
Falsh back
"Kau tidak akan mampu mengambil hatiku! Aku tidak sudi mencintai mu!" kata-kata Arsen bak belati yang menghunus hati Naila.
Naila berdiri mematung mengenakan gaun pengantinnya. Ia tidak punya pilihan lain. Perjodohan gila itu sudah membuatnya mati rasa. Entah sampai kapan ia harus menghadapi Arsen Admaja yanng arogan dan ketus itu.
Kenyataannya pernikahan palsu itu berjalan satu tahu dan selama itu pula Naila tinggal satu atap dengan pria beku itu. Ia tidak tahu sampai kapan pernikahan itu akan bertahan.
Arsen tidak pernah menyentuhnya selama pernikahan satu tahun ini. Jangankan menyentuh memandang Naila dengan senyum saja tidak pernah. Pria itu selalu saja dingin dan ketus pada Naila.
Pernah Naila mengutarakan perasaannya untuk berbisah dari Arsen tapi pria itu mengancam akan menghancurkan toko kakek Naila.
Demi sang kakek yang sangat di sayangi oleh Naila ia memgalah hidup bersama monster seperti Arsen.
Pagi itu Arsen duduk lebih dulu di meja makan sementara Naila masih di kamarnya. pagi ini Nai merasa kurang sehat ia mual dan sedang malas makan.
Mama Sara mengetuk pintu kamar Naila ia mengajak menantunya itu untuk makan pagi bersama.
"Hoekkk..."
"Nai kau baik-baik saja?" terdengar suara mama bertanya dari balik pintu kamar yang tertutup. tidak berapa lama Naila keluar kamar dengan wajah sedikit pucat.
"Nai kenapa apa kau sakit?" tanya mama lagi.
"Iya ma Nai sedikit tidak enak badan"
"Yasudah kau mau turun untuk sarapan atau mau di bawakan ke kamar saja makanannya?"
"Saya ikut turun saja ma"
Setibanya di meja makan, Arsen melirik Naila yang duduk disampingnya dengan wajah pucat. Arsen sudah menghabiskan makan paginya tanpa menunggu Naila. Ia harus bergegas karena ada meeting di Admaja Group.
__ADS_1
"Mam aku pergi dulu" kata Arsen seraya mendorong sedikit kursinya ke belakang. Ia merapikan jasnya dengan gerakan terdidik, mengancingkannya. Matanya melirik bibir Naila yang sedikit membiru. gadis itu sudah mirip zombie di mata Arsen.
"Arsen istrimu sakit, apa tidak sebaiknya di bawa ke rumah skait?" tanya mama Sara.
Arsen terdiam mengamati Naila dengan sorot mata tajamnya. Menunjukan penyangkalan untuk pendapat mama tadi. Naila yang tahu diri segera menjawab mama.
"Nai baik-baik saja ma, istirahat sebentar pasti sembuh"
"Yasudah nanti mama panggilkan dokter keluarga ya? Soalnya mama harus pulang papa kembali dari luar negeri hari ini"
Naila mengangguk pasrah. Ia meletakkan sendoknya merasa tidak bergairah menyentuh makanannya.
"Apa kamu hamil Nay?" tanya mama tiba-tiba membuat Arsen salah tingkah. Naila melirik pria yang hampir berjalan pergi itu.
"Tidak mungkin ma dia hamil!" jawab Arsen tegas.
"Lho tidak mungkin kenapa? Kailan sepasang suami istri wajar jika Naila hamil"
"Sudah nanti pokoknya Naila harus di periksa dokter"
Bagaimama gadis ini hamil? Aku tidak pernah melakukannya?!
Arsen bergegas ke kantor di temani asistennya, sementara mama Sara pulang ke rumahnya sendiri dan Naila tidak jadi makan, ia berniat kembali ke kamarnya untuk istirahat saja.
Saat akan berjalan menaiki anak tangga Naila jatuh pingsan. Para pelayan ribut dan panik. Mereka mengangkat tubuh Naila ke kamarnya lalu menelpon Arsen.
Pitt asisten pribadi merangkap sekretaris Arsen yang mengangkat telepon. Pitt mendekati tuannya yang baru saja duduk di kursi kerjanya dan sibuk memainkan ponselnya sementara menunggu Pitt menyiapkan laptop diatas meja kerjanya.
"Siapa yang menelpon Pitt?"
"Pelayan di rumah tuan"
__ADS_1
"Ada apa dengan mama?" Arsen meletakkan ponselnya di atas meja beralih memandang asistennya.
"Bukan nyonya Sara tapi, nona Naila pingsan tuan"
Dengan mimik muka biasa saja Arsen kembali meraih ponselnya. Ia hanya diam tidak menggubris istrinya yang pingsan di rumah.
"Panggil dokter Hendra suruh dia periksa Naila"
"Baik tuan"
Dokter Hendra adalah dokter keluarga Admaja sekaligus sahabat Arsen sejak masih di bangku sekolah menengah.
Meski berusaha tidak peduli tapi Arsen kalah juga, ia gelisah seharian tidak fokus di meeting. Bahkan ia lebih banyak diam saat meeting berlangsung. Pitt memandang cemas karena beberapa klien nampak sedikit kecewa pagi itu. Tidak seperti biasanya presdir Admaja Group terlihat kurang profesional.
"Pitt kita pulang aku ingin ...ingin beristirahat di rumah" kata Arsen.
Bilang saja anda cemas pada nona Naila tuan, begitu saja gengsi!
"Baik tuan"
Setibanya di rumah arsen segera menaiki anak tangga ia sembari menerima telepon dari Hendra.
"Pastikan Naila meminum obatnya" kata Hendra sebelum menutup telepon. Arsen langsung membuka pintu kamar Naila tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Gadis itu tergolek di ranjangnya.
Arsen melirik obat dan makanan yang masih utuh di atas meja. Naila melihatnya diam lalu memalingkan pandangannya dari Arsen. Bulir bening menetes membasahi pipi Naila. Arsen meraih sebutir kapsul dan mengulurkannya pada Naila.
"Minum ini!"
Pitt dan seorang pelayan berdiri di depan pintu kamar Naila melihat Arsen berlaku sedikit kasar pada Naila yanh sedang sakit.
Naila hanya diam tidak mau minum obat ia menatap tajam ke arah Arsen.
__ADS_1
"Berani sekali kau memandangku seperti itu?! Baiklah aku tahu cara membuatmu minum obat ini" Arsen menyelipkan capsul itu di bibirnya lalu menyuapkannya ke bibir Naila melalui bibirnya. Tubuh Arsen berada diatas tubuh Naila dan bibir keduanya bersentuhan. Kapsul itu lolos dari bibir Arsen. Naila membelalakan matanya terkejut ssementara sang devil menutup matanya menikmati sentuhan pertama mereka.