Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 204 Tertimpa Vas


__ADS_3

Setelah satu Minggu beristirahat akhirnya Naila kembali aktif di tokonya. ia menata beberapa barang yang baru saja tiba. Naila mengangkat sebuah vas berukuran cukup besar tanpa sengaja vas itu terjatuh pecah dan mengenai kaki Naila. jemari kaki yang malang itu tertimpa bagian bawah vas yang tentunya berat dan pecahan vas menancap di telapak kaki Naila sampai berdarah.


Semua pelayan di toko terlihat panik mereka semakin takut melihat kaki Naila berdarah. padahal Pitt baru saja mewanti-wanti agar berhati-hati jangan biarkan nyonya terlalu kelelahan begitu pesan Pitt dan sekarang terjadi tragedi vas pecah.


"Nyonya kita ke rumah sakit saja"


Naila menahan kesakitan menarik pecahan vas yang menancap di kakinya. Pelayan membawanya ke rumah sakit untuk mendapat penanganan agar luka itu tidak infeksi.


Sementara di Admaja Group Arsen dan Pitt sedang berada di ruang kerja Arsen. keduanya membahas tentang tender baru yang akan mereka limpahkan pada perusahaan lain karena di rasa perusahaan sebelumnya tidak mumpuni untuk menjalankan proyek Admaja Group.


drtt...drtt..


Ponsel Pitt bergetar dari saku jasnya. ia meraih dan membuka pesan masuk. sebuah foto yang berhasil membuat Pitt terkejut sekaligus tidak bisa menyembunyikan paniknya.


"Ada apa Pitt?" Arsen yang menyadari perubahan mimik wajah Pitt bertanya karena penasaran.


Pitt tidak menjawab ia masih mengamati foto di layar ponselnya. Arsen yang tidak sabar langsung berdiri dari duduknya dan merebut ponsel dari tangan Pitt. rahang Arsen menegang.


"Katakan padaku apa itu kaki Naila yang terluka?!"

__ADS_1


"Sabar tuan, nyonya tidak sengaja tertimpa vas saat mengangkat benda itu"


"Apa kau bilang?! tidak sengaja? memangnya di toko itu dia tidak punya pelayan yang bisa membantu mengangkat barang seberat itu?! apa dia pikir dia pekerja bangunan yang memiliki tenaga super?!"


"Ini hanya tragedi tuan"


"Tragedi katamu?!"


Pitt terdiam melihat kemarahan Arsen. tampak jelas tuannya itu sedang mencemaskan sang istri.


Di rumah sakit Naila sudah mendapat perawatan. luka di telapak kakinya sudah di perban saat ini ia sedikit kesulitan berjalan.


"Arsen? kenapa kau disini?" tanya Naila polos.


"Kenapa aku disini?!" Arsen mengedarkan pandangan ke sekelilingnya ia menahan hasratnya untuk mengomel.


"Arsen kaki Naila terkena pecahan vas tapi aku sudah mengobati lukanya. untuk sementara ini ia akan sedikit kesulitan berjalan mungkin dalam waktu dua hari baru akan bisa berjalan normal" kata dokter Hendra. Arsen hanya diam menatap kaki Naila. ia tidak habis pikir dengan tingkah istrinya.


"Jangan lupa ganti perbannya setiap hari" tambah dokter Hendra ia lalu berjalan pergi. Naila terdiam antara takut dan merasa bersalah karena ia kembali merepotkan Arsen.

__ADS_1


"Sudahlah, lain kali jangan kau ulangi lagi" Arsen membopong tubuh Naila berjalan menuju mobil yang terparkir di depan rumah sakit.


Naila terlihat canggung dan tidak nyaman berada di gendongan Arsen tapi ia tidak membantah karena akan semakin memancing amarah pria itu.


"Pitt jalan" kata Arsen setelah duduk di mobil.


"Baik tuan"


Sepanjang perjalanan Arsen hanya terdiam memandang lurus kedepan. sementara Naila memandang pemandangan di luar melalui kaca mobil.


Arsen menoleh melihat kaki Naila yang di perban bahkan jemari kaki itu terlihat sedikit membiru.


"Mulai hari ini hentikan mengangkat benda berat" kata Arsen memecah keheningan. Naila menoleh memandang pria di sampingnya yang melengos tidak mau melihat wajah Naila.


"Sesekali tidak apa mengangkat benda yang sedikit berat"


"Jangan melawan kalau aku bicara! wanita mengangkat benda berat itu tidak bagus untuk kondisi perut dan rahim bisa mempengaruhi kehamilan!"


Pitt yang terkejut mendengar kata kehamilan langsung melihat dari kaca spion. sementara Naila hanya bengong menatap Arsen yang seperti menyesali perkataannya.

__ADS_1


__ADS_2