
Raya hamil dua Minggu ia terlihat lebih cantik dan mood ya juga bagus. Tuan muda Aska merasa lega begitu melihat sang istri yang bersikap stabil. Tan juga lebih tenang dan tidak sering mengelus dada menghadapi perintah aneh-aneh dari tuan mudanya.
"Sayang aku mau jalan-jalan dengan anak-anak" kata Raya sembari mengikatkan dasi untuk Aska.
"Kemana? kau tidak memungkinkan untuk pergi jauh atau kelelahan"
"Hanya di sekitar sini saja di taman dekat rumah lalu aku mau belanja di pasar tradisional"
"Apa? belanja ke pasar tradisional? untuk apa? itu sangat melelahkan Raya. Aku tidak akan memberi izin"
"Sayang ayolah, aku sangat ingin pergi ke pasar, aku akan mengajak Yuki. bagaimana?"
"Tidak"
"Sayang" Raya mencoba merengek. Aska berbalik menatap Raya dengan mimik muka yang berbeda. Kali ini Aska terlihat marah. Raya tidak lagi berani tawar menawar.
"Baiklah aku mengerti, kalau kesalon apa aku boleh?"
"Kalau itu aku akan memberi izin, kau akan di kawal oleh Tan"
"Hah di kawal Tan? tapi sayang ...."
Dimana serunya kalau kesalon perawatan harus di tunggui kanebo kering itu? ..di ajak bicara jawabannya terbatas, di ajak ngerumpi dia tidak peduli. Raya nyaris putus asa lebih baik dia di rumah saja.
"Baiklah aku di rumah saja"
"Pintar sekali" Aska langsung menunduk dan mengecup bibir Raya.
"Kalau kau mau minta pada Tan agar orang salon langganan mu kemari"
"Tidak perlu sayang"
__ADS_1
"Lagi pula untuk apa kau ke salon perawatan? aku tidak melihat cela sedikit pun dari diri mu"
Wajah Raya di buat malu dan memerah oleh Aska. Kalau sudah begini Raya pasti patuh saja dengan perintah tuan muda.
"Sayang aku malu...."
"Papa dan mama sedang apa?" Suara Bocil mengagetkan keduanya. Kai, Deniz dan Dizya sudah berdiri di sana entah sejak kapan.
"Anak-anak mama dan papa..
emmm papa mau berangkat ke kantor sayang" Raya dengan gugup mengajak anak-anak ke ruang tengah untuk bermain.
Tan sudah menunggu di depan, ia sigap membuka pintu mobil untuk tuan Aska.
Aska membuka kaca jendela mobil dan melambaikan tangan pada Raya yang berdiri memandangnya dengan senyum sumringah.
Entah kenapa ada sesuatu yang terasa mengganjal di hati Aska.
"Iya tuan"
"Tidak jadi .."
Tan langsung melirik dari kaca spion. Ia melihat Aska gelisah di kursi belakang.
"Maaf tuan muda apakah ada masalah?"
"Aku hanya merasa tidak enak saja, seperti ...entahlah aku merasa cemas pada Raya"
"Apakah anda ingin saya membatalkan semua meeting dan kembali ke rumah?"
"Tidak perlu, kau pantau terus istriku, suruh anak buah mu berjaga dan pastikan Raya tidak kemana-mana"
__ADS_1
"Baik tuan"
Raya kesal karena Aska memberinya pengawalan cukup ketat. Sedangkan ia ingin pergi ke pasar tradisiol. Raya ingin berbelanja ke los buah dan sayur segar. Entah kenapa ia tiba-tiba ngidam berbelanja ke pasar.
Diam-diam Raya menyelinap bersama pelayan menumpangi taxi online. Ia pergi jalan-jalan dan berbelanja.
Raya terlihat senang ia berhasil membeli buah buahan segar dan sayuran.
"Ayo kita jalan ke sana" Raya menunjuk sebuah warung soto yang terlihat enak.
"Maaf nona sebaiknya kita pulang, saya takut tuan muda akan tahu kalau kita diam-diam pergi"
"Sebentar saja tidak apa-apa"
Raya dan pelayannya berjalan menyusuri pinggiran jalan yang ramai menuju warung soto.
Di kejauhan sebuah mobil fan hitam terlihat berjaga. pengemudi mobil itu sedang menunggu instruksi dari seseorang. Dengan lihai ia bergegas melajukan mobilnya begitu melihat seorang wanita berjalan di pinggir jalan.
Ia menyenggolkan mobilnya hingga wanita itu terjatuh. setelah memastikan korbannya tak bergerak ia segera kabur.
"Tolong!!" suara pelayan Raya bergetar meminta tolong. Raya terjatuh dan berdarah setelah sebuah mobil menyenggolnya tadi.
Segera orang berkerumun untuk menolong Raya. mereka membawa Raya ke rumah sakit.
Di gedung utama Admaja Group Aska dan Tan sedang meeting. Perasaan tuan muda sedari tadi gelisah dan tidak tenang. Tan bisa mengamati perubahan mimik muka tuannya.
"Tan, telepon ke rumah tanya kan pada pelayan sedang apa istriku di rumah"
"Baik tuan"
bersambung....
__ADS_1