
"Selamat pagi kakak" Deniz tiba di hadapan Kai.
Kai mengerutkan keningnya, ia tidak menyangka sepagi itu Deniz tiba di rumahnya.
"Sepagi ini?"
"Aku sengaja ingin makan pagi bersama mu" Deniz melirik ke arah dapur. Nara sedang membuat kopi racik untuk Kai.
"Kakak ipar boleh aku minta secangkir kopi juga? jika kau tidak keberatan"
"Baik" Nara melirik Kai yang terlihat kaku.
Tidak biasanya Kai badmood ketika berhadapan dengan Deniz.
"Hari ini kakek meminta ku untuk ikut meeting pagi"
"Bagus, meeting pagi ini kau wakili aku"
"Tapi kak, aku belum percaya diri memimpin meeting"
"Hendra akan membantu mu, kau tenang saja"
"Baiklah kalau begitu"
Nara menyuguhkan dua cangkir kopi untuk Kai dan Deniz.
"Sebaiknya kau berangkat sekarang atau kau akan terlambat, Hendra akan mengantar mu ke kantor"
"Lalu kakak bagaimana?"
"Aku akan menyusul nanti, sekarang aku ada urusan sebentar"
"Baiklah kalau begitu"
Sebelum pergi Deniz melirik Nara yang berdiri di dekat Kai.
__ADS_1
Aku tahu Deniz, kita tumbuh dewasa bersama. Aku tahu kau selalu menyukai mainan ku sejak kecil.
Kau boleh saja mengambil posisi Presdir Admaja Group dari ku tapi aku tidak akan membiarkan mu mendekati mainan ku.
"Maaf, anda tidak ke kantor?" Nara akhirnya bersuara setelah sejak tadi memperhatikan Kai yang sepertinya sedang melamun.
"Aku ingin menemani mu ke toko bunga"
"Apa? menemani saya?"
"Kenapa? apa tidak boleh?"
"Tentu saja boleh tapi bukankah Anda sibuk?"
"Hanya beberapa jam saja aku ingin melihat toko bunga milikku dan juga pekerja ku yaitu kau. apakah kau bekerja dengan baik atau tidak"
"Baiklah terserah anda kalau begitu"
Dasar menyebalkan, dia sebut aku pekerjanya ....
"Hmmm"
"Maaf saya akan naik sepeda saja,silahkan anda menyusul dengan mobil"
"Aku tidak mau, kalau begitu aku juga akan naik sepeda bersama dengan mu"
Nara terkejut dan tidak percaya dengan sikap Kai pagi itu.
Pria itu seperti salah minum obat, atau jangan-jangan vitamin yang biasa ia minum tertukar dengaan obat lain.
Jadilah Kai yang mengayuh sepeda dan Nara membonceng di belakang. Kai nampak mahir menaiki sepeda itu.
"Kau berpegangan lah kalau tidak ingin terjatuh!"
Dengan ragu Nara merangkul pinggang Kai. Keduanya bersepeda santai menuju toko.
__ADS_1
Udara pagi yang sehat dan masih bersih serta sinar matahari yang baru terbit membuat suasana semakin hangat.
Ada sesuatu kebahagiaan yang terasa menyusup di hati Nara. Ia tidak tahu apakah itu karena perubahan sikap Kai pagi itu atau karena hal lain.
Kai dan Nara tiba di toko bunga, keduanya bergegas masuk ke dalam toko.
Nara membuka jendela dan pintu samping. Ruangan terlihat tertata dan bersih. Aroma bunga segar menyeruak memenuhi ruangan. Seperti pengharum alami.
Kai duduk di kursi yang di sediakan Nara. Laki-laki itu dengan seksama mengamati Nara melakukan pekerjaannya yaitu merangkai bunga-bunga.
Nara memotong setangkai kecil bunga Daisy dan ia merangkainya. Nara berdiri dari duduknya lalu menempelkan rangkaian kecil bunga Daisy itu di saku jas Kai.
"Apa yang kau lakukan?"
"Apa anda keberatan? aku rasa ini bagus sekali serasi dengan jas hitam yang anda kenakan"
"Kau pikir aku akan ke acara pernikahan?"
"Yasudah kalau begitu lepas saja" Nara hampir meraih bunga yang sudah menempel di jas Kai. Tangan Kai menahannya.
"Jangan menyentuhnya, nanti akan ku buang sendiri!"
"Yasudah.." Nara melanjutkan pekerjaannya.
"Tuan anda di tunggu untuk meeting" Hendra tiba di toko bunga itu untuk menjemput Kai.
"Baiklah ayo kita berangkat"
Kai melangkah pergi dari toko di iringi Hendra yang bingung dengan aksesoris bunga di jas Kai.
Kai sengaja tidak membuang bunga pemberian Nara, ia membiarkan benda cantik itu menempel di jasnya layaknya jas pengantin.
"Silahkan tuan" Hendra membuka pintu ruang meeting begitu tiba di gedung Admaja Group.
"Selamat siang maaf saya terlambat karena ada urusan lain. Mari kita mulai meetingnya"
__ADS_1
Semua di ruangan itu terkecoh dengan penampilan sang Presdir tidak biasanya Presdir Admaja Group terlihat sweet dengaan aksesoris lucu seperti bunga di tambah lagi wajah sang Presdir juga terlihat ramah sangat berbeda dari biasanya.
Semua mata tertuju pada Hendra yang berdiri di belakang Presdir. Seolah mereka menuntut jawaban apa yang sebenarnya terjadi dengan pimpinan mereka.