
Nara membuka matanya, ia tersentak mendapati wajah tampan Kai berada di hadapannya. Pria itu sedang tertidur.
Nara bergegas turun dari ranjang dan pergi ke kamarnya sendiri. Jantungnya hampir lepas karena berdebar cepat dan tidak karuan. Nara melihat tangannya yang terkena air panas sudah di obati dan tidak melepuh. Ia memutuskan mandi dan berganti baju.
Nara membuat makan malam untuknya dan Kai. Mereka tertidur dari pagi hingga malam karena kelelahan setelah perjalanan dari rumah orang tua Nara.
"Kau tidak membangunkan ku?" Kai menuruni anak tangga, ia terlihat sudah mandi dan berganti pakaian dengan kemeja.
"Sepertinya anda kelelahan jadi tidak saya bangunkan"
Nara menuang teh hangat ke dalam cangkir kecil dan diberikannya untuk Kai.
"Maaf apa aku mengganggu?" Deniz tiba-tiba muncul.
"Kemarilah" kata Kai seraya melirik Nara.
"Hai kak Nara"
"Hai, apa anda mau teh?"
"Panggil saja aku Deniz"
Nara tersenyum canggung, ia melihat Kai yang cuek.
"Ada apa kemari? Kenapa tidak menelpon?"
"Aku menelpon ke ponsel kakak sudah ada sepuluh kali tapi tidak ada jawaban"
"Aku ketiduran" jawab Kai sembari memandang Nara yang hampir beranjak dari meja makan.
"Mama dan papa mencari kakak, kenapa kemarin tidak jadi ke rumah?"
"Aku ada urusan jadi tidak bisa datang, nanti akan telepon mama"
__ADS_1
"Kakek juga meminta kakak datang ke rumah"
Kai terdiam sesaat laku mengiyakan.
"Nanti aku akan ke rumah kakek"
"Oma Aryani meminta kakak membawa cucu menantunya"
"Nara?"
"Iya"
Kai memandang Nara yang sedang di dapur membuat sup.
"Baiklah"
"Oh ya kak tentang meeting kemarin, kakak tahu bukan jika Deniz tidak berminat menduduki kursi presdir? Deniz akan mendukung kakak berada di posisi itu"
Kai tersenyum, ia menepuk bahu Deniz.
"Kakak jangan bicara begitu, kalau mama tahu mama bisa sakit hati. Kakak adalah anak kesayangan mama jadi jangan sekali-kali mengungkit masalah itu" kata Deniz iba.
Kai, Deniz dan Nara makan malam bersama. Deniz memandang Nara yang duduk berhadapan dengannya.
Gadis itu nampak pemalu, wajahnya cantik dan rambutnya juga indah. Deniz yakin kakak nya bisa jatuh cinta dengan Nara.
Untuk sesaat Deniz pun terkesima dengan Nara.
"Kak aku pergi dulu sampai jumpa di rumah papa dan mama"
"Hati-hati salam buat Dizya"
"Dizya sudah kembali ke Amerika kak"
__ADS_1
"Oh ya? kenapa tidak memberi ku kabar?"
"Mungkin kakak terlalu sibuk akhir-akhir ini. Jika ku sarankan berliburlah beberapa hari agar fokus mu bisa kembali kak" Deniz menepuk bahu Kai. Ia pamit dan pergi dengan mobilnya.
Nara masih duduk di meja makan. Ia terdiam memandang punggung Kai dari belakang. Kai sedang berdiri di dekat pintu mengantar Deniz.
Apa aku tidak salah dengar? Jadi dia bukan anak kandung di keluarga Admaja? Sekarang aku tahu dari mana kristal bening itu bisa muncul di pelupuk matanya saat ia tertidur kemarin. Aku tahu sekarang kesedihan yang terpancar dimatanya selama ini. -Nara-
"Anda tidak menyelesaikan makan?" Nara melihat Kai akan menaiki anak tangga.
"Kau selesaikan makan malam mu, aku mau ke kamar"
Nara menghabiskan makan malamnya dan menyiapkan kembali makanan di piring untuk Kai. Ia mengantarkan ke kamar.
Nara membuka pintu kamar Kai yang tidak terkunci. Kai sedang berganti baju.
"Hei kenapa kau tidak mengetuk pintu?!"
"Maaf saya tidak sengaja, maaf..." Nara gugup dan memalingkan wajahnya.
Kai mengancingkan celananya dengan geram, ia menyambar kaos polos berwarna hitam dan mengenakannya dengan cepat.
"Ada apa?"
"Anda tadi tidak menyelesaikan nakan malam jadi aku bawakan kemari, permisi"
Nara bergegas kabur ke kamarnya. Ia geli sendiri dengan adegan tadi. Ia ingin tertawa melihat wajah Kai yang panik.
_______________
Jangan lupa dukung juga Audiobook nya ya,
like, komen dan vote beri bintang 5 ya readers.
__ADS_1
terimakasih 🙏❤️