
Raya bersiap untuk memulai kegiatannya di atas bus pariwisata. Ia menyempatkan untuk makan pagi terlebih dahulu sebelum rombongan siap.
"Raya ini aku membawakan mu camilan" Kata Ervan seorang pria muda seusia Raya. Ervan memiliki darah campuran yang membuatnya terlihat tampan. Pria itu menaruh hati pada Raya, tapi sebaliknya Raya sering menghindari Ervan.
"Terimakasih Van tapi lain kali kau jangan repot"
"Tidak repot sama sekali, aku malah senang jika kau yang merepotkanku"
"Van aku pergi dulu ya, bye..." Raya menyambar tasnya dan bergegas berlari menuju bus yang sudah berisi para turis. Ervan memandangnya dari kejauhan.
"Raya nanti aku jemput!" kata Ervan sembari melambaikan tangannya pada bus yang mulai berjalan pelan.
Raya seperti biasa ia berada di depan dan menyapa para turis. Kali ini tempat yang akan mereka kunjungi adalah pantai dengan pasir putihnya yang indah. Disana para turis akan disuguhi pemandangan pantai dan stand makanan serta bisa juga berselancar.
Raya melirik kepada pria yang duduk di pojokan. Pria itu selalu tidak memperhatikan ketika Raya bicara. Ia memandang keluar melalui kaca jendela bus. Setiap hari ia mengenakan kaca mata hitam, topi hitam dan juga masker. Raya belum pernah tau wajahnya. Pria itu juga tidak tampak berbincang dengan turis lain. Ia lebih banyak diam.
"Tunggu....." Raya menahan pria asing yang akan turun dari bus. Pria itu menghentikan langkahnya tapi ia tidak menoleh ke arah Raya.
"Maaf tuan, aku terpaksa bicara padamu karena ku lihat kau berbeda dengan turis lain. Kau terlihat tertutup dan menyendiri. Apa kau kurang senang dengan pelayanan dari agen kami?" Pria itu diam dan tidak mau bicara dengan Raya.
__ADS_1
"Baiklah aku tidak tahu apa tujuanmu ikut di wisata ini tapi semoga kau baik-baik saja dan hari mu menyenangkan selama bersama dengan kami menjelajahi tempat indah di sini"
Raya berjalan pergi meninggalkan pria misterius yang terus memandangnya.
Raya memegang kamera dan mengabadikan momen ketika para turis bersendau gurau di bibir pantai dan berfoto di tempat menarik. Tak lupa Raya juga membidikan kameranya ke arah pria misterius yang berdiri mematung di pinggir pantai. Pria itu terlihat menatap lautan lepas. Entah apa yang sedang di pikirkannya.
"Hai Raya!" Ervan datang menghampiri Raya di pantai. Ervan adalah pemilik agen tempat Raya bekerja. Jadi ia bisa seenakanya mendekati Raya di jam kerja.
"Ayo kita berfoto berdua" ajak Ervan.
"Tidak mau, memang siapa yang akan mengambil gambar?"
"Ah mudah saja minta tolong pada salah satu turis itu saja" Ervan mengedarkan pandangannya dan...
"Van sudahlah yang lain saja!" kata Raya, ia yakin pria itu tidak akan mau mengambil gambar untuk Raya dan Ervan.
Di luar dugaan Raya, pria itu meraih kamera dan mengambil gambar Raya dan Ervan.
"Terimakasih" kata Raya sembari memandang wajah pria itu. Entah kenapa Raya merasa tidak asing dengan dengannya.
__ADS_1
Perjalanan berlanjut sampai malam. Acara di tutup dengan makan dan minum di sebuah restoran ternama. Pria itu menghilang, Raya tidak melihatnya di manapun. Raya mencari di toilet juga tidak nampak.
Sampai acara penutupan selesai pria misterius itu tidak muncul. Raya menelpon agennya untuk meminta data si pria tapi percuma karena data pribadi setiap turis di rahasiakan dan tidak bisa di bocorkan pada setiap orang.
"Bisakah aku tahu namanya?" tanya Raya di telepon.
"Namanya? baiklah namanya adalah....Tan"
"Tan?!!"
Raya menutup telepon dan segera berlari keluar restoran. ia mencari pria itu. Tidak mungkin dia adalah Tan. Sudah pasti itu Aska. Dari perawakannya saja mereka jelas berbeda. Tan memiliki tinggi di atas rata-rata sedang pria misterius itu nampak menjulang dan tegap. Kulit Tan tidak begitu putih sementara pria itu kulitnya putih. Raya bisa melihat dari kulit telapak tangannya.
Aska, kau disini? apa kau mencariku?
"Raya!" Ervan mengejar langkah Raya.
"Van bantu aku mencarinya, ia ada disini!"
"Siapa? kau mencari siapa Raya?"
__ADS_1
"Tuan muda ada disini"
"Tuan muda?" Ervan mengerutkan keningnya.