Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 199 Kegaduhan di Pameran


__ADS_3

Arsen tiba di gedung pameran yang di sewa oleh Naila. disana terpajang barang-barang dari tembikar yang terlihat cantik dan menarik. hasil karya manusia dengan seni dan pemikiran tinggi seolah tertuang pada lukisan yang menjadi motif di vas-vas itu.


Arsen melihat-lihat beberapa yang terlihat menarik. ia meminta Pitt untuk membeli barang itu.


"Aku suka ini, beli saja Pitt"


"Baik tuan"


"Ah yang ini juga, yang itu! oh dan lihat yang di sudut itu bagus bukan? aku juga ingin membelinya! lalu yang disana itu juga" jemari Arsen menunjuk lincah ke arah barang-barang yang ia mau.


Pitt menghela napas pelan, semua barang yang di tunjuk Arsen adalah hasil karya Naila karena ada tanda tangan Naila disana.


Sepertinya anda tidak rela jika hasil karya nyonya di miliki oleh orang lain ya tuan?!


Naila sedang berada di tengah para tamu undangan untuk mempresentasikan beberapa karya paling menarik di pameran itu. tepuk tangan membahana mengiringi akhir presentasi Naila. mata gadis itu tertuju pada Arsen yang berdiri di sudut ruangan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. pria itu memandangnya. yah Arsen sejak tadi terus memandangi Naila yang sedang presentasi. meski tidak ikut bertepuk tangan tapi setidak nya pria itu tidak merendahkan pameran yang di buat oleh Naila.


Naila berjalan ke arah Arsen membawa segelas minuman dingin.


"Aku tidak menyangka kau akan datang?" kata Naila sembari menyerahkan minuman yang di bawanya untuk Arsen.


"Pitt memaksa ku!" kilah Arsen.


"Oh jadi begitu Pitt?" Naila melirik Pitt yang terkejut tidak menyangka akan menjadi kambing hitam.


"Oh ya akan ada satu barang hasil karyaku yang akan di lelang untuk amal, kau mau ikut?" tanya Naila.


Arsen tetap diam, ia meminum minuman di gelasnya.


"Ayo!" Naila meraih lengan Arsen dan menariknya agar berjalan mengikuti dirinya. Arsen yang terkejut menatap tangan Naila yang melingkar di lengannya.

__ADS_1


"Duduklah disini, kau berada di tempat paling depan karena kau adalah tuan Arsen Admaja yang kaya raya jadi siapa tahu kau akan membuang uang mu untuk acara pelelangan ini" kata Naila sembari tersenyum.


Arsen ikut tersenyum menikmati suasana di pameran. tapi senyumnya segera lenyap ketika matanya menangkap keberadaan dokter Hendra disana.


Dia?! mau apa dia disini?!


Arsen berjalan menghampiri Hendra dengan wajah memerah menahan kesal.


"Mau apa kau disini?!" tanya Arsen penuh penekanan.


"Hai Arsen, istrimu mengundangku ke pameran ini karena aku adalah pelanggan di tokonya"


"Brengsek! kita samma-sama tahu kalau kau dan aku tidak tertarik dengan barang-barang seni seperti ini bukan?! dasar banyak alasan!"


"Tenang Arsen kenapa kau marah begitu? sebaiknya kita ikut saja pelelangan, itu sudah di mulai" kata Hendra sembari menunjukan kerumunan orang yang ikut di acara pelelangan.


"Baiklah mari kita buka nominal pertama untuk vas karya Naila Admaja..." kata pemandu acara.


"Dimulai dari lima puluh dollar!"


"Seratus dollar!" Hendra mengangkat sebelah tangannya dan menyebut nominal.


"Dua ratus dollar!" Arsen tidak mau kalah.


"Tiga ratus dollar!" Pitt ikut-ikutan dalam persaingan itu karena ia ingin memeriahkan acara.


Arsen memejamkan mata karena kesal. ia mengangkat satu tangannya dan menyebut nominal.


"Seribu dollar!" satu ruangan terkejut.

__ADS_1


"Dua ribu dollar!" kata Hendra yang juga mengejutkan semua.


"Dua ribu lima ratus dollar!" kata Pitt sembari menahan tawa.


"Tiga ribu dollar!" sahut Hendra lagi.


Brengsek! dia mau bersaing denganku rupanya baiklah uang tidak masalah bagiku! batin Arsen.


"Tujuh ribu dollar!" kata Arsen penuh percaya diri. hadirin bertepuk tangan.


Hendra dan Pitt saling melihat dan menahan tawa mereka pada tingkah Arsen yang terlihat sekali tidak rela tersaingi soal Naila.


Naila memandang ke arah Arsen sembari menggelengkan kepala. ia tahu Arsen tidak butuh vas itu apa lagi untuk pajangan. pria itu tidak terlalu peduli dengan benda semacam itu.


"Baiklah cukup, kau tidak perlu memborong semua vas buatan ku" kata Naila yang saat ini berdiri di hadapan Arsen.


"Kenapa memangnya?! aku suka dengan benda itu apa namanya? vas ..iya benar aku sangat suka Vas!"


"Pitt!"


"Iya tuan"


"Cepat bayar semua vas itu dan bawa ke..."


"Kemana tuan?"


"Ke...kantorku bodoh!"


"Baik tuan"

__ADS_1


__ADS_2