Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 108 Janji


__ADS_3

"Bisakah kau meninggalkan keluarga Admaja?"


Tan tersenyum samar. ia tidak menyangka perkataan itu muncul dari bibir kekasihnya. Yuki jelas-jelas tahu seperti apa hubungan kekeluargaan dan pengabdian Tan pada keluarga Admaja.


"Aku tidak bisa melanggar janjiku pada leluhurku untuk terus mendampingi keluarga Admaja"


"Kita mau menikah dan aku tidak ingin selalu memikirkan mu apakah kau dalam keadaan bahaya atau baik-baik saja. Aku takut"


"Yuki....aku akan selalu baik-baik saja"


"Lihat diri mu sekarang, kau terbaring disini karena melindungi tuan Aska, aku hampir kehilangan dirimu. Aku tidak sanggup"


Air mata Yuki mengalir deras. Tan melepaskan pegangan tangan Yuki ia menatap lekat gadis itu. Mungkin terakhir kalinya ia memandangi wajah Yuki sebelum ia melepaskan gadisnya. Melihat ketakutan di mata Yuki, ia merasa tidak tega jika harus memaksa gadis itu berada di sisinya.


"Pergilah....." kata Tan lirih sembari melengos. Ia sengaja tidak memandang wajah Yuki yang terkejut mendengar jawabannya.


"Apa maksud mu? kau...." Yuki terbata ia tidak mampu melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Kau membuatku harus memilih, aku memilih tuan muda dan keluarganya"


"Apa kau tidak bisa memilih ku?" Iba Yuki.


"Antara kau Dan tuan muda bukan lah pilihan. Kalian sama-sama berarti bagiku. Sejak bertemu dengan mu aku merasa berbeda, kau memberi warna dalam hidupku yang gelap. Tapi sekali lagi aku tidak bisa melanggar janjiku"


Yuki terisak dan bergegas meninggalkan ruang rawat Tan.


Dulu kakek Tan yaitu tuan Tan-diono adalah pekerja setia di keluarga Admaja. Ia bahkan dekat dengan tuan Bram ayah Aska. Karena usia tuan Tan-diono yang sudah tua ia memutuskan untuk pensiun dari keluarga Admaja. Tuan Bram tidak membiarkannya pergi karena segala sesuatu ia di bantu oleh tuan Tan-diono.


"Tuan besar aku mohon biarkan kakek ku pergi, ia sudah tidak berdaya" Tan yang saat itu masih berusia sepuluh tahun terlihat berlutut pada tuan Bram agar ia melepaskan kakeknya.


"Kasihani kakek ku tuan" rengek Tan kecil.


"Jika besar nanti aku akan menggantikan kakek ku. Aku akaan mendampingi dengan setia keturunan keluarga Admaja. Atas segala kebaikan yang keluarga tuan berikan pada kakek ku aku bersedia menjadi penerusnya"


Tuan Bram menghela napas, ia memerintahkan asistennya yang bernama Hyuk untuk meminta dokter melepas semua alat bantu di tubuh Tandiono.

__ADS_1


Dan akhirnya tuan Tandiono kakek Tan telah pergi selamanya. Sejak saat itu Tan berada dalam kendali tuan Bram. Ia menyekolahkan Tan dan mempersiapkannya untuk mendampingi Aska.


Lalu bagaimana mungkin ia akan berkhianat, Ia juga sebenarnya merasa berat melepas Yuki. Mereka sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan.


Aska yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan Tan dan Yuki dari balik pintu ruang rawat Tan hanya bisa terdiam.


Pasti sulit bagi Tan melepas gadis yang ia sukai. Tapi akan lebih sulit bagi seorang pria sejati jika harus melanggar janjinya.


"Sayang bagaimana kondisi Tan?" Raya tiba dan meminta masuk ke ruang rawat Tan. Ia ingin melihat kondisi Tan di dalam sana.


"Lain kali saja biarkan dia sendiri" Aska merangkul bahu Raya dan mengajaknya pergi.


"Tapi ada apa?"


"Nanti kau akan tahu jika Yuki sudah bercerita pada mu"


"Yuki? memang ada apa dengan Yuki?"

__ADS_1


Aska tidak menjawab, ia hanya tersenyum samar sambil terus merangkul bagus istrinya. Keduanya berjalan menuju gedung parkir rumah sakit.


__ADS_2