
Arsen muncul di toko Naila bersama Pitt yang berdiri di belakang pria itu. kaca mata hitam bertengger di atas hidung mancung pria tampan itu. ia mengedarkan pandangannya menatap tumpukan karton berisi vas dalam berbagai ukuran dan motif.
Naila memperhatikan gerak gerik Arsen dari kejauhan. ia bergegas menghampiri suaminya itu.
"Ada apa? kenapa kemari?" tanya Naila sedikit ketus.
"Tidak bisakah kau bicara dengan intonasi lembut padaku?"
Pitt menggelengkan kepalanya ia segera mencegah pertikaian diantara Arsen dan Naila yang akan terjadi.
"Sepertinya toko ini berkembang pesat?" tanya Arsen sembari menyentuh salah satu vas.
"Minggu depan aku akan ada pameran barang-barang kerajinan dari toko ini, jika kau tidak keberatan kau bisa datang"
"Undangan macam apa itu? apa begini cara mengundang suamimu ke pameran bisnis mu?"
__ADS_1
Naila terdiam, ia memang salah karena tidak sopan pada Arsen. Naila mengulangi perkataannya.
"Baiklah tuan Arsen, Minggu depan toko kami akan ada pameran saya harap anda berkenan untuk hadir"
"Hmmm bagus, akan aku pertimbangkan aku sangat sibuk sekali akhir-akhir ini"
Naila memejamkan matanya mencoba bersabar menghadapi tingkah kekanakan suaminya itu.
"Cepat ikut aku" perintah Arsen.
"Kemana? aku tidak bisa meninggalkan toko saat ini"
Naila malas berdebat, ia berjalan meraih tasnya di atas meja kerjanya. Para pelayang yang sejak tadi memandang ke arah Arsen nampak terpesona dengan ketampanan pria itu.
"Gadis-gadis tolong jaga toko dengan baik ya, nyonya kalian akan ku culik sebentar" kata Arsen pada pelayan yang berdiri di dekat pintu masuk toko.
__ADS_1
Dasar genit! batin Naila kesal. ia berjalan di samping Arsen menuju depan pusat perbelanjaan sementara Pitt menuju parkiran mobil.
Arsen membukakan pintu mobil untuk Naila. baru kali ini dalam pernikahan keduanya Arsen berlaku seperti itu. Naila sedikit terkejut dengan tingkah Arsen. terutama Pitt ia juga heran melihat tingkah Arsen yang tidak biasa.
Mobil melaju menuju restoran yang sudah di booking oleh Pitt. bahkan Pitt berinisiatif meletakan buket bunga di meja tempat Arsen dan Naila akan makan siang. ia memberanikan diri melakukan hal yang tidak di perintah oleh Arsen. Pitt hanya ingin Naila tersentuh dengan makan siang itu dan bisa membuka hatinya untuk Arsen begitu juga dengan Arsen bisa mencintai Naila tanpa harus gengsi dengan menutupi perasaannya.
Arsen memandang buket bunga di atas meja begitu juga dengan Naila.
Dasar Pitt bodoh siapa yang memintanya menyiapkan makan siang seromantis ini?! Naila pasti berpikir aku sedang merayunya, cihh jangan harap!
Naila meraih buket bunga itu lalu menghirup wangi nya.
"Tidak masalah jika bunga ini bukan mau mu tapi inisiatif Pitt" kata Naila yang sudah hapal dengan semua yang berhubungan dengan sikap gengsi Arsen.
Naila menarik sedikit kursi lalu duduk tenang mengamati menu yang terletak di atas meja. seorang pelayan datang menghampiri Arsen dan Naila menanyakan pesanan pelanggannya dengan gaya elegan dan sopan.
__ADS_1
Setelah pesanan tiba di meja, Arsen dan Naila tampak menikmati makan siang mereka tanpa keributan. meski tidak ada pembicaraan diantara keduanya tapi setidaknya suasana masih tampak aman terkendali. Pitt dengan was was mengawasi dari kejauhan. ia berharap kedua tuannya itu tidak merusak acara makan siang mereka.
Selesai makan siang Arsen mengantarkan Naila kembali ke tokonya laku ia sendiri bergegas pergi ke perusahaan karena di kejar-kejar meeting panjang hari itu.