
Raya menyiapkan anak-anak untuk bertemu kakek dan nenek mereka. Raya sering bercerita pada ketiga anaknya betapa baiknya kakek dan nenek mereka.
"Lalu kenapa kakek dan nenek tidak main kemari ma?" tanya Kai yang sudah lebih mengerti di banding ke dua adiknya.
"Kakek sangat sibuk sayang, sama seperti papa, jadi kita saja yang ke rumah kakek ya"
"Rumah kakek seperti apa ma?" Kai terlihat lebih penasaran sementara Deniz dan Dizya yang belum paham, mereka asyik dengan mainan masing-masing.
"Rumah kakek seperti istana sayang, sangat bagus dan luas. Pemandangannya juga indah, taman bunga punya nenek luas sekali. Ada kolam ikan koi yang besar di halaman"
"Kenapa kita tidak tinggal di rumah kakek saja ma?"
"Tidak sayang, kita punya rumah sendiri disini. Bukankah rumah kita juga bagus? papa memberikan rumah indah ini untuk kita tempati bersama"
"Iya ma...."
__ADS_1
Aska terlihat keluar dari ruang kerjanya bersama Tan. Keduanya seperti sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting.
"Raya kau bawa anak-anak ke rumah papa dan mama, aku ada pekerjaan yang harus ku urus segera"
"Baiklah sayang tapi...." Raya belum selesai bicara Aska sudah beranjak pergi di iringi Tan memasuki mobilnya. Mobil melaju meninggalkan halaman rumah.
"Anak-anak ayo kita berangkat, papa ada pekerjaan jadi tidak bisa ikut"
Raya pergi berkunjung ke rumah mertuanya dengan ketiga anaknya. Saat mobil memasuki pelataran rumah mewah keluarga Admaja, Raya merasa hatinya berdesir. beberapa tahun lalu berbagai kejadian tidak mengenakkan ia lalui bersama Aska ketika mereka memperjuangkan cinta yang tidak mendapat restu.
Bibi Jang nampak menyambut di depan rumah utama. Matanya berkaca-kaca, wajah tuanya terlihat senang saat Raya membawa ketiga anaknya turun dari mobil dan berjalan menghampirinya. Raya dan bibi Jang saling berpelukan melepas rindu.
"Nona akhirnya kau ingat juga dengan rumah ini"
"Bibi jangan bicara begitu, mana mungkin aku lupa, hanya saja saat ini adalah waktu yang tepat untuk aku kemari bersama anak-anak"
__ADS_1
Bibi Jang mengajak tamu istimewa itu memasuki rumah. Nyonya Ariani yang terlihat selesai bersiap segera menghambur memeluk ketiga cucunya. Wajahnya tuanya masih terlihat cantik dan tetap sama seperti dulu. ia tetap hangat dan baik hati, tidak ada yang berubah darinya. Raya berharap jika ada perubahan sikap itu adalah tuan besar. Raya berdebar, ia merasa ciut nyali bertemu tuan besar.
Tuan besar merasa Raya telah merebut putra tunggalnya yang menjadi harapan besarnya. Semoga saja, ia akan bersikap baik padaku kali ini. Batin Raya.
"Kakek....!" Kai berlari diikuti si kembar menuju tuan Bram yang menuruni anak tangga terakhir. Ia menyandarkan tongkatnya dan memeluk si kembar. Tapi yang membuat hati Raya perih adalah tuan besar tidak menghiraukan Kai.
Raya mencoba berpikir positif, mungkin ia ingin melepas rindu dulu dengan si kembar lalu baru dengan Kai.
Kai yang mencoba mencuri perhatian dari kakeknya akhirnya menyerah. Ia terdiam karena kakeknya tidak sekalipun menatap wajahnya sedari tadi.
Kai berjalan menuju ibunya, Raya mencoba menguatkan hatinya. Nyonya Ariani menghibur Kai, ia menggendong cucunya itu dan memberikannya hadiah. Kai terlihat senang ia tertawa bersama neneknya dan si kembar tetap asyik bermain dengan sang kakek. Sampai jam pulang pun kakek tidak melirik pada Kai.
Raya menghela napas. ia meraih tangan Kai dan berpamitan. Sopir menggendong Deniz dan Dizya masuk kedalam mobil. Sementara Raya dengan wajah kecewanya menggendong Kai dan mencium kening anaknya. Raya membesarkan hati anaknya agar tidak trauma bertemu kakeknya.
Di sepanjang perjalanan pulang, ada yang terasa mengganjal di hati Raya. Ia tidak terima jika Kai di sisihkan, biar bagaimanapun ia juga anak Raya dan Aska.
__ADS_1