Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 194 Slap Kiss


__ADS_3

Sentuhan pertama antara Naila dan Arsen yang membuat Naila muak dengan pria itu. Satu tahun bersamanya sudah membuat Naila tertekan batin. Ingin sekali Naila mengakhiri semua dan hidup bahagia mengejar mimpinya.


Naila sudah mulai membaik, sejak Arsen memulai cara gila untuk memberinya obat sejak saat itu Naila rutin meminum obatnya sendiri sebelum pria gila itu datang dan memaksanya meminum obat.


Pagi ini Naila sudah bersiap untuk ke tokonya. Naila memang memiliki usaha kecil-kecilan yang di wariskan sang kakek padanya. Yaitu berupa toko yang menjual berbagai vas dan hiasan rumah yang terbuat dari tanah dan keramik. Naila berniat menyerahkan desain vas pada pengrajin agar segera di buat dan bisa di pasarkan.


Naila mengenakan stelan kemeja lengan pendek berwarna biru muda dan rok span berwarna hitam diatas lutut. Ia menggerai rambutnya dan membuatnya bergelombang agar terlihat lebih feminin. Naila mulai memperbaiki penampilannya karena ia sudah membuat rencana untuk berpisah dari Arsen.


"Pagi nona" sapa Pitt yang terpesona melihat penampilan Naila pagi itu.


"Pagi Pitt"


Arsen yang sudah selesai dengan sarapannya bergegas meninggalkan meja makan. Ia sempat melihat penampilan Naila yang berbeda dari biasanya. Arsen memasang tampang tidak suka dengan perubahan itu.


Naila bahkan berani tidak menyapanya tadi saat bertemu di meja makan.


"Apa karena kemarin aku menciumnya sekarang dia jadi berubah seperti itu?!" gumam Arsen yang duduk di kursi belakang mobilnya. Pitt tersenyum melihat reaksi Arsen.


Bilang saja anda terpesona tuan....batin Pitt.


"Pitt jam berapa meetingku hari ini selesai?"


"Pukul dua siang tuan"


"Sial! lama sekali apa tidak bisa di cancel meeting itu?"


"Maaf tidak bisa tuan"

__ADS_1


Arsen mengusap wajah tampannya dengan gusar. Ia penasaran sebenarnya ada apa dengan Naila. Arsen ingin tahu apakah jangan-jangan Naila dekat dengan pria lain. Membayangkannya membuat Arsen muak. Ia memang tidak menyukai Naila tapi gadis itu adalah istrinya.


Jangan sampai ia mempermalukanku dengan menjalin hubungan dengan pria lain tanpa sepengetahuanku!


Naila tiba di pusat perbelanjaan di lantai dua toko milik Naila berada. Dua orang pelayan sudah menyambut kedatangan Naila.


"Pagi nona"


"Pagi, nanti kita meeting sebentar ya" kata Naila pada dua pegawainya sebelum ia menuju meja kerjanya.


Naila melanjutkan beberapa desain vas yang ia rancang. Perlu ada beberapa perbaikan pada deaain itu setelah Naila melihatnya dengan teliti.


"Selamat siang, apa aku mengganggu mu?" sebuah suara membuat Naila mengalihkan fokusnya. Seorang pria berkaca mata muncul di hadapannya dengan seulas senyum manis.


"Dokter Hendrawan?"


"Mari biar aku pilihkan yang bagus untukmu" kata Naila dengan sorot mata berbinar.


Sepertinya kunjungan dokter Hendra siang itu kurang tepat karena di kejauhan Arsen sedang memandang kedekatan Naila dengan Hendra. Melihat Naila tertawa lepas bersama Hendra membuat hati Arsen serasa perih. Saat bersama dirinya gadis itu banyak diam dan jarang tersenyum apa lagi tertawa lepas.


Arsen mengepalkan tangannya dan rahangnya mengeras. Pitt berusaha menenangkan Arsen tapi sepertinya percuma. Arsen sengaja menunggu sampai Hendra selesai berbelanja di toko milik Naila.


"Tuan saya rasa dokter Hendrawan hanya tidak sengaja mampir saja ke toko nona" kata Pitt berusaha sebisa mungkin menenangkan Arsen.


"Siapa yang memintamu menjelaskan situasi ini?!" gertak Arsen dengan sorot mata tajam.


Pitt mundur dua langkah di belakang Arsen sepertinya mood bosnya benar-benar kacau.

__ADS_1


Terlihat Naila kembali ke tempat duduknya dan menata lembaran desain yang ia buat.


"Nona.." pegawai Nailla sampai ketakutan melihat tuan Arsen mendatangi toko. Naila mendongak terkejut melihat Arsen berdiri di hadapannya dengan mimik wajah yang sulit di jelaskan.


"Ada apa? Aku sedang bekerja" kata Naila semakin memancing amarah Arsen. Pria itu menyeringai menarik lengan Naila dengan kasar.


"Ah sakit Arsen!!"


Para pegawai berjalan perlahan meninggalkan toko bersama Pitt. Mereka memberi tanda close pada pintu toko.


"Apa karena bertemu Hendrawan kau berpenampilan seperti ini?!" Arsen mendorong tubuh Naila ke dinding dan menguncinya dengan kedua lengannya. Arsen menunduk memandang mata Naila di hadapannya. Kini wajah mereka hanya berjarak satu centi saja. Dengus napas Arsen menyapu kulit pipi Naila.


"Apa maksudmu? Dokter Hendra kemari memang hanya ingin berbelanja aku sama sekali tidak janjian dengannya" kata Naila membela diri. Arsen semakin marah ia mencengkram dagu Naila dengan jemarinya.


"Aku tidak suka kau berpenampilan seperti ini di depan pria lain!" Arsen memukul dinding dengan tinjunya tepat di samping wajah Naila. Gadis itu menangis memeluk lengan Arsen dengan gemetar. Ia mendorong dada Arsen.


"Shhhtt.... jangan menangis Naila sayang! Aku suamimu kenapa kau takut padaku?! Sementara dengan pria lain kau bisa tertawa lepas" Arsen melepas jasnya dan meleparkan ke lantai. Ia memegang keras dagu Naila lalu ******* bibir Naila dengan kasar.


Naila meronta mencoba memberontak ia memukul mukul dada bidang Arsen.


"Mmmhhhhhh!....mmmhhh!" suara Naila tertahan karena bibir Arsen yang menutup bibirnya dengan paksa. Arsen melepaskan ciumannya dan mendekatkan bibirnya ke leher Naila.


"Aku bisa berbuat lebih jauh daei ini jika kau terus membuatku kesal!!" Arsen menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Naila. Gadis itu menggigit telinga Arsen hingga Arsen melepaskan cengkramannya.


"Aaahhh!!" Arsen memegang telinganya yang di gigit oleh Naila.


Dengan napas tersengal Naila merapikan rambut dan pakaiannya yang kusut karena perbuatan Arsen.

__ADS_1


__ADS_2