
Rama ikut bertamu keluarganya ke rumah Aska. Tuan Bram memanggil keluarga itu untuk membicarakan bisnis mereka. Bisnis keluarga Rama dibawah kendali Admaja Group. Orang tua Rama sering berkunjung ke rumah itu jika tuan besar memanggil mereka.
Tuan Bram dan nyonya Ariani menjamu keluarga Rama di ruang makan. Rama terkejut mendapati Raya berada disana terlebih dengan seragam pelayan. Raya membawa mangkuk besar berisi sup daging kesuakaan tuan besar. Rama terlihat kesal. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Aska. Tapi yang di cari sama sekali tak nampak batang hidungnya.
Kemana baj*ng*an itu kenapa Raya bisa jadi pelayan di rumahnya?!
Rama kesal sekali dan tuan Bram bisa melihat raut wajah Rama yang marah karena mengetahui Raya menjadi pelayan di rumah itu. Tuan Bram tahu Aska dan Rama akan menyukai gadis yang sama. Sejak kecil mereka suka berebut mainan yang sama dan seperti itu juga setelah dewasa mereka memperebutkan gadis yang sama.
Tuan Bram tersenyum kecil menikmati permainan ini.
"Rama...kenapa kau tidak makan?" tuan Bram sengaja memancing Rama agar lebih kesal lagi.
"Tidak tuan, saya kenyang"
"Rama!" ayah Rama melirik marah ke arah putranya karena dianggap tidak sopan berbicara begitu pada tuan Bram.
"Sudahlah tidak masalah, anak muda memang begitu" kata tuan Bram.
Selesai jamuan makan malam dan berpamitan pulang, Rama bergegas menelpon Aska. Ia ingin bertemu. Sementara Aska sedang bersama Tan untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan.
Rama menghampiri Aska yang tengan berdiri di dekat mobilnya. Rama memukul wajah Aska.
"Brengsek apa yang kau lakukan pada Raya?!" Rama mencengkram kerah kemeja Aska. Aska menatap Rama tajam seolah ingin menelannya. Tan mencoba menarik Rama yang telah berani memukul tuannya.
__ADS_1
"Biarkan dia Tan"
"Kau pecundang Aska! kau pengecut! lihat apa yang terjadi dengan kau dan Raya. Kau tidak bisa membelanya bukan?!"
Aska terdiam saat ini ia tidak bisa membela dirinya. Yang di katakan Rama benar.
"Jika kau tidak bisa menjaganya, biarkan aku yang menjaganya, bersamaku ia tidak akan menderita"
Bugh! Bugh! ...
Dua kali hantaman tangan Aska mendarat di wajah Rama. Keduanya berkelahi, kali ini Tan memisahkan Aska dan Rama.
"Sudah tuan, tuan Rama sebaiknya anda pergi dari sini" kata Tan tegas. Rama berbalik dan berjalan pergi menuju mobilnya.
Aska pulang sudah larut malam saat seisi rumah sudah tertidur. Tidak ada yang menyambutnya seperti biasanya, ia berjalan menaiki anak tangga. Raya meraih lengan Aska. Gadis itu memandang wajah Aska yang lebam.
"Tuan muda kau kenapa?" tanya Raya cemas.
Aska menepis tangan Raya, gadis itu memundurkan langkahnya menyadari jika ia hanya pelayan di rumah itu. Ia tidak berhak menyentuh tuannya.
Aska bergegas menuju kamarnya. Raya pergi ke rumah samping untuk mengambil kompres dingin. Ia bergegas menyusul Aska dan memberikan kompres itu pada Aska.
"Tuan muda wajahmu terluka, cepat pakai kompres dingin dan ini salep agar lukanya tidak membekas"
__ADS_1
Aska menerima pemberian Raya dengan hati hancur. Gadis itu menderita karenanya tapi ia masih begitu baik dan peduli pada Aska.
Semalaman Aska tidak tidur, ia terduduk di lantai kamarnya menunggu pagi tiba. Ia ingin bicara dengan ayahnya. Begitu ayahnya sudah terbangun dan siap beraktvitas, Aska menemui ayahnya di ruang kerja tuan Bram.
Tuan Bram menatap wajah putranya yang lebam.
"Kau berkelahi?" tanya tuan Bram.
"Bagaimana jika kita membuat kesepakatan pa"
"Apa maksudnu Aska?"
"Aku ingin papa bebaskan Raya dan jangan mengganggunya, sebaliknya papa bisa mengajukan persyaratan padaku"
"Syaratnya mudah papa bilang kau harus bertunangan dengan Shanon".
"Pa Shanon bahkan mengancam akan bunuh diri jika ia bertunangan denganku"
"Oh begitu? rupanya kalian sudah sekongkol membodohi kami ya?"
"Pa, Aska akan menuruti perintah papa asalkan papa bebaskan Raya"
"Kau membela gadis itu? sejak kapan kau berani melawan papa?!" Amarah tuan Bram meledak.
__ADS_1
"Baiklah papa bebaskan dia dan tidak akan mengganggunya tapi kau jauhi dia! jika tidak...tinggalkan rumah ini dan semua fasilitas yang kau miliki dan hiduplah di luar sana tanpa menyandang nama keluarga Admaja!"