Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 69 Tan


__ADS_3

Raya duduk di sofa ruang tengah setelah selesai membersihkan rumah seorang diri. Ia kelelahan dan kakinya terasa nyeri. Raya memijat perlahan sambil menahan sakit.


"Kenapa sayang? kau kesakitan?" Aska yang baru saja pulang bekerja masih terlihat rapi dengan stelan jasnya. Ia duduk di samping Raya dan mengangkat kaki Raya ke atas pangkuannya.


"Kaki ku sedikit nyeri sayang, mungkin kram"


Aska memijat kaki Raya perlahan. Raya memandangi Aska. Ia tidak pernah bermimpi seorang tuan muda seperti Aska memijat kakinya. Pria itu bahkan terlihat lihai dan tidak kaku saat memijat.


"Kau pandai memijat? aku tidak menyangka"


"Dulu saat aku cidera berlatih Judo, bibi Jang selalu memijat kaki atau tanganku. Orang tua itu yang mengajari ku memijat. Ia selalu mengomel kalau melihatku terluka" Aska tersenyum senang mengingat bibi Jang.


"Kau sangat merindukannya?"


"Tidak..." Aska selesai memijat kaki Raya. Ia merebahkan diri di sofa dan menarik lengan Raya agar berbaring di atas tubuh Aska.


"Kau berkata tidak, tapi matamu tidak bisa berbohong"


"Nenek tua itu meski cerewet sekali tapi ia sudah seperti ibuku. Ia merawat ku sejak kecil dan tidak di pungkiri ia mengajariku banyak hal" Aska secara tidak langsung mengakui jika merindukan bibi Jang.

__ADS_1


Raya tersenyum dan memberikan kecupan di bibir Aska.


"Hei nona kau mencuri kesempatan untuk menciumku?!" Aska membalik tubuh Raya dan bertukar posisi. Kini ia yang menguasai dan leluasa menciumi Raya yang berteriak dan menahan tawa karena kegelian.


____


Tan tiba di apartemen mewahnya. Ia membuka stelan jas dan berganti jubah mandi. Tan mengguyur badannya di bawah shower. Tubuhnya terasa penat setelah bekerja seharian dan ketika kembali ke apartemennya ia merasa sepi.


Mungkin ada benarnya kata tuan muda, aku harus segera mencari pendamping. Aku iri melihatnya bermesraan dengan nona setiap waktu.


Selesai mandi Tan menju dapur membuat segelas minuman hangat. Ia memanggang roti dan mengolesinya dengan sedikit selai. Tidak lupa ia juga memesan salad dari sebuah restoran ternama.


Saat tuan Bram mengusir anak lelakinya dari rumah, Tan bergeming ia tetap setia pada Aska meski taruhannya ia akan di pecat oleh tuan besar dan tidak akan di terima bekerja di perusahaan manapun.


Saat ini Aska sedang mengembangkan bisnisnya yang maju pesat dengan kerja kerasnya sendiri. Tan juga terlibat dan membatu banyak. Ada satu yang Tan cemaskan yaitu kalau tuan besar akan menghancurkan bisnis yang Aska mulai dari nol.


Bel pintu apartemen berbunyi, Tan berjalan membuka pintu. Di sana berdiri seorang gadis muda dengan baju seragam restoran. Gadis itu khusus mengantarkan Salad pesanan Tan.


"Maaf tuan boleh saya masuk dan menyajikan salad segar ini untuk anda?"

__ADS_1


Tan mengerutkan keningnya, tidak biasanya restoran berlaku aneh begitu.


"Kenapa tidak di sajikan dari restoran saja?"


"Anda adalah pelanggan utama restoran kami jadi pak manajer meminta saya memberi servis terbaik untuk pesanan anda"


"Servis terbaik?!"


"Benar tuan apa anda keberatan?"


Tan menggelengkan kepala ia masih bingung dengan gadis itu.


"Boleh saya pinjam dapurnya?"


"Pakai saja"


Tan duduk di sofa menunggu si gadis manis membuatkan salad yang enak untuknya. Bahan-bahan yang di bawa memang sangat segar dan ia juga membuat sausnya secara khusus.


"Silahkan tuan, kalau begitu saya permisi. jika ada komplain silahkan menghubungi manajer kami. Nama saya Yuki"

__ADS_1


Tan memandang gadis bernama Yuki yang berjalan menuju pintu keluar. Karena keberadaan gadis itu untuk beberapa saat apartemennya serasa tidak sepi.


__ADS_2