
Nara pergi ke jembatan disana ia meletakkan seikat bunga. Dalam hatinya merapal harapan agar Bastian bisa segera di temukan.
Nara menatap aliran sungai yang mengalir deras di bawah jembatan. Ia tidak bisa membayangkan keberadaan Bastian di bawah sana setelah insiden tabrak lari yang menimpanya.
Sementara di rumah, Kai sudah bersiap akan pergi ke kantor Admaja Group.
"Hendra bacakan apa schedule ku hari ini"
"Hari ini akan ada meeting dengan klien kita dari Jepang lalu di lanjut menjamu klien kita dari Belanda tuan"
"Baiklah, apa Deniz akan ke perusahaan hari ini?"
"Saya rasa tidak tuan karena kakek anda memintanya datang ke rumah"
"Sepertinya kakek akan membicarakan soal jabatan yang sekarang aku tempati"
"Apa kemungkinan Kakek anda akan memberikan posisi itu pada tuan Deniz?"
"Besar kemungkinan untuk itu terjadi"
Wajah Kai menegang, Hendra bungkam tidak berani lagi bicara.
"Oh ya dimana gadis bodoh itu?"
"Saya lihat tadi pagi nona ada di jembatan"
"Jembatan? untuk apa? Hen apa dia bunuh diri disana?"
__ADS_1
"Saya rasa tidak tuan, mungkin nona hanya berziarah saja"
"Abaikan dia, siapkan mobil sebelum kita kesiangan"
"Baik tuan"
Tidak berapa lama Nara muncul dengan sepedanya. Di keranjang sepedanya ia menempatkan bunga sepatu yang baru ia petik masih terlihat segar.
Kai bersin begitu menatap bawaan Nara.
"Hei untuk apa kau bawa bunga itu kemari? kau pikir rumah ku toko bunga milik mu?!" kata Kai sembari menahan bersin. Hendra dengan sigap menyerahkan saputangan bersih.
"Maaf aku tidak tahu jika anda alergi bunga"
"Singkirkan benda itu dan kau kerjakan tugas mu! pagi ini kau tidak melayani ku malah keluyuran tidak jelas"
"Maaf tuan Kai saya ada urusan penting"
"Baik tuan"
Nara memandangi mobil Kai yang menjauh, ia segera menyingkirkan bunga yang ia bawa tadi.
"Aneh sekali bisa-bisanya alergi dengan benda secantik ini"
Nara segera bersiap untuk ke toko bunga miliknya. setelah sekian lama libur ia ingin kembali membuka toko bunga miliknya.
Lagi pula kalau dia terus di rumah ia akan selalu ingat dengaan Bastian.
__ADS_1
***
Di rumah Kakek
Tuan Aska tiba di rumah ayahnya dengan Deniz putera ke duanya. Mereka akan meeting bertiga mengenai perusahaan yang sekarang di pimpin oleh Kai.
"Ayah tetap mau posisi Presdir itu untuk Deniz"
"Tapi ayah juga jangan lupa bahwa Kai yang membantu kita memajukan Admaja Group sebesar sekarang"
"Iya kek, lagi pula Deniz tidak mempermasalahkan posisi apapun di perusahaan"
"Aku tidak perduli cepat atau lambat harus ada pergantian posisi"
"Tapi kek.."
"Deniz sudahlah jangan membantah kakek atau kau tidak akaan dapat sepeserpun dari Admaja Group"
"Pa lebih baik Deniz belajar dulu dari Kai baru setelah layak ia akan kita angkat menjadi pemimpin perusahaan. Lagi pula jika sampai terjadi sesuatu dengan perusahaan apa papa tidak cemas?"
"Apa maksud mu Aska?"
"Jika perusahaan mengalami kebangkrutan karena Deniz belum sanggup memimpin bagaimana?"
Tuan Bram terdiam, benar juga yang di katakan anaknya.
"Baiklah sekarang akan aku biarkan Kai memegang perusahaan kita. Nanti pada saatnya perusahaan harus beralih kepemimpinan"
__ADS_1
"Iya pa tapi Aska harap papa juga adil dan tidak membedakan antara Deniz dan Kai keduanya sama-sama cucu laki-laki papa"
"Mereka memang cucuku tapi Deniz adalah darah daging ku"