduk.
"Jaga baik-baik istriku, kau hanya mengawasinya saja. Untuk urusan dapur kau tidak perlu turun tangan karena aku sudah dapatkan koki terbaik"
"Baik tuan muda"
"Jika terjadi sesuatu karena keteledoran mu, maka kau tidak akan bisa menebak apa yang akan aku lakukan padamu!"
"Baik tuan muda"
Aska berjalan pergi, Yuki terlihat diam antara takut dan antusias. Kali ini pekerjaannya tidak main-main, ia menjaga Nyonya muda Admaja yang sedang hamil anak kembar.
__ADS_1