Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Bab 174


__ADS_3

Wajah Nara merah padam, keringat dingin mengalir di dahinya. Ia ingin menghapus memory malam pertamanya dengan Kai.


"Kenapa? kau tidak senang?" Kai tersenyum mengejek dan berlalu menuju kamar mandi.


Nara melirik ponsel milik Kai yang tertinggal di meja.


Aku harus tahu sebenarnya apa rencana Kai, apa Bastian masih hidup dan dimana dia jika masih hidup? apa Kai yang sengaja menabraknya?


Nara mencoba membuka password ponsel Kai tapi percuma ia sudah mencoba dari tanggal lahir Kai sampai nama keluarga semua tidak bisa.


"Dilarang bermain dengan benda ini Nara..." Kai meraih ponselnya dari tangan Nara. Ia sudah selesai mandi dan berganti pakaian.


Nara terkejut dan ketakutan ia gemetar.


"Jangan takut Nara, apa yang ingin kau ketahui?" tatapan Kai tajam menghujam bola mata Nara. peluh mengalir di kening Nara.


"Baiklah biar ku tebak pasti kau ingin tahu soal kekasih mu masih hidup atau tidak bukan?"


"Aku beritahu dia masih hidup, mungkin ia akan menemui mu nanti"


Nara terbelalak kaget, ia tidak habis pikir jika Bastian masih hidup lalu kemana dia selama ini.


"Sudah malam, kemari dan tidurlah" Kai tersenyum sembari menepuk bantal di sampingnya.


***


"Bagus Bastian, aku akhirnya bisa mengelabui kakak ku"


Deniz terlihat bicara dengan seorang pria, dia adalah Bastian.


"Jika kau bekerja sama dengan ku maka aku akan memberimu jabatan penting di perusahaan Admaja Group. tapi kau juga harus bisa memberikan Nara pada ku"


"Tidak masalah ambil saja dia"


"Kau licik sekali kawan, gadis itu menyukai mu dan kau seenaknya padanya"

__ADS_1


"Saudara lelakimu telah menikahinya aku yakin Nara sudah di sentuh olehnya"


Deniz terdiam, ia tertegun berpikir sesat. tapi ia tahu Kai tidak menyukai Nara. tidak mungkin ia menyentuh Nara.


"Aku tidak peduli, yang jelas kau bantu aku menghancurkan kakak ku"


"Boleh aku bertanya sesuatu tuan Deniz?"


",Silahkan"


"Kenapa kau begitu tidak menyukai kakak mu?"


"Karena sejak kecil perhatian orang tua ku hanya untuknya, semua adalah untuk Kai meski dia hanya anak pungut di keluarga ku!"


"Oh jadi dia bukan kakak kandung mu?"


"Bukan!"


"Aku ingin menghancurkannya secara bersamaan, akan ku rebut Admaja Group darinya dan juga Nara!"


"Tidak, gadis itu sedang ada di rumah orang tuaku jadi tunggu sampai Kai membawanya pulang ke rumahnya"


"Baiklah"


***


Nara terbangun karena ia bermimpi buruk. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat Kai sedang memandanginya.


"Selamat pagi nyonya muda Admaja" sapa Kai sembari meletakkan segelas jus.


Kai sudah rapi dengan stelan kerjanya.


"Kau pemalas sekali kenapa kau bangun siang?"


"Maaf tadi malam aku tidak bisa tidur"

__ADS_1


"Kau takut aku menyentuh mu? karena itu kau tidak bisa tidur?"


Nara terdiam gelagapan tidak menjawab pertanyaan Kai.


tuk tuk tuk..


Pintu kamar Kai di ketuk dari luar.


"Kai, Nara?" suara mama Raya.


"Iya ma.." Nara turun dari ranjang dan berjalan membuka pintu kamar.


"Oh Kai kau sudah mengenakan dasi rupanya, ini mama membelikan dasi baru untuk mu"


"Iya ma lain kali akan Kai pakai"


"Tidak, pakai sekarang mama ingin lihat"


"Oh ya Nara kau bantu Kai memakai dasinya ya, ini" mama Raya menyerahkan dasi itu pada Nara.


Aduh bagaimana ini, aku harus mengikat dasi untuknya...


Kai melepas dasi yang sudah ia kenakan tadi.


"Pakaikan" Kai berdiri di hadapan Nara.


"Kalian lucu sekali, maama jadi ingat papa. Nara mama selalu pakai kursi kecil jika mengikat dasi untuk papa karena tinggi kami yang selisih jauh. Kau juga dengan Kai selisih jauh jadi pakailah ini" Mama Raya mengeluarkan boks dari kayu yang ia simpan di bawah meja rias.


"Iya ma.." dengan ragu Nara menaiki boks itu dan mulai memasang dasi untuk Kai. Nara bisa merasakan hembusan napas Kai menyapu kulit pipinya.


"Kalian romantis sekali, semoga kalian bahagia selalu" kata mama Raya terharu.


Kai hanya terdiam, ia mencoba mencerna kejadian yang baru saja ia alami dengan Nara.


Ide bagus jika setiap pagi Nara mengikat kan dasi untuk ku. -Kai-

__ADS_1


__ADS_2