Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 114 Bad Mood


__ADS_3

Pagi sekali Raya menyiapkan nasi kepal untuk di bawa piknik. Tiga botol jus dan berbagai makanan kecil ia masukan ke dalam keranjang piknik. Tak lupa Raya menyiapkan tikar untuk di gelar di bawah pohon yang rindang.


Kebun binatang, itu adalah tempat yang ingin di kunjungi keluarga Aska. anak-anak sudah bersiap sedari tadi dan ribut ingin cepat pergi. Deniz tidak sabar ingin melihat gajah, ia terus saja berceloteh soal gajah pada papa dan mamanya.


"Pa Kita jadi lihat gajah?"


"Jadi dong, nanti Deniz, Dizya dan kakak Kai foto dengan Gajah ya biar papa yang mengambil gambar kalian"


"Deniz maunya sendiri pa, nggak mau sama Kai, Dizya"


"Iya deh..." Aska menggaruk rambut nya, anak lelakinya yang satu ini memang mirip dirinya. Egois dan mau menang sendiri.


"Berasa sedang bercermin ya?" sindir Raya sembari mengangkat keranjang piknik menuju bagasi mobil. Aska hanya tertawa kecil, ia meraih lengan Raya dan mencubit hidung istrinya itu.


"Aku harap Dizya akan seperti dirimu, manis dan baik hati"


"Lepaskan nanti anak-anak melihat kita" kata Raya malu-malu saat Aska akan mengecup bibirnya.


Aska memundurkan badannya, Raya benar saat ini ia harus lebih berhati-hati jika ingin bermesraan, karena anak-anak sudah mulai mengerti dan banyak bertanya.


"Tan kau ke ruang kerja ku sebentar aku ingin bicara dengan mu"


"Baik tuan" Tan menurunkan Dizya yang sedari tadi berada di gendongan nya.


"Nona kecil paman ada urusan dengan papa, nona tunggu disini ya sama Deniz dan Kai"


Dizya mengangguk dan menuruti ucapan paman Tan tersayang nya itu. Ia ikut bergabung dengan Deniz dan Kai bermain mobil-mobilan. Sementara Dizya menaikan bonekanya ke atas mobil-mobilan milik Deniz alhasil keributan pun terjadi.


Raya mencoba menenangkan anak-anaknya dan menggendong Dizya membawanya duduk di sofa.


Sementara di ruang kerja Aska di lantai dua, Tan nampak berdiri menunggu percakapan tuan mudanya.

__ADS_1


"Tan apa Karenina atau Arga meneror mu?"


"Sejauh ini tidak tuan"


"Berhati-hati lah, aku rasa mereka tidak akan tinggal diam melihat mu berada di atas angin"


"Baik tuan"


"Kau ingin menyampaikan sesuatu pada ku?" tanya Aska yang berdiri membelakangi Tan dan memandang ke halaman melalui kaca jendela yang lebar.


"Kemarin saya bertemu seseorang yang anda kenal"


"Siapa?"


"Tuan Rama, ia baru saja kembali dari Milan"


"Rama? mau apa dia kembali kemari?"


"Tuan Rama bilang ada urusan pekerjaan sehingga ia pulang kemari tuan"


Tan terdiam ia bingung harus mengatakannya pada Aska atau tidak.


"Tan kenapa kau diam?!"


"Benar tuan muda, tuan Rama bertanya kabar.....nona Raya"


Aska membalikan badannya dan menatap Tan tajam. Sorot matanya sudah jelas di penuhi rasa cemburu. Tan bersiap karena untuk beberapa saat kedepan pasti mood tuan muda akan berubah buruk..


"Dia berani bertanya soal istriku?!"


"Maaf tuan muda saya belum selesai bicara, tuan Rama Juga bertanya soal anda"

__ADS_1


Aska mengepalkan tangannya, Tan mulai berkeringat. Jika sudah menyangkut Raya tuan muda akan lebih sensitif dan mudah marah karena terbakar cemburu buta.


"Tuan muda, maksud saya..." Tan mulai gugup.


"Sudahlah, ayo kita pergi piknik bawa anak-anak ke mobil"


"Baik tuan" Tan bernapas lega, Aska tidak memperpanjang kecemburuannya terhadap Rama yang dulu juga menyukai Raya.


Tan menaikan anak-anak ke dalam mobil dan ia duduk di belakang kemudi. Aska duduk di samping Tan sementara Raya di kursi belakang bersama ke tiga buah hatinya.


"Mau kemana kita....?" tanya Raya pada anak-anak.


"Kebun Binatang!" jawab anak-anak serempak.


Aska terdiam dan ia tidak ikut larut kedalam keceriaan di dalam mobil. Ia membayangkan wajah Rama dan ingin sekali menendang sahabatnya itu.


Ponsel Tan bergetar nama Kalila terpampang di layar ponselnya. Aska memandang jengah.


"Kenapa Kalila menelpon mu?"


"Tidak tahu tuan"


"Kalian balikan pacaran?"


"Hah kalian pacaran lagi?!" Raya ikut nimbrung. Jika sudah berhubungan dengan percintaan Tan, nona muda satu ini tidak bisa diam. Raya akan ikut campur sampai Aska memarahinya.


"Tidak nona" jawab Tan gugup.


"Lalu kenapa Kalila menelpon mu Tan?" tanya Raya sembari mendelik agar bisa di lihat Tan dari kaca spion.


"Oh entahlah nona saya juga tidak tahu, yang saya dengar nona Kalila kembali juga dari Milan bersama tuan Rama"

__ADS_1


"Rama?" Raya melirik Aska yang kini wajah tampan itu terlihat menegang.


Raya langsung bungkam ia tidak mau merusak mood Aska. Patas saja sedari tadi Aska hanya terdiam rupanya ia sedang kesal.


__ADS_2