
"Tuan saham perusahaan kita menurun drastis"
"Apa yang terjadi Tan?"
"Sepertinya ini taktik tuan besar untuk membuat perusahaan anda jatuh. Maaf jika saya menduga seperti itu tuan muda"
"Apa ada orang dalam yang terlibat?"
"Saya belum tahu tuan, akan saya selidiki"
"Jika sampai ada penyusup dan kau kecolongan, aku akan menghabisi mu Tan!"
Raya yang tersentak mendengar teriakan marah Aska segera berlari ke ruang kerja. Ia mengintip dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.
Raya melihat Aska begitu marah hingga mencengkram kerah baju Tan.
Ada apa ini kenapa Aska marah sekali?
Raya memberanikan diri memasuki ruang kerja Aska. Ia memandang dua pria yang wajahnya sedang terlihat tegang itu. Ruangan hening tanpa suara, bahkan rasanya Raya bisa mendengar jelas sekali suara sandal rumah yang ia kenakan.
__ADS_1
"Hmmm...maaf kalau aku mengganggu, apa ada masalah?" tanya Raya canggung. Sebenarnya untuk urusan pekerjaan Raya tidak berani ikut campur. Tapi karena mereka bertengkar di rumah jadi mau tidak mau Raya mencari tahu masalah apa yang sedang terjadi.
Wajah Aska memerah menahan marah.
"Usaha yang ku bangun dengan susah payah, kenapa seenaknya dia menghancurkannya Tan!"
Raya terkejut mendengar Aska kembali berteriak marah. Ia ketakutan dan sedikit gemetar. Air mata Raya mengalir. Sementara Tan hanya diam tidak berani menjawab pertanyaan Aska barusan.
Aska mengamuk, ia menjatuhkan semua benda yang berada di atas meja kerjanya. Tidak sengaja tangannya menghantam hiasan kristal di atas meja kerjanya yang membuat tangan Aska terluka dan berdarah.
Raya menangis sesenggukan. Wajah Tan berubah panik tapi ia tidak berani mendekati Aska.
Raya berjalan mendekati Aska, ia meraih telapak tangan suaminya yang berdarah dan mengusap darah itu dengan baju yang ia kenakan. Aska yang terduduk di kursi menyandarkan kepalanya di dada Raya. Disaat itulah Aska meneteskan air matanya matanya.
Raya menangis dan memeluk Aska.
Tan yang menyaksikan kejadian itu ikut tidak tega. Ia bergegas pergi pulang ke apartemennya sembari berpikir hal pa yang harus ia lakukan untuk tuan mudanya.
Di perjalanan pulang Tan memutar balik mobilnya untuk mengambil dokumen penting perushaan. Ia yakin jika dokumen itu ada bersamanya para penyusup tidak akan bisa berbuat lebih jauh. Setelah mengambil dokumen di kantor Tan bergegas pulang. Di tengah perjalanan ia di hadang segerombolan orang. Tan keluar dari mobil dan terlibat perkelahian. Ia mendapat pukulan dan luka memar di tubuh dan wajahnya.
__ADS_1
Susah payah Tan mengemudikan mobilnya menuju apartemen. Ia merebahkan diri di sofa. Bel pintu apartemennya berbunyi. Tan memicingkan alisnya.
Apa mungkin mereka mengikutinya sampai kemari?
Tan melihat cctv dan yang datang adalah Yuki pelayan restoran. Tan membuka pintu sembari terlihat heran.
"Aku memesan makan yang siap makan seharusnya kau tidak perlu kemari dan memasaknya lagi"
"Maaf tuan saya memang mengantar saja tidak perlu menyiapkan seperti kemarin"
"Bagus, pergilah"
"Tunggu tuan!"
"Ada apa?"
"Apa anda sedang sakit? sepertinya anda tidak baik-baik saja?"
Akhirnya Tan mengizinkan gadis itu masuk kedalam apartemennya. Yuki membantu mengobati luka lebam di tubuh Tan. Ia mengolesinya dengan salep. Tan meminum obat anti nyeri lalu menikmati makanan yang ia pesan.
__ADS_1
"Kau boleh pergi!"
"Baik kalau begitu saya permisi" Yuki berjalan menuju pintu keluar. Tan melanjutkan makannya sambil memantau keadaan perusahaan. Ia punya PR besar sekarang, yaitu menyelamatkan perusahaan Aska.