
Setibanya di rumah orangtuanya Nara di sambut di depan rumah oleh Kusmanto dan Dewi. Seperti biasa mereka beramah tamah pada Nara dan Kai.
"Nara bapak mau bicara sebentar" kata Kusmanto pada anaknya.
Keduanya pergi ke sebuah ruangan, Kai sengaja mengikuti diam-diam. ia ingin tahu apa yang di bicarakan Kusmanto pada Nara.
"Selamat ulang tahun Nara, semoga kau bahagia dengan rumah tangga mu" kata Kusmanto.
"Terimakasih pak atas do'anya"
"Nara, bapak dengar Bastian ternyata masih hidup" Kusmanto terkejut melihat reaksi Nara yang biasa saja.
"Jadi kau sudah tahu?"
"Sudah pak"
"Lalu apa kau akan kembali padanya dan meninggalkan tuan Kai?"
"Tidak, Bastian hanya masalalu"
"Syukurlah kalau begitu bapak lega"
"Nara kembali ke kamar dulu ya pak"
"Baiklah, Nara tunggu! bapak ingin tahu apa kau mencintai tuan muda Kai?"
"Nara juga tidak tahu pak, tapi Nara tidak ingin pergi darinya meski ia tidak mencintai Nara sekalipun"
Itu adalah rasa cinta Nara, kau jatuh cinta pada Kai bapak bisa merasakannya
. -Kusmanto-
Setibanya di kamarnya Nara melihat Kai sudah selesai mandi. rambutnya masih basah dan ia tidak mengenakan baju atasan.
"Biar saya bantu" Nara dengan sigap mengeringkan rambut Kai dengan handuk bersih.
"Aku ingin langsung tidur" kata Kai.
"Iya baiklah"
"Kau tidak mau hadiah?" Kai tersenyum licik.
"Hadiah? tidak perlu"
"Aku akan memberimu hadiah istimewa"
__ADS_1
"Apa itu?" Nara penasaran dan menghentikan gerakannya mengeringkan rambut Kai.
"Kau tidak perlu tidur di lantai, kau boleh tidur bersama ku di ranjang"
Degh!
Nara bingung harus senang atau takut dengan hadiah yang Kai berikan. Ia terbiasa tidur di lantai jika satu kamar dengan Kai.
"Anda tidur saja di ranjang saya akan tidur di lantai"
"Tidak bisa kau tetap tidur di ranjang bersama ku!"
Lagi-lagi Kai mengeluarkan perintah dan mengintimidasi Nara.
"Oh ya kau juga boleh mencium ku"
Kali ini Nara terkesiap, ia tidak ada keinginan mencium Kai. Rasa takut dan segan mengalahkan keinginan untuk bersentuhan dengan laki-laki itu.
Nara terdiam lalu menggeleng pelan.
"Terserah kau saja aku mau tidur sekarang"
"Anda tidak pakai atasan?"
"Memangnya kenapa? aku tidak perlu baju jika mau tidur!"
"Lihat dirimu kau malu memandangku tanpa baju? kau pasti senang melihat tubuh ku bukan?"
Narsis sekali dia memang siapa yang mau melihatnya bertelanjang dada! -Nara-
"Nara...." Kai berjalan dua langkah mendekati Nara. Ia menunduk dan mengangkat dagu Nara dengan jari telunjuknya.
Tanpa hitungan dan persiapan dari Nara Kai langsung mencium dan ******* bibir Nara.
"Selamat ulang tahun" bisik Kai di telinga Nara.
Jantung Nara hampir lepas dari tempatnya. Wajahnya memucat dan tangannya bergetar.
Ia tidak siap dengan kejutan yang Kai berikan padanya. Nara sudah biasa dengan Kai yang ketus dan arogan. Ia tidak biasa menerima keromantisan dan kelembutan dari suaminya itu.
Kai tersenyum samar, ia naik ke ranjang dan menarik selimut.
"Kau mau mematung di sana atau kemari dan tidur?"
"Iy..iya..baik"
__ADS_1
Nara masih bingung dan mencoba menyiapkan dirinya. ia berbaring perlahan di samping Kai.
Tangan Kai meraih pinggang Nara dan memeluknya.
Malam itu tidak terjadi apa-apa tapi ada kemajuan diantara Kai dan Nara.
Keduanya tertidur lelap, Nara berada di perlukan Kai dengan nyaman. Tidak ada lagi Bastian dalam hatinya, hanya ada Kai Admaja.
Keesokan paginya Nara terbangun dan menyingkirkan perlahan lengan Kai dari pinggangnya. Ia bergegas mandi dan menyiapkan sarapan.
Kai terbangun dan segera bersiap. Ia meminta Hendra mengantarkan stelan kerjanya ke rumah Kusmanto.
"Selamat pagi nona, saya mengantar stelan kerja untuk tuan Kai" kata Hendra.
"Baiklah biar aku berikan" Nara meraih bungkusan rapi jas berwarna Navy dan celana panjang berwarna putih.
"Sekretaris duduklah dan sarapan bersama" kata Nara.
"Kemarilah nak Hendra ayo kita sarapan" Kusmanto mempersilahkan Hendra untuk duduk.
Kai sudah selesai mengenakan bajunya, ia ikut bergabung di meja makan. Sesekali Kai melirik Nara yang pagi itu terlihat sangat cantik.
"Kau sudah menyiapkan pesanan ku?" bisik Kai pada Hendra.
"Sudah tuan, ada di mobil"
"Baiklah nanti kau berikan padanya"
"Kenapa bukan anda saja yang memberikan langsung pada nona?"
"Kau berani membantah ku?!"
"Tidak tuan"
Nara mengerutkan dahinya tidak mengerti apa yang sedang di bahas Kai dan sekretarisnya. Keduanya nampak berbisik dan membuat Nara ingin tertawa.
Setelah berpamitan pada orang tua Nara, ketiganya langsung memasuki mobil dan pulang ke rumah untuk mengantar Nara terlebih dahulu.
"Nona ini untuk anda" Hendra menyerahkan kotak perhiasan dan satu lagi kotak berisi gaun.
"Apa ini?"
"Ini hadiah dari tuan Kai, harap anda pakai nanti saat makan malam dengan tuan"
"Baiklah" senyum mengembang di bibir Nara. Hendra memandang ada yang tidak biasa dengan bosnya. Kai juga terlihat lebih cerah dan senang sementara Nara juga sama saja.
__ADS_1
Apa terjadi sesuatu dengan kalian berdua? -Hendra-