
Kehamilan...ya benar Naila tidak salah dengar tadi sewaktu di mobil Arsen mengucapkan kata itu membuat hati Naila bergetar.
Naila tertatih berdiri di depan cermin riasnya, ia meraba perutnya menghayal jika ia hamil. senyum terlihat menghiasi bibir mungil Naila. wajahnya sumringah seolah berharap keinginan Arsen adalah nyata.
Tapi apa benar Arsen menginginkan anak dariku? atau dari wanita lain?! jangan ke-GR an Naila.
Naila mencubit tangannya sendiri menyadarkan dirinya dari lamunan yang indah tadi. tiba-tiba Naila merasa sedih selama pernikahan bahkan ia tidak pernah bersentuhan dengan intim dan penuh kasih sayang dengan Arsen. Naila malah ingat kejadian brutal yang di lakukan pria itu di tokonya beberapa minggu yang lalu.
Naila meraba bibirnya yang pernah di cium paksa oleh Arsen. tiba-tiba jantungnya berdebar mengingat bibir mereka saling bersentuhan.
"Ehm!"
Naila tersentak mendapati Arsen berdiri di belakangnya. entah sejak kapan pria itu ada disana.
"Kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dulu?!" kata Naila sewot.
__ADS_1
"Aku sudah mengetuk pintu tapi kau hanya diam seperti orang melamun"
"Siapa bilang aku melamun?! aku hanya...hanya sedang ..ummm"
"Menghayal?" Arsen menebak pikiran Naila dan itu tepat. wajah Naila memerah karena tersipu malu.
Arsen dengan gerakan tangannya meminta Naila duduk di atas ranjang. sementara dengan sebelah kakinya Arsen menarik kursi di depan meja rias. ia duduk sembari mengangkat sebelah kaki Naila ke atas pangkuannya. Naila terbelalak mata bulatnya memandang wajah Arsen yang terlihat serius. tangan Arsen sibuk membuka perban di kaki Naila.
"Kau pasti terkejut kenapa aku melakukan semua ini?" Lagi-lagi seolah Arsen bisa membaca pikiran Naila.
"Kau sudah tahu bukan kalau kau itu merepotkan? jadi jaga dirimu baik-baik dan berhati-hatilah! lihat kaki mu tertimpa vas sampai seperti ini!" Arsen prihatin melihat jemari kaki Naila yang masih membiru karena lebam.
Arsen meraih gunting kecil untuk menggunting tali perban. Dengan kasar Arsen menurunkan kaki Naila dari pangkuannya. tanpa berkata apapun ia berjalan keluar kamar Naila dan kembali ke kamarnya sendiri.
Naila sedikit menyesali ucapannya barusan. seharusnya ia tidak sekasar itu pada Arsen ya
__ADS_1
yang sudah mau peduli padanya.
Tapi bukankah tugas suami memang untuk mempedulikan istrinya?!
Naila menarik selimut tebalnya lalu berbaring ia malas berpikir tentang Arsen. Nai memejamkan matanya lalu berusaha tertidur tapi semakin ia berusaha untuk tidur malah bayangan wajah Arsen yang melintas.
***
Paginya Arsen sudah siap dengan stelan kerjanya. ia duduk di ruang makan menikmati makan pagi sembari mendengarkan Pitt membacakan schedule untuk dirinya pagi itu.
Arsen melirik ke arah Naila yang tertatih tatih duduk di kursi. Naila sengaja menghindari Arsen dengan duduk di ujung. pelayan melayani makan pagi Naila karena kakinya sedang sakit. biasanya Naila akan mandiri menyiapkan sarapannya sendiri sebelum berangkat ke toko.
Pitt yang berada di tengah rasa canggung itu merasa kurang enak. ia permisi pada Arsen untuk keluar memanasi mesin mobil.
"Kau sudah minum obat mu?" suara Arsen memecah keheningan di ruang makan. dua orang pelayan terlihat menguping kedua tuannya dari balik dinding pembatas.
__ADS_1
Naila hanya mengangguk menjawab pertanyaan Arsen tadi. ia sibuk mengunyah roti gandumnya.
"Bagus, sebaiknya hari ini kau tidak berulah lagi karena aku akan sangat sibuk" Arsen berdiri dari duduknya merapikan jasnya dan melangkah pergi tanpa memandang Naila.