
Rama mengejar Raya dan meminta Raya untuk menerima kalung pemberiannya.
"Ayolah Raya, ini hanya sekedar tanda persahabatan saja"
Raya memandang Rama, ia merasa tidak tega dengan pria baik itu. Raya akhirnya menerima pemberian Rama.
"Baiklah aku menerima sebagai tanda persahabatan kita. Terimakasih ya .."
Rama mengangguk senang. Meski sebenarnya ia membeli kalung itu sebagai bentuk cintanya pada Raya. Tapi Rama memahami situasi dan akan mendekati Raya secara halus saja.
"Kalau begitu kita makan dulu, setelah itu aku antar kau pulang"
Raya masih terlihat bimbang. Ia tahu Rama menyiapkan semua kejutan itu pasti untuk menyatakan perasaannya. Tapi Raya saat ini benar-benar belum bisa melupakan Aska.
"Kenapa? mau menolak lagi? Raya ...ini kan cuma makan malam. Tidak ada yang spesial kok"
"Baiklah.."
Keduanya melanjutkan makan malam bersama.
***
Aska sampai di rumah, ia langsung ke kamarnya dan melepas jasnya. Dengan kesal Aska membanting jasnya ke lantai. Ia melepas dasinya dengan kasar.
Rasanya kesal sekali melihat Raya berdua-duaan dengan Rama. Dasar gadis plin plan. Dia itu bodoh atau belagak lugu. Kenapa dia tidak berjuang mendekatiku tapi malah seenaknya mendekati temanku!.
Tuk..tuk
Suara pintu kamar Aska di ketuk. Aska dengan kesal membuka pintu kamarnya. Ternyata mamanya membawakan sup hangat untuknya.
"Tadi kau tidak makan malam jadi mama bawakan sup hangat ini, dimakan ya sayang"
"Oh makasih ma..." Aska menerima nampan berisi semangkuk sup iga kesukaannya. Ia menutup pintu kembali setelah mamanya pergi.
"Ada apa ma?" tanya Tuan Admaja.
__ADS_1
"Aska pa sepertinya ia sedang kesal"
"Sudah biarkan dulu, putramu sudah dewasa. Ia pasti kesal dengan masalah di kantor"
"Apa papa bisa membantu Aska?"
"Membantu apa ma?"
"Ya menyelesaikan masalah di kantor"
"Hahaha! Aska sudah dewasa ma ia memang harus berlatih menyelesaikan masalah. Itu akan membuatnya semakin matang dan disegani"
Ariani mengangguk, ia menyadari putranya adalah anak Bramantyo Admaja. Calon pewaris Admaja Group yang besar itu. Kali ini Ariani tidak bisa ikut campur karena Bram lebih tahu masalah seperti ini.
***
Paginya di kantor, Raya sedang berada di toilet. Ia berdiri di depan cermin besar dan memandang kalungnya. Tampak cantik simbol R dikalungnya itu.
Sementara di ruang kerjanya Aska sedang uring-uringan karena sejak pagi memasang dasi tidak bisa serapi biasanya.
"Kau mau membantuku mengenakan benda ini? enak saja nanti kalau ada yang melihat kita bisa salah paham dikira kita kelainan!"
Tan terlihat berpikir, sepuluh menit lagi meeting besar dimulai di ruang utama. Tan tiba-tiba keluar ruangan, Ia menuju meja kerja Raya.
"Raya kau ikut denganku sebentar" kata Tan.
Raya bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Tan. Tan membawanya ke ruang kerja Aska.
"Tunggu tuan, apa Tuan Aska memanggilku?"
"Tidak"
"Lalu untuk apa kau membawaku ke ruang kerjanya?!"
"Kau bisa memasang dasi?"
__ADS_1
"Dasi? untuk apa? kami staff wanita tidak perlu mengenakan dasi bukan?"
"Bukan kau tapi tuan muda"
"Maksudnya?"
"Mood tuan muda sedang tidak bagus, dari kemarin ia marah terus. Sampai pagi ini pun ia tidak berhasil memasang dasi sendiri. Jadi kau bantu pasangkan dasi untuk tuan muda"
"Apa?! kenapa bukan kau saja?!" Raya berbalik badan dan hampir melangkah pergi. Tan segera menghalangi Raya.
"Tuan muda tidak mau aku membantunya, ia taku jika ada yang melihat kami nanti bisa salah paham"
"Hahahahaha!" tawa Raya pecah mendengar kepolosan kedua pria itu.
Dasar bodoh! dari dulu tidak berubah juga.
Raya terpaksa mengikuti ide gila tuan asisten. Raya memandang dari kejauhan wajah tampan Aska yang memang sedang terlihat kesal.
"Kenapa kau bawa dia kemari Tan?"
"Tuan muda meeting tinggal sepuluh menit lagi akan dimulai. Anda tidak mau saya memasangkan dasi untuk anda jadi saya bawa Raya kemari"
"Kenapa harus dia?"
"Kalau tuan muda tidak mau yasudah" Raya hampir berbalik pergi. Tan menahannya drngan wajah memohon.
Akhirnya Raya menyerah dan melanjutkan kegilaan itu. Ia mendekati Rama dan berjinjit untuk mengikat dasi di leher Rama.
Lihat dia! dasar bodoh dari dulu tingginya sama saja. Apa dia kurang gizi. -Aska-
Raya kesulitan mengikat dasi itu. Tingginya dan Aska selisih jauh. Raya meraih boks bekas kertas di sudut ruangan kerja Aska. Raya mengambilnya dan meletakan persis di depan kaki Aska. Lalu Raya naik ke atas boks itu sehingga tingginya dan Aska sejajar.
Raya mulai mengikat dasi dengan rapi. Wajah mereka dekat sekali sampai seperti tidak berjarak. Raya bisa merasakan hembusan nafas halus Aska.
Seelesai dengan urusan dasi Raya langsung kembali ke meja kerjanya. Seharian itu wajah Aska memerah. Entah karena senang, malu atau bahagia. Sama saja yang jelas moodnya kembali membaik setelah insiden dasinya.
__ADS_1