Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Bab 173


__ADS_3

"Tuan apa anda ingin pulang sekarang?" Tanya Hendra yang melihat Kai mematikan laptopnya dan meraih ponselnya.


"Siapkan mobil kita pulang sekarang, aku ingin lihat sedang apa istriku di rumah mama"


"Baik"


Selama perjalanan pulang Kai terlihat lebih banyak diam dan memainkan ponselnya. Hendra melirik nya dari kaca spion.


Apa tuan Kai memiliki rencana lain yang aku belum ketahui?


"Kau tahu Hen selama ini aku banyak musuh tapi kau pasti belum tahu siapa musuh yang begitu ingin bersaing dengan ku saat ini"


"Siapa tuan?"


"Dia orang terdekatku"


"Apa maksud anda adalah tuan Deniz?"


"Benar sekali Hendra, adikku ingin menjatuhkan ku"


"Tapi .."


"Aku yakin ia sudah menemui Bastian lebih dulu dibanding aku. Karena itu di hari aku tidak datang meeting Deniz juga tidak ada di perusahaan"


Hendra mengerti cukup masuk akal yang di katakan bosnya. Akhir-akhir ini ia melihat Deniz memang menabuh genderang perang pada kakaknya.


"Tuan apa tujuan Deniz bersaing dengan anda? apa karena Admaja Group atau ada yang lain?"


"Kalau soal Admaja Group ia tidak akan sekeras itu bersaing dengan ku Hen, jelas ada tujuan lain"


"Apa tujuan lain itu tuan?"


"Jatuh cinta"


Jatuh cinta? Deniz menyukai siapa memangnya?


"Kau pasti bertanya-tanya pada siapa Deniz jatuh cinta bukan? akan ku beritahu adikku jatuh cinta pada kakak iparnya"


"Nona Nara?!"


"Benar sekali...."


"Aku sengaja menitipkan Nara di rumah mama salah satunya juga untuk memancing Deniz. Dan kau lihat dia bahkan pulang sejak tadi"


"Saya tidak menyangka tuan Deniz berani jatuh hati pada nona"

__ADS_1


"Gadis itu sekilas terlihat biasa saja, polos, lugu kampungan tapi dia cerdas dan memiliki kecantikan yang berbeda dengan gadis lain"


"Benar tuan"


"Hendra .."


"Iya tuan"


"Aku peringatkan jangan sampai kau menyukai nya"


"Saya tidak akan berani tuan"


***


Di rumah mewah itu nyonya Raya sedang menyiapkan makan malam bersama Nara dibantu oleh pelayan mereka.


"Apa Kai selalu makan di rumah?" tanya nyonya Raya.


"Iya ma, tuan... maksudku Kai selalu sarapan dan makan malam di rumah"


"Oh dia persis seperti papanya"


Nara tersenyum ia sibuk mengaduk sayur yang mulai mendidih..


"Ma, Kai sudah datang" kata Nara lirih.


"Oh benar, kenapa kau jadi takut begitu Nara, ayo sapa dulu suamimu"


"Baik ma" Nara berjalan menghampiri Kai di ruang tengah. Ada Hendra yang juga berdiri di belakang Kai.


"Anda sudah pulang?"


Kai tersenyum kecil, memandang Nara yang gugup.


"Kau tidak bertanya kenapa aku pulang lebih awal?"


Nara menggeleng,


Sebenarnya apa rencana mu Kai kenapa kau menitipkan ku disini? Di rumah orang tua mu? Apa kau tidak takut sandiwara mu akan terbongkar dan orang tua mu tahu soal pernikahan kita hanya main-main saja?!


"Aku pulang lebih awal karena ingin bertemu dengan mu"


Wajah Nara memerah, kali ini Hendra juga melihat reaksi Nara.


"Kalian bicara apa? seru sekali. Ayo sini makan malam sudah siap. Mama panggil papa dulu" Raya menaiki anak tangga dan memanggil Aska di ruang kerjanya.

__ADS_1


Semua berkumpul di meja makan menikmati makan malam. Sesekali diselingi tawa dan gurauan.


"Besok Dizya akan pulang" kata nyonya Raya.


"Benarkah? Kenapa Dizya tidak menelepon ku ma?"


"Kai adik mu tidak menelpon apanya? Dizya bilang ia menelpon mu sampai sepuluh kali dan kau abaikan"


Kai meraih ponselnya dan melihat ada sepuluh panggilan tidak terjawab di ponselnya.


"Maaf aku sibuk sekali hari ini"


"Besok biar aku saja yang menjemput Dizya di bandara ma" kata Deniz.


"Tidak Deniz, biar Hendra yang menjemput Dizya karena kau ada meeting dengan ku dan para kolega kita"


"Baiklah" Deniz terlihat kecewa.


"Kai bagaimana proyek tambang kita apa sudah beres semua dan bisa di mulai?" Tanya tuan Aska.


"Sudah hentikan, jangan membicarakan pekerjaan di meja makan keluarga" nyonya Raya terlihat kurang senang jika di saat berkumpul masih ada yang bicara pekerjaan.


"Begitulah Nara, papa dan Kai selalu saja membahas pekerjaan"


Nara tersenyum dan memandang Kai.


"Baiklah kalau begitu Kai ke kamar dulu ma, pa"


"Baiklah beristirahatlah" kata papa


Nara mengikuti langkah Kai menaiki anak tangga menuju lantai dua. Malam ini keduanya akan tidur di kamar Kai dulu sewaktu masih remaja.


"Lihat ini kamar ku dulu" kata Kai sembari mengedarkan pandangannya.


"Rapi sekali apa kau yang membersihkannya?"


"Iya " jawab Nara gugup.


"Kenapa kau selalu saja gugup? Aku tidak mengerti Nara kau jarang sekali bersikap lepas di hadapan ku"


Nara memandang tempat tidur yang ukurannya cukup luas. Di kamar itu tidak ada sofa. Nara bingung ia akan tidur dimana nanti malam.


"Disini kalau malam sangat dingin jadi kau tidur bersama ku di ranjang. Bukankah kita pernah melakukannya satu kali?"


Wajah Nara merah padam, keringat dingin mengalir di dahinya. Ia ingin menghapus memory malam pertamanya dengan Kai.

__ADS_1


__ADS_2