
"Pergi dari kamarku! Kamarmu ada di sebelah!" kata pria bernama Aersen pada istrinya Naila.
Pernikahan mereka yang baru seumur jagung itu bak di neraka bagi Naila. Suaminya Arsen Admaja sama sekali tidak mencintai dan menginginkan dirinya. Perjodohan itu membuatnya tersiksa.
Semua berawal dari satu tahun yang lalu saat kakek Naila menjodohkannya dengan cucu sahabatanya yang bernama tuan Kai Admaja. Cucu itu adalah si iblis Arsen yang sudah membuat hidup Naila berantakan seperti sekarang ini. Ia bukan sebagai istri Arsen Admaja tapi lebih mirip pelayan.
Naila melangkahkan kakinya menuju kamar pribadinya. Tadi sebenarnya ia berniat merapikan kamar Arsen yang berantakan karena kemarin malam pria itu mabuk dan mengamuk membanting barang-barang di kamarnya dengan brutal. Pelayan hingga asisten pribadi Arsen tidak ada yang berani memasuki kamar itu jadi Naila putuskan untuk merapikannya tapi bentakan Arsen tadi berhasil membuat luka di hati Naila.
"Nai ada apa? kenapa terlihat sedih begitu?" tanya mama Sara yang bertemu Naila di depan kamar Arsen. Mama Sara adalah mamanya Arsen wanita itu baik dan penyayang berbeda sekali dengan sang anak yag bak setan.
"Tidak mam, Arsen hanya lelah tidak mau di ganggu"
"Oh begitu ya, ini Naila mau kemana? Kenapa tidak menemani Arsen istirahat?" tanya mama Sara dengan kening berkerut.
Mama Sara baru saja tiba di rumah itu. Sebulan sekali ia akan datang mengunjungi Naila dan Arsen. Memastikan runah tangga sang anak berjalan lancar dan bahagia.
__ADS_1
"Oh Nai mau ke dapur ma ambil minum"
"Ya sudah kalau begitu mama langsung ke kamar tamu saja ya, besok saja mama bicara dengan Arsen"
"Mam, jangan ke kamar tamu langsung ke kamar mama saja Naila sudah meminta pelayan utntuk membersihkan"
"Oh yasudah kalau begitu"
Terakhir mama Sara menginap dan tidur di kamar tamu Arsen marah besar karena di rumah mewah itu ia sudah menyediakan kamar untuk orang tuanya jika datang berkunjung.
Wajah Arsen merah padam karena tanpa sengaja pasti Naila sudah melihat aset tubuhnya tadi.
"Bisa tidak kau ketuk pintu sebelum masuk ke kamar orang lain?! Lagipula aku sudah mengusir mu kenapa kembali lagi?!" kata Arsen dengan suara bergetar menahan malu bercampur marah.
"Maaf Arsen, di luar ada mama Sara"
__ADS_1
Arsen terdiam sesaat, rahangnya yang menegang terlihat lebih sedikit rileks. Ia berkacak pinggang sembari menatap ke arah pintu kamarnya.
"Jadi mama datang?"
"Iya"
Arsen menggeleng kepala perlahan. Itu artinya ia dan Naila harus memulai sandiwara rutin mereka jika ada kunjungan orang tua. Arsen dan Naila terpaksa pamer kemesraan semu pada keluarga Admaja.
"Dengar Naila kau harua jalankan peranmu seperti biasanya! Malam ini kau tidur di sofa!" Arsen melirik sofa besar berwarna merah yang ada di kamarnya. Naila mengangguk pasrah.
Mau bagaimana lagi Arsen si arogan tidak mungkin mengalah pada wanita untuk tidur di sofa. Ia pasti memilih tidur di ranjang king sizenya.
Arsen menyambar baju ganti dan berlalu menuju kamar mandi. Meski Naila sempat melihatnya telanjang ia tidak rela jika gadis itu mebali melihat tubuhnya saat ia berganti baju.
Selesai ganti baju Arsen segera berbaring di ranjang, ia sama sekali tidak peduli dengan Naila yang tertidur di sofa.
__ADS_1